Puisi: Ketika Cangkul Petani Terayun (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Ketika Cangkul Petani Terayun” karya Gunoto Saparie menggambarkan kehidupan petani yang penuh kerja keras, kesederhanaan, dan perjuangan ...
Ketika Cangkul Petani Terayun

masih terlalu pagi, tuan
ketika cangkul petani terayun
tubuh legam basah keringat 
tanah hitam subur juga liat

ketika matahari mulai meninggi
ketika waktu istirahat tiba
ada makanan dan minuman sederhana
ada harapan dan doa dari sang istri

ketika cangkul petani terbantun
oleh tenaga lelaki desa perkasa 
angin kering sepoi menerpa
membawa debu dan penantian

telah hampir senja, tuan
ketika cangkul itu kembali terayun
kerja, kerja, kerja, namun belum juga rampung
cita-cita serta keinginan berjatuhan di pematang

2022

Analisis Puisi:

Puisi “Ketika Cangkul Petani Terayun” karya Gunoto Saparie menggambarkan kehidupan petani yang penuh kerja keras, kesederhanaan, dan perjuangan panjang demi mempertahankan hidup. Dengan bahasa yang sederhana namun kuat, puisi ini menjadi penghormatan terhadap kaum petani sekaligus kritik halus terhadap kerasnya realitas sosial yang mereka hadapi.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjuangan dan kerja keras petani dalam menjalani kehidupan. Selain itu, terdapat tema tentang harapan, ketekunan, dan ketidakpastian hasil usaha.

Puisi ini bercerita tentang aktivitas seorang petani sejak pagi hingga senja. Sejak hari masih sangat pagi, petani sudah mulai bekerja mencangkul tanah dengan tubuh yang basah oleh keringat.

Di tengah pekerjaan yang berat, ada jeda sederhana berupa makanan dan minuman dari sang istri, yang menjadi sumber harapan dan kekuatan batin. Namun, hingga senja tiba, pekerjaan belum juga selesai. Semua tenaga telah dicurahkan, tetapi cita-cita dan keinginan justru “berjatuhan di pematang”, menggambarkan kenyataan hidup yang keras dan belum tentu menghasilkan kesejahteraan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini meliputi:
  • “cangkul terayun” → simbol perjuangan hidup yang terus berlangsung.
  • “tubuh legam basah keringat” → pengorbanan fisik kaum petani.
  • “makanan dan minuman sederhana” → kesederhanaan hidup masyarakat desa.
  • “harapan dan doa dari sang istri” → dukungan keluarga sebagai kekuatan utama.
  • “debu dan penantian” → ketidakpastian hasil kerja keras.
  • “cita-cita berjatuhan di pematang” → impian yang sulit tercapai meskipun sudah bekerja keras.
Puisi ini menyiratkan bahwa petani menjadi tulang punggung kehidupan, tetapi sering kali harus hidup dalam perjuangan yang berat dan penuh ketidakpastian.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa adalah penuh perjuangan, sederhana, dan melankolis. Ada nuansa lelah dan pasrah, tetapi juga keteguhan untuk terus bekerja.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan bahwa:
  • Kerja keras petani patut dihargai karena mereka berperan penting dalam kehidupan masyarakat.
  • Kehidupan tidak selalu memberikan hasil yang sebanding dengan usaha, tetapi manusia harus tetap berjuang dan berharap.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat dan nyata:
  • Imaji visual: tubuh legam, tanah hitam, pematang sawah.
  • Imaji gerak: cangkul terayun, angin menerpa.
  • Imaji perasaan: lelah, berharap, menanti.
  • Imaji suasana: pagi desa hingga senja yang melelahkan.

Majas

Beberapa majas yang digunakan:
  • Personifikasi: “cita-cita serta keinginan berjatuhan di pematang”.
  • Repetisi: “kerja, kerja, kerja” untuk menegaskan beratnya perjuangan.
  • Simbolisme: cangkul sebagai simbol perjuangan hidup, pematang sebagai simbol batas harapan dan kenyataan.
  • Metafora: “debu dan penantian” sebagai gambaran hidup yang keras dan penuh ketidakpastian.
Melalui puisi “Ketika Cangkul Petani Terayun”, Gunoto Saparie menghadirkan potret kehidupan petani yang sederhana namun sarat makna. Puisi ini mengajak pembaca untuk menyadari bahwa di balik makanan yang hadir di meja, ada kerja keras, doa, dan pengorbanan panjang para petani yang sering kali hidup dalam keterbatasan dan penantian.

Gunoto Saparie
Puisi: Ketika Cangkul Petani Terayun
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Negeri Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Negeri Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, kolom, dan artikel tentang kesenian, ekonomi, politik, dan agama, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981), Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996), Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), Mendung, Kabut, dan Lain-Lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019), dan Lirik (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2020).

Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).

Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.

Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya. Ia pernah menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif (Jakarta). Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini Gunoto Saparie menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, Ketua Umum Perkumpulan Penulis Indonesia ‘Satupena’ Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah.

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah.
© Sepenuhnya. All rights reserved.