Puisi: Kota Ini Gilirannya (Karya Hijaz Yamani)

Puisi “Kota Ini Gilirannya” karya Hijaz Yamani mengingatkan bahwa bencana dan penderitaan bukan hanya masalah individu, tetapi persoalan bersama ...
Kota Ini Gilirannya

Kota ini gilirannya diserang wabah
yang melanda negeri-negeri jauh
Kota ini gilirannya tersapu rumah demi rumah
dan gedung-gedung kelabu dan bouwvallig

Terlibatkah kita sahabatku?
dalam gema dan bahana
yang menggidikkan bulu roma?

Debu-debu wabah yang menutup rongga nafas
membukatkan air kali dan melalap buah muda
wabah yang begitu lapar begitu dahaga

Benteng penghabisan telah pecah
Barisan perlawanan makin lemah
dan terompet sedih di balik malam
korban-korban berjatuhan

Terlibat kita sahabatku
dalam kota mati reruntuhan benteng penghabisan
tapi milik kita masih utuh
kepercayaan di sisi jantung luka

1972

Sumber: Horison (April, 1973)

Analisis Puisi:

Puisi “Kota Ini Gilirannya” karya Hijaz Yamani merupakan puisi yang menggambarkan situasi kehancuran, wabah, dan ketakutan yang melanda sebuah kota. Melalui bahasa yang kuat dan penuh simbol, penyair menghadirkan suasana mencekam sekaligus refleksi tentang manusia yang hidup di tengah bencana.

Puisi ini tidak hanya berbicara tentang wabah secara harfiah, tetapi juga dapat dimaknai sebagai gambaran kehancuran sosial, krisis kemanusiaan, atau penderitaan kolektif yang melanda masyarakat. Meski dipenuhi nuansa suram, puisi ini tetap menyimpan secercah harapan melalui “kepercayaan di sisi jantung luka”.

Tema

Tema utama puisi ini adalah bencana dan perjuangan manusia menghadapi kehancuran. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema ketakutan, solidaritas, dan harapan di tengah penderitaan.

Puisi ini bercerita tentang sebuah kota yang sedang dilanda wabah besar. Wabah tersebut menyapu rumah-rumah, gedung-gedung tua, dan kehidupan masyarakat.

Penyair menggambarkan suasana kota yang penuh ketakutan dan kehancuran. Debu wabah menutup rongga napas, benteng pertahanan mulai runtuh, dan korban terus berjatuhan.

Di tengah situasi itu, penyair mengajak “sahabatku” untuk merenungkan apakah mereka ikut terlibat dalam tragedi tersebut. Pada bagian akhir, meskipun kota berubah menjadi reruntuhan, masih ada sesuatu yang tersisa: kepercayaan dan harapan di tengah luka.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari penderitaan sosial dan bencana yang terjadi di sekitarnya.

Wabah dalam puisi dapat dimaknai sebagai simbol krisis besar, baik berupa penyakit, peperangan, keruntuhan moral, maupun kekacauan sosial.

Benteng yang pecah melambangkan runtuhnya perlindungan dan rasa aman manusia. Namun, “kepercayaan di sisi jantung luka” menunjukkan bahwa harapan dan keyakinan tetap dapat bertahan meskipun keadaan sangat buruk.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia harus saling menyadari keterlibatan dan tanggung jawab bersama dalam menghadapi krisis.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa mencekam, muram, dan penuh kecemasan. Gambaran wabah, reruntuhan, dan korban yang berjatuhan menghadirkan nuansa ketakutan yang kuat.

Namun, pada bagian akhir muncul sedikit suasana optimistis karena masih ada harapan dan kepercayaan yang tersisa.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa manusia harus tetap memiliki harapan dan keyakinan meskipun berada dalam situasi yang sulit.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa bencana dan penderitaan bukan hanya masalah individu, tetapi persoalan bersama yang membutuhkan kesadaran dan solidaritas.

Selain itu, puisi ini mengajarkan bahwa di tengah kehancuran, manusia tetap dapat bertahan melalui kepercayaan dan keteguhan hati.

Imaji

Puisi ini memiliki banyak imaji yang kuat, antara lain:

Imaji visual, misalnya:

“gedung-gedung kelabu dan bouwvallig”
“kota mati reruntuhan benteng penghabisan”

Pembaca dapat membayangkan kota yang rusak dan suram.

Imaji perabaan dan fisik, misalnya:

“menggidikkan bulu roma”

Ungkapan tersebut menghadirkan sensasi takut yang terasa nyata.

Imaji gerak, misalnya:

“tersapu rumah demi rumah”
“korban-korban berjatuhan”

Larik tersebut menggambarkan kehancuran yang terus berlangsung.

Imaji perasaan, tampak pada:

“kepercayaan di sisi jantung luka”

Pembaca dapat merasakan perpaduan antara rasa sakit dan harapan.

Majas

Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:

Majas personifikasi, pada larik:

“wabah yang begitu lapar begitu dahaga”

Wabah digambarkan seolah memiliki rasa lapar dan haus seperti manusia.

Majas metafora, pada:

“Benteng penghabisan telah pecah”

Benteng melambangkan pertahanan terakhir manusia terhadap kehancuran.

Majas hiperbola, pada larik:

“korban-korban berjatuhan”

Ungkapan tersebut memperkuat kesan besar dan mengerikannya bencana.

Majas simbolik, pada penggunaan:

“wabah”, “benteng”, dan “jantung luka”

Semua simbol tersebut menggambarkan krisis, pertahanan hidup, dan penderitaan manusia.

Majas repetisi, pada pengulangan:

“Terlibatkah kita sahabatku?”
“Terlibat kita sahabatku”

Pengulangan ini menegaskan keterlibatan manusia dalam tragedi bersama.

Puisi “Kota Ini Gilirannya” karya Hijaz Yamani merupakan puisi yang menggambarkan kehancuran dan penderitaan sebuah kota akibat wabah atau krisis besar. Dengan bahasa simbolik dan suasana yang mencekam, penyair menghadirkan potret manusia yang hidup di tengah ketakutan dan keruntuhan. Namun, di balik semua itu, puisi ini tetap menyimpan harapan melalui keyakinan dan keteguhan hati manusia dalam menghadapi bencana.

Hijaz Yamani
Puisi: Kota Ini Gilirannya
Karya: Hijaz Yamani

Biodata Hijaz Yamani:
  • Hijaz Yamani lahir pada tanggal 23 Maret 1933 di Banjarmasin.
  • Hijaz Yamani meninggal dunia pada tanggal 17 Desember 2001 (pada umur 68 tahun) dan dimakamkan di Taman Makam Bahagia di Kota Banjarbaru.
© Sepenuhnya. All rights reserved.