Puisi: Lanskap Sungai (Karya Hijaz Yamani)

Puisi “Lanskap Sungai” karya Hijaz Yamani mengajak pembaca untuk memahami bahwa di balik keindahan kota dan sungai, terdapat manusia-manusia yang ...
Lanskap Sungai (1)
– (bagi hari jadi kotaku ke-457)

Kususuri lagi sekarang
alur sungaimu sungaiku coklat susu
(Kata kau kehidupan mulai di sini)
mengapa beragam
dan bertumpu
bergulat selalu

Lanskap Sungai (2)

Beginikah wajah alam
wajah siang
wajah malam
pinggir kotaku

(Telah lahir manusia
satu ibu
di hari-hari tanpa batas
dalam malam pun
keringat mereka
mesti diperas
selalu)

Lanskap Sungai (3)

Baru kuingat
hari ini pun
hari perjanjian kita
berlomba, berlomba
di atas sungaimu sungaiku coklat susu
menggetarkan batang-batang
mengapungkan lanting-lanting
dari hulu ke hilir
dari hilir ke hulu

Lanskap Sungai (4)

Mengapa orang-orang lalu-lalang
selalu lalu-lalang
di air dan di darat
di darat dan di air

Berlomba orang-orang gelisah
tapi sama derajat mereka
memiliki air
tak memiliki ladangnya

Lanskap Sungai (5)

Kita memang selalu
menyusuri sungai leluhur ini
tapi kita belum sampai-sampai
ke muara

adalah beban dalam perahu kehidupan
dari atas sungai kehidupan
belum kita tumpuk
dalam gudang-gudang
pelabuhan baru

Lanskap Sungai (6)

Tapi begitu lancarnya
arus kita
begitu cerahnya
langit di atasnya
memberikan keluasan harapan
Tapi tak bisakah menghabiskan
angan-angan dan purbasangka?

Lanskap Sungai (7)

Bertambatkah kita
di tiang-tiang jembatan
yang diatasnya memberikan
bobot perlawanan
memberat kendaraan dan beban
bukan impian?

Di sana pun engkau lihat
wajah-wajah memimpikan keadilan
Mereka lelaki-lelaki
yang tak bisa menerima
nikmatnya perempuan
Perempuan-perempuan juga
bercinta dengan langit
bercinta dengan matahari

Lanskap Sungai (8)

Hari ini kita selusuri
besok pun dan kapan pun
sungai ini yang mendustakan dahaga
melupakan kita
pada harapan leluhur
sejak berabad lalu


Lanskap Sungai (9)


Hari ini pun kita
tiba-tiba merindukan
pendiri kota
yang dibelah sungai martapura
di batas barito
gemerlap lampu-lampu kota
memantulkan cahaya
di air sumber kehidupan
yang masih selalu
dibenahi
harapan-harapan

Banjarmasin, September 1983

Sumber: Malam Hujan (2012)

Analisis Puisi:

Puisi “Lanskap Sungai” karya Hijaz Yamani merupakan puisi panjang yang menggambarkan kehidupan masyarakat sungai di Banjarmasin. Sungai dalam puisi ini tidak hanya menjadi latar alam, tetapi juga simbol sejarah, kehidupan sosial, perjuangan, dan harapan masyarakat Banjar.

Ditulis untuk memperingati hari jadi kota Banjarmasin ke-457 pada September 1983, puisi ini menghadirkan hubungan erat antara manusia dan sungai sebagai sumber kehidupan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan masyarakat sungai dan harapan sosial yang terus mengalir bersama perjalanan sejarah kota.

Selain itu, terdapat tema tentang:
  • Perjuangan hidup masyarakat kecil.
  • Hubungan manusia dengan alam.
  • Serta harapan akan keadilan dan masa depan yang lebih baik.
Puisi ini bercerita tentang kehidupan masyarakat yang hidup di sekitar sungai. Penyair menyusuri sungai sambil merenungkan kehidupan orang-orang yang bergantung pada aliran air tersebut.

