Puisi: Kekurangan bukan Suatu yang Menyenangkan (Karya Hendro Siswanggono)

Puisi “Kekurangan bukan Suatu yang Menyenangkan” karya Hendro Siswanggono merupakan refleksi tentang keterbatasan manusia di tengah luasnya dunia.
Kekurangan bukan Suatu yang Menyenangkan

Kekurangan bukan suatu yang menyenangkan
dunia luas yang tersembunyi
bertahun-tahun lupa hafalan doa
seorang pemikir bebas yang bertanya-tanya

Lebih mudah mengatakan apa saja
semua buku terbuka di mana-mana
tampaknya laut lebih lebar daripada padang sabana
takada jalan mendaki dan takada peta
seluas langit dan riak bintang
segalanya tampak jelas penuh misteri

Suara-suara kurcaci yang ditinggal pergi
timbul tenggelam bersama gelombang
hari-hari pagi yang sunyi

Sumber: Seekor Ular yang Bertukar Rupa (2020)

Analisis Puisi:

Puisi “Kekurangan bukan Suatu yang Menyenangkan” karya Hendro Siswanggono menghadirkan refleksi tentang keterbatasan manusia dalam memahami dunia dan dirinya sendiri. Dengan gaya yang kontemplatif dan simbolik, penyair menggambarkan bagaimana kekurangan bukan hanya kondisi fisik atau materi, tetapi juga berkaitan dengan pencarian makna hidup.

Tema

Tema utama puisi ini adalah keterbatasan manusia dan pencarian makna dalam kehidupan. Puisi ini menyoroti bagaimana kekurangan menjadi bagian dari pengalaman eksistensial.

Puisi ini bercerita tentang seorang individu yang merenungkan kekurangan dalam dirinya, baik dalam pengetahuan, keyakinan, maupun arah hidup. Ia digambarkan sebagai “pemikir bebas” yang terus bertanya-tanya di tengah dunia yang luas namun membingungkan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kekurangan dapat membuka ruang refleksi dan kesadaran, meskipun terasa tidak menyenangkan. Dunia yang tampak luas dan penuh informasi justru bisa membuat manusia semakin merasa tersesat.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini cenderung hening, reflektif, dan sedikit gelisah. Ada rasa kebingungan sekaligus kekaguman terhadap luasnya kehidupan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat diambil adalah bahwa manusia perlu menerima keterbatasannya dan terus mencari makna hidup dengan kesadaran. Kekurangan bukan untuk disesali semata, tetapi dapat menjadi awal dari pemahaman yang lebih dalam.

Imaji

Puisi ini menghadirkan berbagai imaji yang kuat, antara lain:
  • Imaji visual: “laut lebih lebar daripada padang sabana”, “langit dan riak bintang”.
  • Imaji auditif: “suara-suara kurcaci”.
  • Imaji suasana: “hari-hari pagi yang sunyi”.
Imaji tersebut memperkuat kesan luas, misterius, dan penuh perenungan.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “laut”, “langit”, dan “bintang” sebagai simbol keluasan dan ketidakpastian.
  • Hiperbola: penggambaran dunia yang sangat luas dan tak terbatas.
  • Personifikasi: “suara-suara kurcaci yang timbul tenggelam”.
  • Simbolisme: “tak ada peta” sebagai lambang kehilangan arah hidup.
Puisi “Kekurangan bukan Suatu yang Menyenangkan” karya Hendro Siswanggono merupakan refleksi tentang keterbatasan manusia di tengah luasnya dunia. Dengan bahasa yang puitis dan simbolik, penyair mengajak pembaca untuk menerima kekurangan sebagai bagian dari proses pencarian makna hidup. Puisi ini menegaskan bahwa dalam keterbatasan, manusia justru dapat menemukan kedalaman pemahaman.

Hendro Siswanggono
Puisi: Kekurangan bukan Suatu yang Menyenangkan
Karya: Hendro Siswanggono

Biodata Hendro Siswanggono:
  • Hendro Siswanggono lahir pada tanggal 19 Oktober 1951 di Sidoarjo.
© Sepenuhnya. All rights reserved.