Puisi: Kwatrin Cengkrik (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Kwatrin Cengkrik” karya Gunoto Saparie menggambarkan suasana malam pedesaan yang sunyi dan penuh perenungan.
Kwatrin Cengkrik

suara cengkrik di persawahan bersahutan
ketika malam pun bertambah larut
lalu sunyi memperdalam kesepian
ada ricik air kali mengalir sampai ke laut

2021

Analisis Puisi:

Puisi “Kwatrin Cengkrik” karya Gunoto Saparie merupakan puisi pendek yang sederhana, tetapi memiliki suasana yang kuat dan mendalam. Melalui gambaran suara cengkrik, malam, dan aliran air kali, penyair menghadirkan suasana alam pedesaan yang tenang sekaligus sunyi.

Walaupun hanya terdiri dari empat larik, puisi ini mampu menghadirkan perasaan kesepian dan perenungan hidup dengan sangat puitis.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesunyian dan perenungan hidup. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema:
  • Kehidupan alam.
  • Kesepian.
  • Keheningan malam.
  • Hubungan manusia dengan alam.
Puisi ini bercerita tentang suasana malam di persawahan ketika suara cengkrik terdengar bersahutan. Semakin malam bertambah larut, suasana menjadi semakin sunyi dan memperdalam rasa kesepian.

Di tengah kesunyian tersebut, hanya terdengar suara air kali yang terus mengalir menuju laut. Gambaran ini menghadirkan suasana hening yang penuh perenungan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah gambaran tentang kesepian manusia dalam kehidupan. Kesunyian malam menjadi simbol ruang perenungan batin, ketika seseorang menghadapi dirinya sendiri.

Aliran air kali menuju laut juga dapat dimaknai sebagai perjalanan hidup manusia yang terus berjalan menuju tujuan akhir kehidupan. Sementara suara cengkrik yang bersahutan menggambarkan bahwa di tengah kesunyian, kehidupan tetap berlangsung.

Puisi ini mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap suasana alam dan makna-makna kecil yang sering terabaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa dalam puisi ini adalah:
  • Sunyi.
  • Tenang.
  • Damai.
  • Melankolis.
  • Penuh perenungan.
Nuansa malam pedesaan terasa sangat kuat melalui suara cengkrik dan gemericik air kali.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat diambil dari puisi ini antara lain:
  • Manusia perlu meluangkan waktu untuk merenung dalam keheningan.
  • Alam menyimpan ketenangan dan makna yang dapat menenangkan jiwa.
  • Kehidupan terus berjalan seperti air yang mengalir tanpa henti.
Puisi “Kwatrin Cengkrik” karya Gunoto Saparie menunjukkan bahwa puisi pendek pun dapat memiliki makna yang mendalam. Dengan pilihan kata yang sederhana, penyair berhasil menggambarkan suasana malam pedesaan yang sunyi dan penuh perenungan.

Melalui suara cengkrik dan aliran air kali, pembaca diajak merasakan ketenangan alam sekaligus merenungkan perjalanan hidup manusia yang terus mengalir seiring waktu.

Puisi Gunoto Saparie
Puisi: Kwatrin Cengkrik
Karya: Gunoto Saparie

Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.