Sungai digambarkan sebagai pusat aktivitas: tempat manusia berlalu-lalang, bekerja, berlomba, bermimpi, dan bertahan hidup. Namun di balik keindahan dan kelancaran arus sungai, terdapat kegelisahan sosial, kemiskinan, dan perjuangan masyarakat yang belum mencapai “muara” kehidupan yang sejahtera.

Puisi ini juga menunjukkan kerinduan pada pendiri kota dan harapan agar kehidupan masyarakat terus dibenahi di masa depan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Sungai menjadi simbol perjalanan hidup manusia dan sejarah masyarakat.
  • Kehidupan terus bergerak seperti arus sungai, tetapi tidak semua orang mencapai kesejahteraan.
  • Ada kritik sosial terhadap ketimpangan hidup masyarakat yang bekerja keras tetapi belum menikmati hasil sepenuhnya.
  • Harapan leluhur tentang kehidupan yang lebih baik masih terus diperjuangkan.
  • Manusia sering terjebak dalam kegelisahan dan persaingan hidup, meskipun sebenarnya memiliki derajat yang sama.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini meliputi:
  • Reflektif dan kontemplatif.
  • Melankolis namun penuh harapan.
  • Sosial dan humanis.
  • Kadang gelisah, tetapi tetap optimistis.
Suasana tersebut mengalir seperti arus sungai yang menjadi pusat puisi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat dipahami dari puisi ini antara lain:
  • Manusia harus menghargai alam dan sungai sebagai sumber kehidupan.
  • Kehidupan masyarakat perlu dibangun dengan keadilan dan kepedulian sosial.
  • Harapan leluhur tentang kesejahteraan jangan dilupakan.
  • Perjalanan hidup membutuhkan kerja keras, kebersamaan, dan kesadaran sosial.
  • Kemajuan kota tidak boleh melupakan rakyat kecil yang hidup di dalamnya.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji visual dan gerak, seperti:
  • Imaji visual: sungai coklat susu, lanting-lanting, jembatan, lampu kota, pelabuhan.
  • Imaji gerak: arus sungai, orang lalu-lalang, perahu bergerak dari hulu ke hilir.
  • Imaji suasana: kehidupan kota sungai yang ramai namun menyimpan kegelisahan.
  • Imaji simbolik: sungai sebagai lambang kehidupan dan sejarah.
Imaji-imaji tersebut membuat pembaca seolah melihat langsung kehidupan di tepian sungai Banjarmasin.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: sungai sebagai simbol kehidupan, “muara” sebagai lambang tujuan hidup atau kesejahteraan.
  • Personifikasi: sungai yang “mendustakan dahaga”.
  • Repetisi: pengulangan kata “lalu-lalang” dan “berlomba” untuk menegaskan dinamika kehidupan.
  • Simbolisme: jembatan, perahu, muara, dan pelabuhan sebagai simbol sosial kehidupan manusia.
  • Ironi: masyarakat memiliki air tetapi tidak memiliki ladang.
  • Hiperbola: penggambaran harapan dan kegelisahan yang terus mengalir tanpa henti.
Puisi “Lanskap Sungai” merupakan potret sosial dan budaya masyarakat sungai yang penuh perjuangan serta harapan. Hijaz Yamani menghadirkan sungai bukan sekadar bentang alam, melainkan simbol kehidupan yang terus mengalir bersama sejarah dan cita-cita masyarakatnya. Puisi ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa di balik keindahan kota dan sungai, terdapat manusia-manusia yang terus berjuang menjaga harapan hidupnya.

Hijaz Yamani
Puisi: Lanskap Sungai
Karya: Hijaz Yamani

Biodata Hijaz Yamani:
  • Hijaz Yamani lahir pada tanggal 23 Maret 1933 di Banjarmasin.
  • Hijaz Yamani meninggal dunia pada tanggal 17 Desember 2001 (pada umur 68 tahun) dan dimakamkan di Taman Makam Bahagia di Kota Banjarbaru.
© Sepenuhnya. All rights reserved.