Puisi: Kepada Nenek (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Kepada Nenek” karya Gunoto Saparie menghadirkan suasana desa yang sederhana melalui ingatan tentang rumah nenek, suara azan, langgar, dan ...
Kepada Nenek

kukenang rumahmu dulu di desa
kuingat kerlip sentir di beranda
ada bayangmu jatuh di pagar bambu
begitu fana serpihan-serpihan waktu

kukenang suasana kelam dan sepi
ada desir angin di dedaunan 
kau pun tertatih berwudu di perigi
suara azan tinggal penghabisan

kudengar doa dan wirid di langgar
Tuhan mendadak begitu dekat
ada kenangan tergambar samar
aku pun selalu datang terlambat

2020

Analisis Puisi:

Puisi “Kepada Nenek” karya Gunoto Saparie merupakan puisi yang penuh kenangan, kerinduan, dan nuansa religius. Penyair menghadirkan suasana desa yang sederhana melalui ingatan tentang rumah nenek, suara azan, langgar, dan kegiatan ibadah yang dilakukan dengan khusyuk.

Melalui larik-larik yang lembut dan melankolis, puisi ini menggambarkan hubungan emosional antara cucu dan nenek, sekaligus menghadirkan kesadaran tentang waktu yang terus berlalu.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kenangan dan kerinduan terhadap sosok nenek. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kesederhanaan hidup desa, religiusitas, dan perjalanan waktu.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang rumah neneknya di desa. Penyair mengingat suasana rumah yang diterangi sentir di beranda dan bayangan nenek di pagar bambu.

Kemudian penyair menggambarkan suasana malam yang sunyi dan religius. Sang nenek berjalan tertatih untuk berwudu di perigi sebelum mendengar suara azan.

Penyair juga mengenang doa dan wirid di langgar yang membuat Tuhan terasa sangat dekat. Namun pada bagian akhir, muncul penyesalan karena dirinya merasa “selalu datang terlambat”, seolah menyadari bahwa waktu dan kesempatan bersama nenek telah berlalu.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kerinduan terhadap masa lalu yang sederhana dan penuh nilai spiritual.

Nenek dalam puisi bukan hanya sosok keluarga, tetapi juga simbol kebijaksanaan, kesederhanaan, dan kedekatan kepada Tuhan. Penyair seolah ingin menunjukkan bahwa kehidupan desa yang sederhana justru menyimpan ketenangan dan nilai religius yang mendalam.

Ungkapan “aku pun selalu datang terlambat” menyiratkan penyesalan karena manusia sering baru menghargai kenangan dan orang-orang tercinta setelah semuanya berlalu.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
  • Haru dan melankolis.
  • Tenang serta religius.
  • Sunyi dan penuh kenangan.
  • Reflektif dan menyentuh.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Beberapa amanat yang dapat diambil dari puisi ini yaitu:
  • Hargailah keluarga dan orang-orang tercinta selagi masih ada kesempatan.
  • Kehidupan sederhana dapat menghadirkan ketenangan dan kedekatan spiritual.
  • Jangan terlambat menyadari nilai kenangan dan kasih sayang keluarga.
  • Kedekatan kepada Tuhan dapat ditemukan dalam kesederhanaan hidup.

Imaji dalam Puisi

Puisi ini memiliki imaji yang kuat dan lembut.
  • Imaji Visual: Pembaca dapat membayangkan rumah desa, sentir di beranda, pagar bambu, dan nenek yang berjalan tertatih. Contoh: “kuingat kerlip sentir di beranda” dan “kau pun tertatih berwudu di perigi”.
  • Imaji Auditori: Puisi menghadirkan suara azan, doa, dan wirid di langgar. Contoh: “suara azan tinggal penghabisan”.
  • Imaji Gerak: Terlihat dari gambaran nenek berjalan tertatih menuju perigi.
  • Imaji Perasaan: Puisi ini menghadirkan rasa rindu, haru, dan penyesalan. Contoh: “aku pun selalu datang terlambat”

Majas dalam Puisi

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “Serpihan-serpihan waktu” menjadi metafora bagi kenangan masa lalu yang tersisa sedikit demi sedikit.
  • Personifikasi: Waktu seolah digambarkan dapat pecah menjadi serpihan. Contoh: “begitu fana serpihan-serpihan waktu”.
  • Simbolisme: Sentir melambangkan kesederhanaan hidup desa. Langgar dan azan melambangkan religiusitas dan kedekatan kepada Tuhan. Perigi melambangkan kesucian dan persiapan spiritual.
  • Hiperbola: Ungkapan “Tuhan mendadak begitu dekat” digunakan untuk memperkuat suasana spiritual dalam puisi.
Puisi “Kepada Nenek” karya Gunoto Saparie merupakan puisi yang penuh kerinduan, kenangan, dan nuansa religius. Melalui gambaran kehidupan desa yang sederhana, penyair mengajak pembaca untuk menghargai keluarga, mengenang masa lalu, dan menyadari pentingnya kedekatan spiritual sebelum semuanya terlambat.

Foto Gunoto Saparie Februari 2020
Puisi: Kepada Nenek
Karya: Gunoto Saparie

GUNOTO SAPARIE. Lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal Sekolah Dasar Kadilangu Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, dan Akademi Uang dan Bank Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Pendidikan informal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab Gemuh Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab Gemuh Kendal.

Selain menulis puisi, juga mencipta cerita pendek, novel, esai, kritik sastra, dan artikel/opini berbagai masalah kebudayaan, pendidikan, agama, ekonomi, dan keuangan.

Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004) dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya, Jakarta, 2019).

Ia pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015).

Puisi-puisinya terhimpun dalam berbagai antologi bersama para penyair Indonesia lain, termasuk dalam Kidung Kelam (Seri Puisi Esai Indonesia - Provinsi Jawa Tengah, 2018).

Saat ini ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta) dan Tanahku (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang). Sempat pula bekerja di bidang pendidikan, konstruksi, dan perbankan. Aktif dalam berbagai organisasi, antara lain dipercaya sebagai Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah (FKWPK), Pengurus Yayasan Cinta Sastra, Jakarta, dan Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah.

Sebelumnya sempat menjadi Wakil Ketua Seksi Budaya dan Film PWI Jawa Tengah dan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Jawa Tengah. Sering diundang menjadi pembaca puisi, pemakalah, dan juri berbagai lomba sastra di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.