Lebak, 1856
di Lebak yang pucat, kawanan kerbau menghitung kematian yang kerap. petaka tanpa genta tak henti berderap. petaka atas nama raja-raja. manusia tinggal nama. desa-desa jadi tungku, jadi sarang abu. satu demi satu.
maut, mengapa terburu-buru?
dari benua seberang, seorang asing datang. bekas kelasi yang mencintai Hindia begitu rupa—tanah yang habis diperah, hingga tinggal sepah. matanya kilat. suar bagi Rangkasbitung yang gelap. suara bagi yang tak mampu berteriak. meski sekejap.
dada, sekuat apa menahan sayat demi sayat?
dunia ini, memang tak hanya tersusun dari hitam dan putih. ada rupa-rupa warna di bawah matahari. namun soal nurani, seseorang bisa memilih: menanduk atau menunduk takluk seperti leher kerbau di hadapan pisau sembelih.
ada yang harus pergi, mengusaikan nyeri
Barru, 2018
Sumber: Kepada Toean Dekker (Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak, 2018)
Analisis Puisi:
Puisi “Lebak, 1856” karya Mariati Atkah merupakan puisi yang kuat secara historis dan sosial. Puisi ini menggambarkan penderitaan rakyat Lebak pada masa kolonial serta menghadirkan sosok “orang asing” yang kemungkinan merujuk pada Eduard Douwes Dekker atau Multatuli, penulis Max Havelaar yang terkenal karena kritiknya terhadap penindasan di Hindia Belanda.
Melalui bahasa yang puitis dan penuh simbol, penyair menghadirkan gambaran tentang penderitaan rakyat, kekuasaan yang menindas, dan keberanian moral untuk melawan ketidakadilan. Puisi ini tidak hanya berbicara tentang sejarah, tetapi juga tentang nurani manusia dalam menghadapi penindasan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah penindasan dan perjuangan melawan ketidakadilan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kemanusiaan, keberanian moral, dan penderitaan rakyat kecil di bawah kekuasaan yang zalim.
Puisi ini bercerita tentang kondisi masyarakat Lebak yang mengalami penderitaan dan penindasan pada masa kolonial. Desa-desa digambarkan hancur, rakyat menderita, dan kematian hadir di mana-mana akibat kekuasaan yang menindas “atas nama raja-raja”.
Di tengah keadaan itu, datang seorang asing dari “benua seberang” yang memiliki kepedulian terhadap penderitaan rakyat Hindia. Sosok ini digambarkan sebagai cahaya bagi Rangkasbitung yang gelap dan menjadi suara bagi mereka yang tertindas.
Puisi kemudian berkembang menjadi renungan tentang nurani manusia: apakah memilih melawan ketidakadilan atau menyerah seperti “leher kerbau di hadapan pisau sembelih”.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kekuasaan yang tidak memiliki nurani akan melahirkan penderitaan bagi rakyat kecil. Penyair memperlihatkan bagaimana manusia dapat kehilangan martabat ketika hidup dalam sistem yang menindas.
Puisi ini juga menyiratkan pentingnya keberanian moral. Sosok “orang asing” menjadi simbol bahwa kemanusiaan tidak dibatasi oleh bangsa atau asal-usul. Seseorang tetap bisa memilih membela keadilan meskipun harus menghadapi risiko besar.
Selain itu, kerbau dalam puisi menjadi simbol rakyat yang lemah dan terus dipaksa tunduk oleh kekuasaan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa muram, menyedihkan, dan penuh tekanan. Gambaran desa yang menjadi abu serta kematian yang terus datang menciptakan nuansa kelam dan tragis.
Namun, di beberapa bagian muncul suasana penuh harapan melalui hadirnya sosok yang menjadi “suara bagi yang tak mampu berteriak”.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa manusia harus memiliki keberanian untuk melawan ketidakadilan dan menjaga nurani kemanusiaannya.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa penderitaan rakyat tidak boleh diabaikan, serta bahwa kekuasaan tanpa empati hanya akan membawa kehancuran.
Imaji dalam Puisi
Puisi ini memiliki banyak imaji yang kuat, di antaranya:
- Imaji visual, misalnya “desa-desa jadi tungku, jadi sarang abu”. Pembaca dapat membayangkan kehancuran dan suasana desa yang hancur akibat penderitaan.
- Imaji gerak, misalnya “petaka tanpa genta tak henti berderap”. Larik tersebut menciptakan kesan bencana yang terus bergerak dan datang tanpa henti.
- Imaji perasaan, tampak pada “dada, sekuat apa menahan sayat demi sayat?”. Pembaca dapat merasakan luka batin dan penderitaan yang mendalam.
Majas dalam Puisi
Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
- Majas metafora, pada larik “desa-desa jadi tungku, jadi sarang abu”. Desa diibaratkan sebagai tempat kehancuran akibat penindasan.
- Majas personifikasi, pada larik “petaka tanpa genta tak henti berderap”. Petaka digambarkan seolah dapat bergerak dan berderap seperti makhluk hidup.
- Majas simbolik, pada kata “kerbau”. Kerbau melambangkan rakyat kecil yang tertindas dan dipaksa tunduk.
- Majas retoris, pada larik “maut, mengapa terburu-buru?”. Pertanyaan tersebut digunakan untuk memperkuat suasana tragis dan penderitaan.
- Majas perbandingan, pada larik “menunduk takluk seperti leher kerbau di hadapan pisau sembelih”. Perbandingan tersebut menggambarkan kepasrahan rakyat terhadap kekuasaan yang menindas.
Puisi “Lebak, 1856” karya Mariati Atkah merupakan puisi yang kuat secara sosial dan historis. Melalui gambaran penderitaan rakyat Lebak pada masa kolonial, penyair menghadirkan kritik terhadap penindasan dan ajakan untuk menjaga nurani kemanusiaan. Dengan simbol-simbol yang tajam dan suasana yang kelam, puisi ini menyampaikan pesan bahwa keberanian moral sangat penting dalam menghadapi ketidakadilan.
Karya: Mariati Atkah
Biodata Mariati Atkah:
- Mariati Atkah lahir pada tanggal 20 Mei 1987 di Soreang, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.