Kutebang-tebang Sendiri
kutebang-tebang sendiri semua pohon
di hutan ini yang mau tinggi sendiri
kalian boleh kecewa kalian boleh tak
suka kalian boleh memaki-maki kalian
kutebas-tebas sendiri semua duri yang
menancap di kaki-kaki juga kaki Kau
orang bilang aku ini Kau tapi orang
bilang kau ini Aku tapi kalian Lalai
1989
Sumber: Horison (April, 1989)
Analisis Puisi:
Puisi “Kutebang-tebang Sendiri” karya M. Nasruddin Anshoriy Ch merupakan puisi pendek yang sarat makna simbolik dan spiritual. Dengan gaya bahasa sederhana tetapi penuh tekanan makna, penyair menghadirkan suara liris yang tegas, seolah sedang melakukan perlawanan terhadap kesombongan, kelalaian, dan ketidaksadaran manusia.
Puisi ini memadukan simbol alam dengan nuansa religius dan filosofis. Kata-kata seperti “pohon”, “duri”, dan “Kau” membuka ruang tafsir yang luas mengenai hubungan manusia dengan sesama, dengan dirinya sendiri, dan dengan Tuhan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perlawanan terhadap kesombongan dan usaha penyucian diri. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema spiritualitas, kesadaran hidup, dan hubungan manusia dengan Tuhan.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang memilih bertindak sendiri untuk menebang pohon-pohon “yang mau tinggi sendiri” dan membersihkan duri-duri yang melukai.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia harus berani membersihkan kesombongan dan keburukan, baik dalam dirinya maupun dalam kehidupan sosial.
Pohon yang “mau tinggi sendiri” melambangkan manusia sombong atau kekuasaan yang tumbuh tanpa peduli pada yang lain. Duri yang menancap di kaki melambangkan penderitaan, dosa, atau masalah yang menghambat perjalanan hidup.
Sementara itu, penggunaan kata “Kau” dengan huruf kapital dapat dimaknai sebagai simbol Tuhan. Puisi ini menyiratkan bahwa manusia sering mengaku dekat dengan Tuhan, tetapi sebenarnya lalai memahami nilai kemanusiaan dan kerendahan hati.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
- Tegas.
- Kontemplatif.
- Kritis.
- Spiritual.
- Penuh perlawanan batin.
Nada puisi terasa seperti pernyataan sikap yang kuat sekaligus renungan mendalam.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia harus berani melawan kesombongan dan membersihkan keburukan dalam hidup.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan tidak cukup hanya lewat pengakuan, tetapi harus diwujudkan dalam kesadaran, kerendahan hati, dan tindakan nyata.
Selain itu, penyair menyampaikan bahwa manusia sering lalai memahami hakikat dirinya sendiri dan makna kehidupan yang sesungguhnya.
Imaji
Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
- Imaji visual: Tampak pada gambaran hutan, pohon, dan duri.
- Imaji gerak: Terlihat pada tindakan menebang pohon dan menebas duri.
- Imaji perasaan: Pembaca dapat merasakan ketegasan, kemarahan, sekaligus kegelisahan spiritual.
- Imaji simbolik: Pohon dan duri menghadirkan lambang sifat manusia dan persoalan hidup.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Majas metafora: Pohon dan duri menjadi metafora bagi kesombongan dan penderitaan hidup.
- Majas simbolik: Hutan melambangkan kehidupan manusia yang penuh persoalan dan ego.
- Majas repetisi: Pengulangan kata “kalian boleh” dan bentuk kata kerja seperti “kutebang-tebang” memperkuat tekanan makna.
- Majas ironi: “Orang bilang aku ini Kau tapi orang bilang kau ini Aku” mengandung ironi tentang hubungan manusia dengan Tuhan.
- Majas personifikasi: Pohon digambarkan “mau tinggi sendiri” seolah memiliki kehendak seperti manusia.
Puisi “Kutebang-tebang Sendiri” karya M. Nasruddin Anshoriy Ch merupakan puisi simbolik yang membahas kesombongan, penyucian diri, dan kesadaran spiritual manusia. Dengan bahasa yang singkat namun kuat, penyair mengajak pembaca untuk merenungkan hubungan manusia dengan ego, sesama, dan Tuhan. Puisi ini menegaskan pentingnya kerendahan hati dan keberanian membersihkan keburukan dalam kehidupan.
Karya: M. Nasruddin Anshoriy Ch
Biodata M. Nasruddin Anshoriy Ch:
- M. Nasruddin Anshoriy Ch (biasa dipanggil Gus Nas) lahir pada tanggal 4 Mei 1965 di Yogyakarta.
- Ia menulis artikel, puisi, kolom, dan resensi buku di berbagai media, termasuk di antaranya Horison, Sinar Harapan, Prisma, Pelita, Amanah, Panji Masyarakat dan Kompas.
