Puisi: Ketika Kapal Merapat di Dermaga (Karya Tri Astoto Kodarie)

Puisi “Ketika Kapal Merapat di Dermaga” karya Tri Astoto Kodarie mengingatkan agar manusia hidup dengan kejujuran, bukan terus mempertahankan ...
Ketika Kapal Merapat di Dermaga

ada yang datang dan pergi
membawa kopor-kopor, gelisah dan keasingan
sebelum segalanya terkemaskan untuk menuju sampai
pernahkah orang-orang itu mengingat asal dan tujuan?

tak pernah terbayangkan orang-orang itu
menggenggam pedih atau nyanyian semesta
dalam gelak tawa atau kebingungan
mencari langit yang menyemaikan segala angan
o, hendak ke manakah mereka?

ketika kapal merapat di dermaga
lampu-lampu telah letih menciptakan bayang
dari reruntuhan sepi dan kegelapan yang menghadang
tapi orang-orang itu tak lelah-lelahnya
membangun harapan dari sisa-sisa pembangkangannya

karena kota telah menjadi lautan
dengan ombak besar dan ikan-ikan yang menggelepar
dan orang-orang itu
tak juga letih memperpanjang kebohongan

Parepare, 1996

Sumber: Hujan Meminang Badai (Akar Indonesia, 2007)

Analisis Puisi:

Puisi “Ketika Kapal Merapat di Dermaga” karya Tri Astoto Kodarie menggambarkan kehidupan manusia yang penuh perjalanan, kegelisahan, dan pencarian makna hidup. Dermaga dan kapal dijadikan simbol perpindahan, harapan, sekaligus keterasingan manusia di tengah kehidupan modern. Dengan nuansa reflektif dan sosial, puisi ini menghadirkan kritik terhadap kehidupan manusia yang terus bergerak tetapi sering kehilangan arah.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup manusia dan kegelisahan sosial. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema keterasingan, harapan, dan kepalsuan dalam kehidupan modern.

Puisi ini bercerita tentang orang-orang yang datang dan pergi melalui dermaga sambil membawa “kopor-kopor, gelisah dan keasingan”. Mereka terus melakukan perjalanan, tetapi seolah lupa pada asal dan tujuan hidupnya.

Di tengah suasana kota yang digambarkan seperti lautan penuh ombak, manusia tetap berusaha membangun harapan. Namun pada saat yang sama, mereka juga terus “memperpanjang kebohongan”, yang menunjukkan adanya kepura-puraan atau ketidakjujuran dalam kehidupan sosial.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap kehidupan manusia modern yang sibuk bergerak dan mengejar sesuatu, tetapi kehilangan makna sejati hidup. Kapal dan dermaga menjadi lambang perjalanan hidup, sedangkan kopor melambangkan beban pengalaman, kegelisahan, atau ambisi manusia.

Larikan:

“pernahkah orang-orang itu mengingat asal dan tujuan?”

menjadi pertanyaan filosofis tentang arah hidup manusia.

Sementara “kota telah menjadi lautan” menunjukkan kehidupan sosial yang penuh ketidakpastian dan persaingan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa muram, gelisah, dan reflektif. Ada juga nuansa kesepian dan kelelahan yang tergambar melalui lampu-lampu yang “letih menciptakan bayang”.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan pesan agar manusia tidak kehilangan arah dan makna hidup di tengah kesibukan dunia. Selain itu, puisi ini juga mengingatkan agar manusia hidup dengan kejujuran, bukan terus mempertahankan kebohongan demi kepentingan tertentu.

Imaji

Beberapa imaji yang muncul dalam puisi ini antara lain:
  • Imaji visual, terlihat pada gambaran “kapal merapat di dermaga”, “lampu-lampu”, dan “kopor-kopor”.
  • Imaji gerak, tampak pada aktivitas datang dan pergi orang-orang di dermaga.
  • Imaji suasana, hadir melalui “reruntuhan sepi dan kegelapan”.
  • Imaji perasaan, tergambar dari kata “gelisah”, “keasingan”, dan “kebingungan”.

Majas

Puisi ini menggunakan beberapa majas, di antaranya:
  • Metafora, pada ungkapan “kota telah menjadi lautan” yang melambangkan kehidupan sosial yang keras dan tidak menentu.
  • Personifikasi, pada larik “lampu-lampu telah letih menciptakan bayang”.
  • Simbolisme, kapal dan dermaga menjadi simbol perjalanan hidup manusia.
  • Retoris, pada pertanyaan “hendak ke manakah mereka?” yang mengajak pembaca merenungkan arah kehidupan.
Puisi “Ketika Kapal Merapat di Dermaga” karya Tri Astoto Kodarie merupakan puisi reflektif yang menggambarkan perjalanan manusia di tengah kehidupan modern. Melalui simbol kapal, dermaga, dan kota, penyair memperlihatkan kegelisahan, harapan, dan kehilangan arah yang dialami manusia. Puisi ini mengajak pembaca untuk kembali memikirkan tujuan hidup dan kejujuran dalam menjalani kehidupan.

Puisi: Ketika Kapal Merapat di Dermaga
Puisi: Ketika Kapal Merapat di Dermaga
Karya: Tri Astoto Kodarie

Biodata Tri Astoto Kodarie:
  • Tri Astoto Kodarie lahir di Jakarta, pada tanggal 29 Maret 1961.
© Sepenuhnya. All rights reserved.