Puisi: Laut Kidul (Karya Ragil Suwarna Pragolapati)

Puisi “Laut Kidul” karya Ragil Suwarna Pragolapati menyoroti berbagai persoalan masyarakat Indonesia, mulai dari kemiskinan, pengangguran, ...
Laut Kidul

Oommm! Sang Yogawan berkelana di pesisir laut kidul
Melintasi pasir dan dusun, karang dan bukit tandus
"Kemiskinan masih bersimaharajalela, di mana-mana
Bagai tiada tertaklukkan manusia," katanya berduka
Dia tersenyum kepada rakyat yang bekerja amat keras
Menegurkan salam dan percakapan dengan hati terhangat
"Di mana-mana, orang bekerja dengan tabah, amat setia
Tetapi hasilnya, tiada sebanding cucuran keringatnya."
Tetapi anak-anak muda santai-santai pun tambah banyak
Tetapi gerombolan orang di gardu dan kedai pun melimpah
Tetapi orang keisengan di simpang-jalan pun merajalela
Mereka menanti. Cewek. Kerja. Rezeki. Info. Nomor buntut
"Republik ini inflasi penduduk. Harga manusia kian turun
Duh, Gusti! Negara tidak punya lapangan kerja yang cukup
Potensi manusia berceceran mubadzir sepanjang laut kidul."
Pada tiap lokawisata meledaklah hura-hura manusia kaya
Kebinalan anak muda. Cinta. Pesta. Sex. Harta. Uang
Orang haus hiburan. Belanja kesenangan mabuk kepuasan
Cowok-cewek lapar-dahaga kasih-sayang dan gila-gilaan
"Di Indonesiaku, cinta-asmara sudah lama jadi obralan
Sexualita berceceran, murah dan mudah di lokasi mewah
Nilai wanita naik-turun, dalam siklus zaman komputer
Sekolah mengkampanyekan emansipasi, karier dan mandiri
Tetapi lokawisata mendidik wanita jadilah sang parasit
Pemuas sesaat. Insah lemah suka dirayu. Mabuk dikibuli
Seminar-diskusi-simposium mengobral omong serba canggih
Tapi tenggelam di laut kidul, dalam gemuruh nafsu mesum
Wanita atas-bawah obral harga, demi asmara dan fasilitas
Duh, Gusti! Negeri ini penuh dilema, panen Simalakama
Fakta buruk disulap opini pembesar jadi pidato kemilau
Hidup gombal dibius khotbah agama dan seminar ilmiah
Laut kidul bicara banyak, parade kontroversia lengkap."
Sang Yogawan terus berkelana. Melibat. Mencatat setia
Gemuruh dadanya oleh duka, sesal, kecewa penemuannya
Negerinya tidak seindah maqalah dan fiksi ilmiah kata
Di kota orang terus bicara di TVRI, RRI dan media-pers
Di desa nasib buruk tidak berubah, kian modern kian parah

Goa Langse, 1988

Sumber: Salam Penyair (2002)

Analisis Puisi:

Puisi “Laut Kidul” karya Ragil Suwarna Pragolapati merupakan puisi sosial yang kritis dan reflektif. Melalui perjalanan seorang “Sang Yogawan” di pesisir laut selatan, puisi ini menyoroti berbagai persoalan masyarakat Indonesia, mulai dari kemiskinan, pengangguran, dekadensi moral, hingga ketimpangan antara wacana dan kenyataan hidup rakyat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kritik sosial terhadap kondisi masyarakat dan bangsa Indonesia. Selain itu, terdapat tema tentang kemiskinan, moralitas, modernisasi, dan kegelisahan terhadap masa depan bangsa.

Puisi ini bercerita tentang perjalanan Sang Yogawan menyusuri kawasan Laut Kidul (laut selatan) sambil mengamati kehidupan masyarakat. Dalam pengembaraannya, ia melihat rakyat kecil yang bekerja keras tetapi tetap miskin, banyaknya pengangguran, serta kehidupan modern yang dipenuhi hiburan dan nafsu konsumtif.

Puisi juga menggambarkan perubahan nilai sosial, terutama mengenai cinta, hubungan antarmanusia, dan posisi perempuan dalam masyarakat modern. Sang Yogawan merasa sedih karena kenyataan di lapangan sangat berbeda dengan pidato, seminar, dan wacana indah yang sering dibicarakan para elite.

