Kisah Pengantin
Tersebutlah sebuah cerita
Mengiringi waktu bagai legenda
Anak dara menyampaikan rasa
Pada kayu-kayu ranjang berukir puspa
Seakan ada suara tembang menebar
Dari tilam dan selimut yang menghampar
Dinding kusam kamar berbisik sayup samar
Membangkitkan rasa terdalam tergetar
Di ruang terasa sunyi
Bunyi-bunyi telah menepi
Ia pun tak bisa lagi kembali
Telah larut waktu berpaut
Dihitung para-para di langit-langit
Telah usai upacara adat begitu sengit
Jakarta, 4 Agustus 2020
Sumber: Kinanti (2021)
Analisis Puisi:
Puisi "Kisah Pengantin" karya Nia Samsihono menggambarkan sebuah kisah cinta antara dua pengantin baru. Puisi ini menciptakan narasi tentang perjalanan mereka setelah acara pernikahan yang sarat dengan nuansa keharuan dan keromantisan.
Unsur Romantis dalam Keheningan: Penyair menggambarkan suasana ruangan yang sunyi dan hening setelah acara pernikahan usai. Dalam kesunyian tersebut, terdapat perasaan keharuan yang terbawa dalam penggambaran dinding kamar yang kusam, seakan menahan rasa sayup-samar yang membangkitkan getaran dalam diri.
Kesunyian sebagai Pemisah: Sunyi yang tercipta menggambarkan perpisahan atau transisi hidup yang melambangkan kisah cinta pasangan pengantin. Mereka telah melewati upacara pernikahan yang sengit dan berkesan, namun kini menghadapi kehidupan baru yang penuh dengan kedewasaan dan tanggung jawab.
Suara Perpisahan: Karya ini menggambarkan saat-saat setelah pesta pernikahan yang menjadi momen perpisahan. Suara-suara yang telah menepi adalah representasi dari penyelesaian upacara pernikahan. Suara-suara tersebut menjadi lambang penerimaan dari masa lalu yang telah berakhir.
Simbolisme Ranjang dan Kayu Puspa: Kayu-kayu ranjang yang diukir dengan bunga puspa di dalam puisi menjadi simbol keintiman dan harapan bagi perjalanan mereka sebagai pasangan baru. Hal ini melambangkan perasaan cinta yang diungkapkan oleh sang pengantin pada tempat tidur mereka.
Puisi ini menggambarkan momen keharuan dan perubahan dalam kehidupan pasangan pengantin yang baru menikah, menyoroti pentingnya perubahan fase kehidupan dan perasaan romantis yang mereka bagi bersama. Selain itu, keharuan setelah pesta pernikahan menggambarkan saat-saat refleksi yang mendalam pada awal kehidupan bersama sebagai pasangan.
Karya: Nia Samsihono
Biodata Nia Samsihono:
Nia Samsihono lahir di Pontianak pada tanggal 16 September 1959. Dari SMA I Purbalingga. Kuliah di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Semarang. Lalu kemudian melanjutkan S-2 di Universitas Indonesia, Jakarta.
Buku puisi tunggalnya, antara lain:
- Kemarau (2003)
- Perkawinan Cinta (2009)
- Gending (2010)
- De Javu (2010)
- Kinanti (2021)
Puisi-puisi karya Nia Samsihono juga terhimpun dalam:
- Antologi Puisi Merapi Gugat (2010)
- Antologi Puisi 105 Penyair Kota Pekalongan (2010)
- Antologi Puisi Radja dan Ratoe Alit (2011)
- Antologi Puisi Hati Perempuan (2011),
- Antologi Puisi Akulah Musi (2011)
- Antologi Puisi Kaos Hitam Cinta (2009)
- Antologi Puisi Suluk Mataram, 50 Penyair Membaca Yogya (2011)
- Antologi Puisi Bangga Menjadi Rakyat Indonesia (2012)
- Antologi Puisi Perempuan Penyair Indonesia Terkini, Kartini 2012 (2012)
- Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI Sauk Seloko (Dewan Kesenian Jambi, 2012)
- Antologi Penyair Indonesia Dari Negeri Poci 4: Negeri Abal-Abal (Komunitas Radja Ketjil, Kosa Kata Kita, Jakarta 2013)
- Antologi Penyair Indonesia Dari Negeri Poci 5: Negeri Langit (Komunitas Radja Ketjil, Kosa Kata Kita, Jakarta 2014)
- Antologi Puisi Esai Jula Juli Asam Jakarta (Jurnal Sajak, 2014)
- Perempuan Langit (2015)
- Perempuan Langit 2 (2016)
- Puisi Esai Perempuan Nusa dalam Puisi Esai (2019)
- Antologi Puisi Negeri Poci: Pesisiran (2019)
- Antologi Puisi Perempuan Bahari (2019)
- Antologi Puisi Bandara dan Laba-Laba (2019)
- Puisi Esai Mini “Mama, Napasku Sesak oleh Covid-19” dalam Love and Life in the Era of Corona (Jakarta, Cerah Budaya Indonesia, 2020)
- Antologi Puisi Perempuan dan Lautan (2021)
Selain menulis puisi, Nia Samsihono juga menulis cerita anak, beberapa di antaranya: Anak Aki Balak, Awan Putih Mengambang di Cakrawala, Dedemit Alas Roban, Ayam Jantan dari Timur.
Nia Samsihono sampai sekarang aktif di kegiatan sastra dan menulis karya puisi. Sebagai Direktur Yayasan Cinta Sastra, tinggal di Jakarta.