Puisi: Laki-Laki yang Pergi Rodi dalam Cerita Kepala Si Talang (Karya Rusli Marzuki Saria)

Puisi “Laki-Laki yang Pergi Rodi dalam Cerita Kepala Si Talang” karya Rusli Marzuki Saria bercerita tentang seorang perempuan yang ditinggalkan ...
Laki-Laki yang Pergi Rodi dalam Cerita Kepala Si Talang

Ketika engkau berangkat yang tinggal hanya
aroma. Di atas bendul rumah gedang – jejak cakar
ayam. Bintik-bintik kapur sirih dan secarik
kain hitam.
Aku tahu kau tidakkan kembali. Karena membangun jalan
di musim rodi. Laki-lakimu yang berurat kawat dan
bertulang besi telah dikirim. Menyudahkan jalan
di negeri ini.
"Wahai, Kepala si Talang! Banyak para istri
yang tinggal di kampung ini, boleh kau pulangi
malam hari. Sementara para suami mereka kerja rodi
di rantau orang."

Ketika engkau berangkat kucatat dengan arang dapur
berbilang hari, berbilang bulan, kemudian berbilang tahun
engkau tidak kembali. Telah sekian musim durian masak
telah sekian musim manggis berbuah, telah sekian musim tebu
dikilang. Namun engkau tidak nampak puncak hidungmu!
Langit mengandung pelangi. Hujan rinai, hujan panas
Aku rindu padamu. Rindu burung punai kepada getah,
rindu uir-uir minta getah!
Kusilang batu telapak di halaman. Kusilang anak jenjang
setiap hari.
Kucuci destarmu dalam angin. Tidak kututup pintu bila malam

Ketika engkau berangkat yang tinggal hanya
aroma. Bau peluh lelaki yang tinggal di baju usang
Di atas bendul rumah gedang – jejak cakar
ayam. Bintik-bintik kapur sirih dan secarik
kain hitam!

Sumber: Parewa (1998)
Catatan:
Dari cerita rakyat Minang, Kepala si Talang.

Analisis Puisi:

Puisi “Laki-Laki yang Pergi Rodi dalam Cerita Kepala Si Talang” karya Rusli Marzuki Saria merupakan karya yang berakar kuat pada tradisi lisan Minangkabau. Dengan latar cerita rakyat Kepala si Talang, puisi ini menghadirkan kisah pilu tentang perpisahan, penantian, dan penderitaan akibat sistem kerja paksa (rodi) pada masa lalu.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penderitaan akibat perpisahan dan penantian panjang dalam bayang-bayang ketidakadilan (kerja rodi).

Puisi ini bercerita tentang seorang perempuan yang ditinggalkan oleh suaminya untuk menjalani kerja rodi di negeri orang. Kepergian itu terasa begitu sunyi—yang tersisa hanya aroma, jejak, dan benda-benda kecil yang menjadi kenangan. Waktu terus berjalan, ditandai oleh pergantian musim dan hasil alam, namun sang suami tak kunjung kembali. Penantian itu berubah menjadi kerinduan yang mendalam, bahkan bercampur dengan kesadaran bahwa mungkin ia tidak akan pernah pulang.

Di sisi lain, terselip kisah tentang Kepala si Talang, tokoh dalam cerita rakyat yang menggambarkan realitas sosial saat itu—ketika para lelaki dipaksa bekerja jauh dari kampung, meninggalkan keluarga mereka dalam kesepian.

Makna Tersirat

Makna tersirat puisi ini adalah kritik terhadap penindasan dan penderitaan rakyat kecil akibat sistem kerja paksa, serta gambaran betapa beratnya dampak sosial yang ditanggung keluarga yang ditinggalkan. Selain itu, puisi ini juga menyiratkan kesetiaan dan keteguhan hati seorang perempuan dalam menunggu, meskipun harapan semakin memudar.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini sangat melankolis, sendu, dan penuh kerinduan. Kesepian terasa kuat melalui detail-detail kecil yang ditinggalkan, serta pengulangan kenangan yang terus hidup di tengah waktu yang berjalan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan pesan agar kita menghargai pengorbanan generasi terdahulu serta menyadari dampak ketidakadilan sosial terhadap kehidupan manusia, khususnya dalam lingkup keluarga. Selain itu, puisi ini juga menegaskan nilai kesetiaan dan kekuatan dalam menghadapi kehilangan.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji yang memperkuat suasana, antara lain:
  • Imaji penciuman: “yang tinggal hanya aroma”, “bau peluh lelaki” menegaskan kehadiran yang telah pergi.
  • Imaji visual: “jejak cakar ayam”, “bintik-bintik kapur sirih”, “kain hitam” menghadirkan detail kehidupan rumah tangga yang ditinggalkan.
  • Imaji waktu: pergantian musim seperti durian, manggis, dan tebu menggambarkan lamanya penantian.
  • Imaji perasaan: kerinduan yang diungkapkan melalui perbandingan dengan makhluk alam (“rindu burung punai kepada getah”).

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini:
  • Metafora: “aroma” dan “bau peluh” sebagai simbol kenangan yang tersisa dari kehadiran seseorang.
  • Simbolisme: musim buah dan hasil alam melambangkan perjalanan waktu.
  • Repetisi: pengulangan frasa “ketika engkau berangkat” menegaskan luka perpisahan yang terus diingat.
  • Perbandingan (simile): “rindu burung punai kepada getah” untuk menggambarkan kerinduan yang mendalam dan naluriah.
  • Hiperbola: penantian yang digambarkan sangat panjang hingga bertahun-tahun tanpa kepastian.
Puisi ini merupakan potret menyentuh tentang dampak sejarah terhadap kehidupan pribadi. Rusli Marzuki Saria berhasil menghidupkan kembali kisah rakyat Minangkabau dengan pendekatan puitis yang intim, menjadikan puisi “Laki-Laki yang Pergi Rodi dalam Cerita Kepala Si Talang” sebagai refleksi mendalam tentang cinta, kehilangan, dan ketabahan manusia dalam menghadapi kenyataan pahit.

Rusli Marzuki Saria
Puisi: Laki-Laki yang Pergi Rodi dalam Cerita Kepala Si Talang
Karya: Rusli Marzuki Saria

Biodata Rusli Marzuki Saria:
  • Rusli Marzuki Saria lahir pada tanggal 26 Februari 1936 di Kamang, Bukittinggi.
© Sepenuhnya. All rights reserved.