Puisi: Keadaan (Karya Abdul Hadi WM)

Puisi “Keadaan” karya Abdul Hadi WM menunjukkan bagaimana manusia sering terseret arus waktu hingga akhirnya merasa lelah dan mempertanyakan makna ...
Keadaan

Surya yang purba juga
Ketika aku membuka jendela
Kemarau bangkit diusik angin pagi
Aku terperanjat tiba-tiba sudah di sini

Dimanakah agenda yang kemarin kutinggalkan?
Dimanakah usia yang kemarin kubiarkan?
Hanya panas tropis, mengibarkan
musim. Gelisah yang dari subuh dilemparkan

Bunga-bungapun sibuk mengurus kelopak, langit terus
Dari bumi, kini hanya dengus
Sesuatu masih terus kukerjakan
Sampai nanti: akupun bosan

1968

Sumber: Horison (Mei, 1970)

Analisis Puisi:

Puisi “Keadaan” karya Abdul Hadi WM menggambarkan perenungan seseorang terhadap waktu, kehidupan, dan rutinitas yang terus berjalan. Penyair menghadirkan suasana kontemplatif melalui gambaran alam, usia, dan aktivitas manusia yang seolah berlangsung tanpa henti.

Puisi ini memakai bahasa yang sederhana tetapi sarat makna filosofis. Pembaca diajak merenungkan bagaimana waktu bergerak begitu cepat hingga manusia sering terkejut pada perubahan hidupnya sendiri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan waktu dan kegelisahan hidup manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema eksistensi, rutinitas, dan kejenuhan hidup.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menyadari perubahan waktu ketika membuka jendela pada suatu pagi. Ia merasa terkejut karena tiba-tiba sudah berada pada keadaan tertentu dalam hidupnya.

Penyair mempertanyakan agenda dan usia yang terasa tertinggal begitu saja. Di tengah panas tropis dan pergantian musim, kehidupan tetap berjalan. Sementara itu, ia terus melakukan sesuatu tanpa henti hingga akhirnya merasa bosan.

Puisi ini menggambarkan manusia yang sibuk menjalani hidup, tetapi sekaligus merasa gelisah dan kehilangan arah di tengah perjalanan waktu.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa waktu bergerak tanpa dapat dihentikan, sementara manusia sering terlambat menyadari perubahan dalam dirinya sendiri.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa rutinitas hidup dapat membuat manusia merasa hampa dan lelah secara batin. Pertanyaan tentang usia dan agenda menunjukkan kegelisahan eksistensial terhadap tujuan hidup.

Selain itu, puisi ini menggambarkan bahwa alam terus berjalan secara alami, sedangkan manusia sering terjebak dalam kebosanan dan keresahan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa reflektif, gelisah, sunyi, dan sedikit muram. Pada bagian akhir, muncul nuansa jenuh dan lelah terhadap kehidupan yang terus berlangsung.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa manusia perlu menyadari perjalanan waktu dan tidak terjebak sepenuhnya dalam rutinitas yang melelahkan.

Puisi ini juga mengingatkan agar manusia lebih memahami makna hidup sebelum waktu berlalu terlalu jauh dan meninggalkan penyesalan.

Imaji

Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
  • Imaji penglihatan, tampak pada gambaran jendela, kemarau, bunga, dan langit.
  • Imaji perasaan, hadir melalui rasa gelisah, kehilangan, dan kebosanan.
  • Imaji gerak, terlihat pada angin pagi yang mengusik kemarau dan musim yang terus berjalan.
  • Imaji pendengaran, muncul pada kata “dengus” yang memberi kesan bunyi berat dan lelah.
  • Imaji suasana, terasa melalui gambaran pagi tropis yang panas dan penuh kegelisahan.
Imaji-imaji tersebut memperkuat nuansa kontemplatif dalam puisi.

Majas

Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi, pada “kemarau bangkit diusik angin pagi” dan “bunga-bungapun sibuk mengurus kelopak”.
  • Metafora, pada “gelisah yang dari subuh dilemparkan” sebagai lambang kegelisahan hidup.
  • Repetisi, pada penggunaan kata “dimanakah” untuk menegaskan rasa kehilangan dan pertanyaan batin.
  • Simbolisme, pada musim dan usia sebagai simbol perjalanan hidup manusia.
Puisi “Keadaan” karya Abdul Hadi WM merupakan puisi reflektif tentang waktu, kehidupan, dan kegelisahan manusia. Dengan memanfaatkan gambaran alam dan rutinitas sehari-hari, penyair menunjukkan bagaimana manusia sering terseret arus waktu hingga akhirnya merasa lelah dan mempertanyakan makna hidupnya sendiri.

Puisi: Keadaan
Puisi: Keadaan
Karya: Abdul Hadi WM

Biodata Abdul Hadi WM:
  • Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
  • Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
© Sepenuhnya. All rights reserved.