Puisi: Kepada Ki Joko Edan (Karya Gunoto Saparie)

Puisi "Kepada Ki Joko Edan" membawa pembaca ke dalam atmosfer gamelan dan musik Jawa, serta suasana malam yang mendalam.
Kepada Ki Joko Edan

ketika gamelan slendro mengalun
menggema di lepas tengah malam
tiba-tiba sepi pun terbantun
rawan suara pesinden menggaris kelam

Sumber: Penyair Kamar (2017)

Analisis Puisi:

Puisi "Kepada Ki Joko Edan" karya Gunoto Saparie adalah sebuah karya sastra yang singkat, namun penuh makna dan memuat elemen budaya Jawa yang kental.

Penghargaan terhadap Gamelan dan Slendro: Puisi dimulai dengan gambaran bunyi gamelan slendro yang mengalun tengah malam. Gamelan dan skala slendro adalah bagian integral dari musik Jawa tradisional, dan pemilihan ini mencirikan unsur budaya dalam puisi. Penggunaan gamelan dan slendro menciptakan atmosfer yang khas dan menggambarkan budaya Jawa.

Kedalaman Malam sebagai Latar Belakang: Tema malam menghadirkan nuansa misteri dalam puisi ini. Malam sering kali dianggap sebagai waktu ketika perasaan manusia bisa menjadi lebih dalam dan kompleks. Puisi ini mungkin mencoba untuk menggambarkan suasana hati yang mendalam atau perenungan di tengah malam.

Pesinden dan Gema Suara: Puisi menyebutkan pesinden dan gema suaranya. Pesinden adalah penyanyi dalam pertunjukan wayang kulit atau musik gamelan Jawa. Gema suara pesinden mungkin merujuk pada kualitas suara pesinden yang beresonansi di malam yang sepi. Hal ini menunjukkan betapa suara pesinden, yang merupakan bagian penting dari musik Jawa, memiliki dampak mendalam bahkan di tengah malam yang sunyi.

Pertimbangan Pribadi atau Sejarah Tersembunyi: Puisi ini singkat dan terbuka untuk interpretasi. Penyair mungkin memiliki pertimbangan pribadi atau sejarah tersembunyi di balik puisi ini. Bisa jadi, ada cerita atau kenangan yang menjadi inspirasi untuk puisi ini.

Penekanan pada Kesunyian dan Kesendiriannya: Penekanan pada kesunyian dan ketenangan malam bisa mencerminkan perasaan kesendirian atau refleksi mendalam. Malam yang sunyi dapat menjadi momen di mana seseorang memiliki waktu untuk merenungkan berbagai aspek dalam hidupnya.

Puisi "Kepada Ki Joko Edan" membawa pembaca ke dalam atmosfer gamelan dan musik Jawa, serta suasana malam yang mendalam. Puisi ini menciptakan nuansa misteri dan merenungkan yang mencerminkan budaya dan suasana hati yang mendalam. Meskipun puisi ini singkat, ia memiliki daya tarik budaya dan makna yang menarik untuk diinterpretasikan.

Foto Gunoto Saparie
Puisi: Kepada Ki Joko Edan
Karya: Gunoto Saparie

BIODATA GUNOTO SAPARIE:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.

Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004). Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015).

Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta, dan Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah. Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.