Lukisan Kampung Nasirun
: di pinggir sawah Doplang, Adipala!
Rasanya semua kebenaran kumpul di sini.
Nyewiji, seperti keluarga besar
dengan tetangga-tetangga keluarga besarmu.
Kuning air sumur dengan ibu-ibu
yang rajin berkumur.
Lantas dengan kegembiraan macam apa
melukisnya?
Dari tepian ini memandang
yang telah di seberang
Meniti pematang ke seberang
atau lebih seberang lagi.
Saat di seberang yang pernah dipandang,
tak lebih soal bagaimana sang nyata
siapkan warna.
Maka meski di sini engkau tak lagi beralamat,
tanamanmu juga tak pernah khianat.
Terus usil serupa tangan
menggores bentuk-bentuk liat
mirip keris tukang ruwat
Memangnya sama, bertani
dengan pegawai negeri?
Agaknya seseorang tersinggung berat.
karena di tengah aneka muslihat
tanamanmu malah ngakak.
Benar! Adakah lucu
memuliakan satu dari lainnya,
merantau atau di kampung saja?
Semuanya hebat
penuh tanggungjawab?
Merantau terus dibayangi,
sudah bisa apa anak-anak
kampung asal puluhan tahun ditinggal?
Sebaliknya, di kampung sampai tua
disibukkan, setelah seharian di kebun sawah
segera magriban di surau?
Usai wiridan, turonan:
Menduga waktu tempuh ke titik langit
seluruh benih tanaman kampung berasal.
Kroya, 2008
Sumber: Diksi Para Pendendam (2012)
Analisis Puisi:
Puisi “Lukisan Kampung Nasirun” karya Badruddin Emce menghadirkan potret kehidupan kampung yang sederhana, hangat, dan penuh nilai kebersamaan. Dengan latar pedesaan, sawah, surau, dan kehidupan warga kampung, penyair mengajak pembaca merenungkan hubungan manusia dengan asal-usulnya.
Puisi ini tidak sekadar menggambarkan suasana desa, tetapi juga memuat refleksi tentang pilihan hidup: merantau atau tetap tinggal di kampung. Melalui bahasa yang akrab dan simbolik, penyair menunjukkan bahwa setiap jalan hidup memiliki nilai dan tanggung jawab masing-masing.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehidupan kampung dan makna hubungan manusia dengan asal-usulnya. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kebersamaan, identitas, tanggung jawab hidup, dan penghargaan terhadap kehidupan sederhana.
Puisi ini bercerita tentang suasana sebuah kampung yang dipenuhi rasa kebersamaan dan nilai-nilai kehidupan sederhana. Penyair menggambarkan kampung sebagai tempat berkumpulnya “kebenaran”, tempat hubungan sosial terasa hangat seperti keluarga besar.
Di tengah gambaran kehidupan sawah dan masyarakat desa, puisi ini juga membahas pertanyaan tentang pilihan hidup antara merantau atau tetap tinggal di kampung. Penyair menunjukkan bahwa keduanya sama-sama memiliki perjuangan dan tanggung jawab.
Pada bagian akhir, puisi mengarah pada renungan spiritual dan filosofis tentang asal-usul kehidupan, digambarkan melalui “benih tanaman kampung” dan perjalanan menuju “titik langit”.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kampung bukan hanya tempat tinggal, tetapi sumber identitas dan akar kehidupan manusia.
Penyair menyiratkan bahwa kehidupan desa yang sederhana justru menyimpan kejujuran dan kebijaksanaan yang kadang hilang di tengah kehidupan modern. Selain itu, puisi ini menolak anggapan bahwa hidup di kampung lebih rendah dibanding merantau atau menjadi pegawai negeri.
Tanaman yang “tak pernah khianat” melambangkan ketulusan alam dan hasil kerja keras yang jujur. Sementara tawa tanaman di tengah muslihat menggambarkan sindiran terhadap kehidupan modern yang penuh kepura-puraan.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
- Hangat.
- Reflektif.
- Sederhana.
- Akrab.
- Kontemplatif.
Pada beberapa bagian, suasana juga terasa satiris karena penyair menyindir cara pandang masyarakat terhadap status sosial dan keberhasilan hidup.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa setiap pilihan hidup memiliki nilai dan tanggung jawab masing-masing.
Puisi ini mengajarkan agar manusia tidak meremehkan kehidupan kampung maupun pekerjaan sederhana seperti bertani. Selain itu, penyair mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan asal-usul, tradisi, dan nilai kebersamaan.
Puisi ini juga menyampaikan bahwa keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari jabatan atau kehidupan di kota, melainkan dari ketulusan dan tanggung jawab terhadap kehidupan yang dijalani.
Imaji
Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
- Imaji visual: Tampak pada gambaran sawah, sumur, pematang, tanaman, surau, dan suasana kampung.
- Imaji gerak: Terlihat pada aktivitas meniti pematang, menggores tanah liat, serta kehidupan warga kampung sehari-hari.
- Imaji perasaan: Pembaca dapat merasakan kehangatan, kerinduan, sekaligus kegelisahan tentang pilihan hidup.
- Imaji pendengaran: Tercermin melalui suasana wiridan dan percakapan masyarakat kampung.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Majas metafora: “Semua kebenaran kumpul di sini” menjadi metafora bagi kampung sebagai ruang kejujuran dan ketulusan.
- Majas personifikasi: “Tanamanmu malah ngakak” memberikan sifat manusia pada tanaman.
- Majas simbolik: Sawah, tanaman, dan benih melambangkan kehidupan, harapan, dan asal-usul manusia.
- Majas ironi: Pertanyaan “Memangnya sama, bertani dengan pegawai negeri?” mengandung sindiran sosial terhadap cara pandang masyarakat.
- Majas retoris: Banyak pertanyaan dalam puisi dipakai untuk mengajak pembaca merenung.
Puisi “Lukisan Kampung Nasirun” karya Badruddin Emce merupakan puisi reflektif yang menggambarkan kehidupan kampung sebagai ruang kehangatan, kejujuran, dan kebersamaan. Melalui gambaran sawah, surau, dan kehidupan masyarakat desa, penyair menyampaikan bahwa setiap pilihan hidup memiliki martabat dan tanggung jawabnya sendiri. Puisi ini juga menjadi pengingat agar manusia tidak melupakan akar kehidupan dan nilai-nilai sederhana yang membentuk dirinya.
Puisi: Lukisan Kampung Nasirun
Karya: Badruddin Emce
Biodata Badruddin Emce:
- Badruddin Emce lahir di Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada tanggal 5 Juli 1962.