Analisis Puisi:
Puisi “Kuatur di Sini Kuatur di Sana” karya Syu’bah Asa merupakan puisi satiris yang singkat namun tajam. Dengan bahasa lugas dan kontras yang mengejutkan, puisi ini mengkritik kemunafikan manusia, terutama mereka yang menampilkan citra baik di depan umum tetapi bertindak berbeda dalam kehidupan sebenarnya.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kemunafikan dan kritik sosial terhadap perilaku manusia. Selain itu, puisi ini juga membahas pencitraan, moralitas, dan hubungan manusia dengan agama.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengatur perilaku dan penampilannya sesuai situasi demi menjaga citra diri. Ia tersenyum dan berjabat tangan di depan orang lain, tampak religius dengan beribadah dan berdiskusi soal agama, tetapi di sisi lain melakukan tindakan-tindakan yang bertolak belakang dengan citra tersebut.
Penyair juga mengaku berteman dengan berbagai kalangan, termasuk para makelar dan kaum gelandangan. Pada akhir puisi, muncul pengakuan bahwa Tuhan yang “dulu” masih ada jauh di dalam dirinya, seolah menunjukkan sisa kesadaran moral yang belum sepenuhnya hilang.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini meliputi:
- “kuatur senyum di sini / kuatur senyum di sana” → simbol kepura-puraan dan pencitraan sosial.
- “kujabat tangan di sini / kencing di sana” → kontras antara kesopanan dan perilaku buruk.
- “berkhalwat di mesjid” dan “berdoa di langgar” → simbol religiusitas formal.
- “mendebat ulama ini / berak di sana” → sindiran terhadap orang yang merasa paling benar secara agama tetapi tidak menjaga moralitas.
- “makelar dan kaum gelayapan sobatku juga” → pengakuan tentang kehidupan sosial yang penuh kepentingan dan kontradiksi.
- “tuhan, yang dulu juga” → sisa nurani atau hubungan spiritual yang mulai menjauh.
Puisi ini menyiratkan bahwa manusia sering hidup dalam kepalsuan sosial dan agama, menampilkan citra baik di depan publik tetapi menyembunyikan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai moral.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang terasa adalah sinis, satiris, dan menyindir. Ada nuansa getir sekaligus kritik tajam terhadap perilaku manusia modern.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Puisi ini menyampaikan bahwa:
- Manusia sebaiknya tidak hidup dalam kepura-puraan dan pencitraan semata.
- Nilai agama dan moral tidak cukup hanya ditampilkan secara lahiriah, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku nyata.
- Kesadaran diri penting agar manusia tidak kehilangan nurani dan hubungan spiritualnya.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji yang lugas dan kontras:
- Imaji visual: berjabat tangan, berdoa di mesjid, berkumpul dengan berbagai kalangan.
- Imaji gerak: tersenyum, berjabat tangan, berkhalwat.
- Imaji suasana: kehidupan sosial yang penuh kepalsuan.
- Imaji perasaan: sinisme dan kegelisahan moral.
Majas
Beberapa majas yang digunakan:
- Satire: kritik tajam terhadap kemunafikan sosial dan religius.
- Ironi: perilaku religius dipertentangkan dengan tindakan kasar dan tidak bermoral.
- Kontras: “kujabat tangan di sini / kencing di sana”, “mendebat ulama ini / berak di sana”.
- Repetisi: pengulangan “di sini” dan “di sana” menegaskan dualitas perilaku manusia.
- Simbolisme: mesjid, langgar, dan Tuhan sebagai simbol moralitas dan spiritualitas.
Melalui puisi “Kuatur di Sini Kuatur di Sana”, Syu’bah Asa menghadirkan kritik sosial yang tajam terhadap kemunafikan manusia. Dengan gaya sederhana namun menggigit, puisi ini menunjukkan bahwa pencitraan sosial dan religius tanpa kejujuran batin hanya akan menjauhkan manusia dari nilai moral dan spiritual yang sejati.
Puisi: Kuatur di Sini Kuatur di Sana
Karya: Syu’bah Asa
Biodata Syu’bah Asa:
- Syu’bah Asa lahir di Pekalongan, Jawa Tengah pada tanggal 21 Desember 1941.
- Syu’bah Asa meninggal dunia di Pekalongan, Jawa Tengah pada tanggal 24 Juli 2010 (pada usia 69 tahun).