Puisi: Kesaksian Seorang Murid (Karya Mario F. Lawi)

Puisi “Kesaksian Seorang Murid” karya Mario F. Lawi menghadirkan sosok yang sangat dekat dengan kisah kehidupan Yesus Kristus melalui sudut pandang ..

Kesaksian Seorang Murid

Jubahnya merah terkebas kemarau sebelum terkulai dalam tangan seorang perempuan. Enggan ia menengadah ketika berjalan sebab hidup yang menancapkan diri tak pernah bisa dipanggul. Tingkap yang terbuka menurunkan orang lumpuh di atas sepasang kakinya yang fasih menapak dan hampir tak lagi ia gunakan. Tilam yang tergelar telah sempurna menjadi alas bagi pinggan dan pialanya. Ia memang masih menapak dalam bentuk ketika si lumpuh mulai berjalan dan para tahir sekejap melupakannya. Langit di atas menjadi atap yang terpuji ketika menyembulkan tiang-tiang awan. Laut di bawah menjadi kesedihan yang lengkap ketika menyembunyikan duka nestapa Yunus. Mulailah ia mengambang di tengah-tengah dengan kaki yang terkepung dua belas bintang dan mahkota matahari yang lembut dan keemasan. Para nelayan yang sebentar lagi menebar jala sekejap tersadar bahwa ia tak benar-benar menapak ketika melaju di atas air sambil menjaga agar batu karang yang turut tidak tenggelam.

Ia menumbuhkan rumput bagi sisi kambing yang gersang, mengusap tanduk di kepala kemarau yang lembut dan mengisi penuh anggur ke dalam tempayan tuan pesta yang kosong. Ia menyisihkan air dari tempayan pembasuhan untuk menenggelamkan kota ketika para pembangkang mencoba mengacungkan pedang. Buluh yang terkulai memang tidak akan dipatahkan sebab ia menciptakan tanpa menyentuh dan melenyapkan hanya dengan memejam. Rohnya ia tinggalkan dalam tubuh pelacur terakhir yang disentuhnya sebelum ia memilih meninggikan diri untuk menegaskan bahwa kenisah tiga puluh tiga tahun yang rubuh memang dapat dibangun kembali oleh tukang bangunan yang cermat dan batu penjuru yang tepat hanya dalam tiga hari.

Naimata, 2013

Sumber: Lelaki Bukan Malaikat (Gramedia Pustaka Utama, 2015)

Analisis Puisi:

Puisi “Kesaksian Seorang Murid” karya Mario F. Lawi merupakan puisi religius yang sarat simbol dan narasi spiritual. Puisi ini menghadirkan sosok yang sangat dekat dengan kisah kehidupan Yesus Kristus melalui sudut pandang seorang murid yang menyaksikan mukjizat, penderitaan, dan kebangkitan-Nya.

Dengan bahasa puitis yang padat dan simbolis, penyair menggabungkan berbagai kisah dalam kitab suci menjadi satu aliran refleksi tentang kasih, pengorbanan, dan keilahian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah spiritualitas dan pengorbanan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema iman, mukjizat, kasih, dan kebangkitan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kasih dan pengorbanan merupakan inti dari kehidupan spiritual.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa sosok ilahi hadir bukan melalui kekuasaan yang keras, melainkan melalui kelembutan, pengampunan, dan pengorbanan diri.

Selain itu, kebangkitan “kenisah tiga puluh tiga tahun” melambangkan kemenangan harapan dan kehidupan atas penderitaan dan kematian.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa khidmat, agung, reflektif, dan spiritual. Beberapa bagian juga menghadirkan nuansa haru dan penuh kekaguman.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa kasih, pengampunan, dan pengorbanan merupakan nilai penting dalam kehidupan manusia.

Puisi ini juga mengajarkan bahwa kekuatan sejati tidak selalu hadir dalam kekerasan, tetapi dalam kelembutan hati dan ketulusan membantu sesama.

Imaji

Puisi ini memiliki banyak imaji yang kuat, antara lain:
  • Imaji penglihatan, tampak pada jubah merah, tiang-tiang awan, laut, nelayan, dan mahkota matahari.
  • Imaji gerak, terlihat pada sosok yang berjalan di atas air, nelayan yang menebar jala, dan orang lumpuh yang mulai berjalan.
  • Imaji sentuhan, tampak pada tindakan mengusap tanduk dan menyentuh pelacur terakhir.
  • Imaji religius, muncul melalui simbol langit, bintang, mukjizat, dan kebangkitan.
Imaji-imaji tersebut membuat puisi terasa megah dan penuh kekuatan spiritual.

Majas

Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora, pada “mahkota matahari” dan “kenisah tiga puluh tiga tahun” yang melambangkan keilahian dan tubuh manusia.
  • Simbolisme, penggunaan laut, jubah merah, dua belas bintang, dan batu penjuru sebagai simbol religius.
  • Personifikasi, pada “kepala kemarau yang lembut” dan “laut menjadi kesedihan yang lengkap”.
  • Alusi, tampak pada berbagai rujukan kisah dalam kitab suci, seperti Yunus, mukjizat air menjadi anggur, dan berjalan di atas air.
  • Hiperbola, pada penggambaran mukjizat dan kekuatan spiritual tokoh utama.
  • Paradoks, pada gagasan menciptakan tanpa menyentuh dan melenyapkan hanya dengan memejam.
Puisi “Kesaksian Seorang Murid” karya Mario F. Lawi merupakan puisi religius yang kaya simbol dan makna spiritual. Melalui gambaran mukjizat, pengorbanan, dan kebangkitan, penyair menghadirkan refleksi mendalam tentang kasih, iman, dan harapan yang terus hidup dalam perjalanan manusia.

Mario F. Lawi
Puisi: Kesaksian Seorang Murid
Karya: Mario F. Lawi
Biodata Mario F. Lawi:
  • Mario F. Lawi lahir pada tanggal 18 Februari 1991 di Kupang, NTT.
© Sepenuhnya. All rights reserved.