Pada akhirnya, Laut Kidul menjadi simbol tempat berkumpulnya berbagai persoalan bangsa yang kompleks dan penuh kontradiksi.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini meliputi:
  • “Laut Kidul” → simbol kehidupan bangsa yang luas, liar, dan penuh misteri sosial.
  • “Sang Yogawan” → sosok pengamat atau pencari kebenaran sosial.
  • “kemiskinan bersimaharajalela” → kritik terhadap ketimpangan ekonomi yang terus berlangsung.
  • “harga manusia kian turun” → manusia kehilangan martabat akibat tekanan sosial-ekonomi.
  • “potensi manusia berceceran mubadzir” → banyak sumber daya manusia yang tidak tersalurkan.
  • “lokawisata meledaklah hura-hura manusia kaya” → kritik terhadap gaya hidup hedonis.
  • “fakta buruk disulap opini pembesar jadi pidato kemilau” → sindiran terhadap propaganda dan pencitraan penguasa.
  • “hidup gombal dibius khotbah agama dan seminar ilmiah” → kritik terhadap wacana yang tidak menyentuh realitas rakyat.
Puisi ini menyiratkan bahwa modernisasi dan kemajuan tidak selalu membawa kesejahteraan moral maupun sosial jika rakyat tetap hidup dalam kemiskinan dan ketimpangan.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa adalah gelisah, kritis, prihatin, dan penuh kekecewaan.
Ada nuansa duka sekaligus kemarahan terhadap realitas sosial yang timpang.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan bahwa:
  • Bangsa perlu lebih serius memperhatikan kesejahteraan rakyat dan lapangan kerja.
  • Modernisasi tanpa moral dan keadilan sosial dapat melahirkan kerusakan nilai dalam masyarakat.
  • Pemimpin dan kaum intelektual seharusnya tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga menghadirkan perubahan nyata.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji sosial yang kuat:
  • Imaji visual: pesisir laut, gardu, kedai, lokawisata, desa miskin.
  • Imaji gerak: orang bekerja keras, berkelana, berkerumun.
  • Imaji suasana: hiruk-pikuk wisata, kemiskinan desa, kegelisahan sosial.
  • Imaji perasaan: sedih, kecewa, prihatin.

Majas

Beberapa majas yang digunakan:
  • Personifikasi: “kemiskinan bersimaharajalela”, “laut kidul bicara banyak”.
  • Metafora: “panen Simalakama” sebagai simbol dilema sosial.
  • Satire: kritik tajam terhadap pemerintah, masyarakat modern, dan budaya konsumtif.
  • Hiperbola: penggambaran kerusakan sosial yang meluas.
  • Repetisi: penggunaan kata “tetapi” untuk menegaskan kontradiksi sosial.
Melalui puisi “Laut Kidul”, Ragil Suwarna Pragolapati menghadirkan kritik sosial yang tajam terhadap kondisi bangsa. Puisi ini tidak hanya menggambarkan kemiskinan dan kerusakan moral, tetapi juga memperlihatkan benturan antara harapan rakyat dan kenyataan hidup yang pahit. Dengan gaya yang lugas dan penuh simbol sosial, puisi ini menjadi refleksi tentang wajah masyarakat modern yang masih diliputi berbagai dilema dan ketimpangan.

Ragil Suwarna Pragolapati
Puisi: Laut Kidul
Karya: Ragil Suwarna Pragolapati

Biodata Ragil Suwarna Pragolapati:
  • Ragil Suwarna Pragolapati lahir di Pati, pada tanggal 22 Januari 1948.
  • Ragil Suwarna Pragolapati dinyatakan menghilang di Parangtritis, Yogyakarta, pada tanggal 15 Oktober 1990.
  • Ragil Suwarna Pragolapati menghilang saat pergi bersemadi ke Gunung Semar. Dalam perjalanan pulang dari kaki Gunung Semar menuju Gua Langse (beliau berjalan di belakang murid-muridnya) tiba-tiba menghilang. Awalnya murid-muridnya menganggap hal tersebut sebagai kejadian biasa karena orang sakti lumrah bisa menghilang. Namun, setelah tiga hari tiga malam tidak kunjung pulang dan dicari ke mana-mana tidak diketemukan. Tidak jelas keberadaannya sampai sekarang, apakah beliau masih hidup atau sudah meninggal.
© Sepenuhnya. All rights reserved.