Puisi: Lanskap Kota (Karya Hijaz Yamani)

Puisi “Lanskap Kota” karya Hijaz Yamani mengajarkan bahwa pengalaman hidup dan kondisi sosial dapat memengaruhi cara seseorang memandang dunia dan ...
Lanskap Kota

Aku ingin menyaksikan
awan dan ombak daun
panorama dan tugu putih di batas kota
Tetapi mengapa gemuruh abadi
pada september yang menunjuk jarum waktu
menantang angin khatulistiwa
menyusup lorong-lorong antar gedung tua
ah, september yang mulai membara
kalau ia tak menerpa pandangku
diterpanya kesadaran dan sajakku

1981

Sumber: Percakapan Malam (1997)

Analisis Puisi:

Puisi “Lanskap Kota” karya Hijaz Yamani merupakan puisi yang menggambarkan pergulatan batin seseorang ketika memandang suasana kota dan perubahan zaman. Dengan bahasa yang singkat namun padat makna, penyair menghadirkan kesan kontemplatif tentang kota, waktu, dan kesadaran manusia.

Puisi ini memadukan unsur alam, ruang kota, dan pergolakan batin menjadi sebuah lanskap emosional yang kuat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kegelisahan batin terhadap perubahan dan dinamika kehidupan kota. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kesadaran diri, waktu, dan pencarian makna.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang ingin menikmati keindahan kota dan alam, seperti awan, ombak daun, panorama, serta tugu putih di batas kota.

Namun keinginan tersebut terganggu oleh “gemuruh abadi” yang muncul pada bulan September. Gemuruh itu terasa begitu kuat hingga menembus lorong-lorong gedung tua dan memengaruhi kesadaran penyair.

September dalam puisi ini bukan hanya penanda waktu, tetapi juga simbol pergolakan, perubahan, atau peristiwa besar yang membakar pikiran dan perasaan penyair.

Pada akhirnya, kegelisahan itu tidak hanya menerpa pandangan mata, tetapi juga mengguncang kesadaran dan sajak yang ditulisnya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan kota dan perubahan zaman sering kali memengaruhi kondisi batin manusia.

Keinginan untuk menikmati ketenangan dan keindahan sering terganggu oleh kegelisahan sosial, sejarah, atau pergolakan hidup yang terus hadir.

September dapat dimaknai sebagai simbol perubahan, gejolak sejarah, atau momentum yang meninggalkan bekas emosional mendalam.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa penyair tidak dapat memisahkan pengalaman hidup dari proses penciptaan puisinya.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa gelisah, muram, dan kontemplatif. Ada perpaduan antara keindahan lanskap kota dengan tekanan batin yang membara.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia perlu peka terhadap perubahan dan pergolakan yang terjadi di sekitarnya.

Puisi ini juga mengajarkan bahwa pengalaman hidup dan kondisi sosial dapat memengaruhi cara seseorang memandang dunia dan berkarya.

Selain itu, penyair menunjukkan bahwa kesadaran manusia tidak pernah benar-benar terpisah dari ruang dan waktu yang melingkupinya.

Imaji

Puisi ini memiliki beberapa imaji yang kuat, antara lain:
  • Imaji visual, terlihat pada awan, ombak daun, panorama, tugu putih, dan gedung tua.
  • Imaji pendengaran, tampak pada “gemuruh abadi”.
  • Imaji gerak, terlihat pada angin yang menyusup lorong-lorong kota.
  • Imaji suasana, menghadirkan nuansa kota yang muram dan penuh tekanan batin.
  • Imaji perasaan, memperlihatkan kegelisahan dan kesadaran yang terguncang.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi, pada angin yang “menyusup lorong-lorong antar gedung tua”.
  • Metafora, pada “gemuruh abadi” dan “September yang mulai membara”.
  • Simbolisme, September melambangkan pergolakan atau perubahan besar dalam kehidupan.
  • Hiperbola, digunakan untuk memperkuat kesan gemuruh yang sangat memengaruhi batin penyair.
  • Paradoks, terlihat pada keinginan menikmati panorama indah tetapi justru diterpa kegelisahan.
Puisi “Lanskap Kota” karya Hijaz Yamani adalah puisi reflektif yang menggambarkan hubungan antara ruang kota, waktu, dan kondisi batin manusia. Dengan simbol September dan gemuruh kota, penyair menghadirkan suasana gelisah yang memengaruhi kesadaran dan proses kreatifnya. Puisi ini menunjukkan bahwa pengalaman hidup dan lingkungan sekitar dapat membentuk cara manusia memandang dunia dan dirinya sendiri.

Hijaz Yamani
Puisi: Lanskap Kota
Karya: Hijaz Yamani

Biodata Hijaz Yamani:
  • Hijaz Yamani lahir pada tanggal 23 Maret 1933 di Banjarmasin.
  • Hijaz Yamani meninggal dunia pada tanggal 17 Desember 2001 (pada umur 68 tahun) dan dimakamkan di Taman Makam Bahagia di Kota Banjarbaru.
© Sepenuhnya. All rights reserved.