Kota Tua
Kota tua banyak berjendelanya,
memandang garis rumah,
trotoar dimataku menjelma wanita terlunta,
dinding kusam - retakannya tak berdaya,
lampu papan iklan jalan terang ke rayuan - kerap menyimpan khianat pemalsu sejarah lokal;
sudah banyak korban politik adu domba, hidup sempoyongan
di gang gang tempatnya setan Zalanbar penggoda anak-anak.
Pejabatnya sibuk mengatur politik belah bambu,
hasrat ingin dihormat dan dijunjung
Kota adalah impian para musuh,
Jangan ikut campur! Semuanya melebur.
Buliran peluh di buah dada bagai berlian:
"Dulu mudah masuk kesucian tanpa gambar.
Kini banyak peta di tikungan sampai digital tapi sesat diseret gelap"
Kota selalu nampak banyak jendela
apa salah pandang, apa si remang buas
atau tabir gaib sedang beramah tamah melapangkan pelajaran:
Dunia diujikan satu Kekuatan,
lorongnya dua tarikan; hening hutan larangan, tenang pertautan iman ke sang Pemilik Zaman,
lorong keduanya bersambung ke Azazil penipu Adam,
si lancang yang menjual nama-nama Tuhan
Kota terlahir dari kata sumpah serapah,
tak bisa lepas dari garisan arsirnya karena dicipta kita, lapar hyena kita
"Mana tubuhmu yang molek itu!
Aku usap pipimu seperti kaca berdebu"
Bandung, 29 Mei 2022
Analisis Puisi:
Puisi “Kota Tua” karya Jang Sukmanbrata merupakan puisi sosial yang sarat kritik terhadap kehidupan kota, politik, dan kondisi moral manusia modern. Dengan bahasa simbolik dan metaforis, penyair menghadirkan kota bukan sekadar ruang fisik, melainkan gambaran dunia yang dipenuhi konflik, tipu daya, dan pergulatan spiritual.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerusakan moral dan sosial dalam kehidupan kota modern. Selain itu, terdapat tema tentang politik, kekuasaan, dan pertarungan spiritual manusia.
Puisi ini bercerita tentang sebuah kota tua yang tampak penuh sejarah, tetapi menyimpan berbagai persoalan sosial dan moral.
Kota digambarkan memiliki banyak jendela, seolah terus memandang dan mengawasi kehidupan manusia di dalamnya. Namun di balik cahaya dan keramaian kota, terdapat pengkhianatan sejarah, politik adu domba, serta manusia yang hidup dalam kebingungan moral.
Penyair juga menampilkan dua “lorong” kehidupan: satu menuju ketenangan iman dan Tuhan, sementara yang lain menuju tipu daya Azazil. Dengan demikian, kota menjadi simbol pergulatan manusia antara kebaikan dan keburukan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
- Kota modern sering menjadi ruang hilangnya nilai kemanusiaan dan spiritualitas.
- Politik dan kekuasaan dapat melahirkan perpecahan serta manipulasi sejarah.
- Manusia hidup dalam ujian moral, memilih antara jalan iman atau tipu daya.
- Kemajuan teknologi dan modernitas tidak selalu membawa manusia pada kebenaran.
- Ada kritik terhadap manusia yang dikuasai oleh keserakahan dan ambisi pribadi.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini cenderung:
- Muram dan gelisah.
- Kritis dan satir.
- Misterius serta reflektif.
Nuansa tersebut memperkuat gambaran kota yang penuh konflik batin dan sosial.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat ditangkap antara lain:
- Manusia perlu menjaga moral dan iman di tengah kehidupan modern yang penuh godaan.
- Jangan mudah terjebak dalam politik pecah belah dan manipulasi kekuasaan.
- Kemajuan kota dan teknologi harus diimbangi dengan nilai kemanusiaan serta spiritualitas.
- Manusia harus sadar bahwa hidup selalu menghadapkan mereka pada pilihan antara kebaikan dan keburukan.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji visual dan simbolik, seperti:
- Imaji visual: jendela-jendela kota, trotoar, gang-gang, lampu papan iklan, lorong.
- Imaji suasana: kota remang, gang penuh godaan, tikungan gelap.
- Imaji simbolik: dua lorong kehidupan, Azazil, hutan larangan.
Imaji tersebut membangun suasana kota yang suram sekaligus filosofis.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Personifikasi: kota yang “memandang”, lorong yang “bersambung”.
- Metafora: kota sebagai simbol dunia dan kehidupan manusia.
- Simbolisme: jendela, lorong, Azazil, dan hutan larangan.
- Satire: kritik terhadap pejabat dan politik “belah bambu”.
- Hiperbola: penggambaran kota sebagai tempat segala konflik dan dosa.
- Alusi: rujukan pada Adam dan Azazil dalam kisah religius.
- Ironi: banyak peta dan teknologi, tetapi manusia tetap tersesat.
Puisi “Kota Tua” merupakan kritik sosial dan spiritual terhadap kehidupan modern yang dipenuhi kekuasaan, manipulasi, dan kehilangan arah moral. Jang Sukmanbrata menghadirkan kota sebagai simbol dunia manusia yang penuh godaan dan pertarungan batin. Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih waspada terhadap tipu daya kehidupan sekaligus menjaga hubungan dengan nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.
Puisi: Kota Tua
Karya: Jang Sukmanbrata
Biodata Jang Sukmanbrata:
Jang Sukmanbrata lahir pada tanggal 17 Agustus 1964 di Bandung. Ia menulis karya sastra dengan bahasa Sunda dan bahasa Indonesia dalam berbagai genre mulai dari puisi, guguritan, lirik, balada, epik, naratif, tanka, haiku, dan bahkan esai.
Puisi-puisinya terangkum di berbagai Buku Antologi Puisi, seperti Penyair Bandung (1981), Negeri Pesisiran (2019), Negeri Rantau (2020), Raja Kelana (2022) dan beberapa lainnya.
Karya sastranya yang lain bisa dijumpai dan tersebar di berbagai Media Online dan Media Offline, seperti di Majalah Basis, koran Bali Pos, Pikiran Rakyat Bandung, dan lain sebagainya.
Jang Sukmanbrata saat ini aktif mengadvokasi - melestarikan nilai-nilai Kabuyutan Sunda-Nusantara.
