Puisi: Kemegahan Kita di Zaman Bahari (Karya Intojo)

Puisi "Kemegahan Kita di Zaman Bahari" karya Intojo menggambarkan perasaan dan aspirasi yang dalam terhadap bangsa dan tanah air Indonesia serta ...
Kemegahan Kita di Zaman Bahari
Teringat tatkala melihat tonil
Airlangga di Kongres Indonesia Raya

Sunyi senyap;
Gaduh lenyap,
Perasaan kita balik kembali,
Kalau terkenang zaman bahari.

O, Dewi,
Ibu Pertiwi,
Bilakah putramu bersatu hati,
Hidup teratur aman kembali,
Tiadakah mereka insyafkan diri,

Bersatu sesama putra Ibu Sejati,
O, Bunda, Retna Juwita,
Sambutlah putramu dari gelap gelita.

Sumber: Pujangga Baru (Agustus, 1937)

Analisis Puisi:

Puisi "Kemegahan Kita di Zaman Bahari" karya Intojo adalah karya sastra yang menggambarkan perasaan dan harapan penyair terhadap bangsa dan tanah airnya di zaman bahari.

Penggunaan Bahasa: Penyair menggunakan bahasa yang sederhana namun kuat untuk menyampaikan pesannya. Bahasa yang digunakan memberikan kesan emosional dan puitis pada puisi.

Zaman Bahari: Ungkapan "zaman bahari" menciptakan latar belakang historis dan kultural dalam puisi. Zaman bahari sering kali diasosiasikan dengan kemegahan dan kebesaran sebuah bangsa yang memiliki kekuatan di lautan.

Sunyi dan Gaduh: Dalam puisi ini, sunyi dan gaduh adalah dua konsep yang bertentangan. Sunyi mewakili ketenangan dan kedamaian yang hilang, sedangkan gaduh mencerminkan kekacauan dan kerusuhan yang mungkin terjadi dalam zaman bahari.

Dewi dan Ibu Pertiwi: Penyair merujuk kepada Dewi dan Ibu Pertiwi sebagai simbol bangsa Indonesia. Mereka digambarkan sebagai figur yang menantikan persatuan dan perdamaian dalam bangsa.

Harapan Persatuan: Puisi ini mencerminkan harapan penyair terhadap persatuan dan perdamaian di antara warga negara Indonesia. Penyair mengekspresikan keinginan agar putra-putri bangsa dapat bersatu dan menjaga ketertiban dan keamanan.

Pesan Kehati-hatian: Meskipun puisi ini penuh dengan harapan, penyair juga memberikan pesan tentang pentingnya kehati-hatian dan kesadaran diri dalam menjaga persatuan dan kedamaian. Kecerdasan kolektif dan insaf diri diperlukan untuk mencapai kemegahan yang diinginkan.

Puisi "Kemegahan Kita di Zaman Bahari" adalah ekspresi dari perasaan harapan dan keinginan penyair untuk melihat kemegahan dan persatuan bangsanya di masa depan. Puisi ini menggambarkan perasaan dan aspirasi yang dalam terhadap bangsa dan tanah air Indonesia serta pentingnya menjaga nilai-nilai persatuan dan kedamaian dalam masyarakat.

Puisi: Kemegahan Kita di Zaman Bahari
Puisi: Kemegahan Kita di Zaman Bahari
Karya: Intojo

CATATAN:
  • Intojo (bernama lengkap Raden Intojo) lahir di Tulungagung, Jawa Timur, 27 Juli 1912
  • Intojo sering menggunakan nama samaran, di antaranya Heldas, Rhamedin, Ibnoe Sjihab, Hirahamra, Indera Bangsawan, dan Imam Soepardi.
  • Intojo juga dikenal sebagai "Bapak Soneta Sastra Jawa Modern".
  • Intojo meninggal dunia pada tahun 1965.
© Sepenuhnya. All rights reserved.