Puisi: Lukisan Perahu (Karya Mariati Atkah)

Puisi “Lukisan Perahu” karya Mariati Atkah menggambarkan perjalanan hidup manusia yang sering kali dipenuhi rasa takut, kecemasan, dan ...

Lukisan Perahu

seseorang di buritan
berdiri membelakangi linggi,
digili-gili sunyi
berulang kali

langit hitam dikulum
badai, sebentar lagi.
sebentar angin menerpa,
lantas tubuh terurai

dingin menjerat.
dengan benak berkarat
ia pandangi sekutu
di tengah perahu

"siapa yang selamat,
siapa akan terjebak
ketika nasib buruk
tiba-tiba menyengat?"

dingin makin terasa.
malam melipat cahaya
tapi tak ada apa-apa
selain keheningan yang biasa

sesudah itu, tafsiran zaman
meniup perahu dan awaknya
ke seberang lautan
yang tak diinginkan

2022

Sumber: Sekelebatan Memori Patah Hati (Gramedia Pustaka Utama, 2024)

Analisis Puisi:

Puisi “Lukisan Perahu” karya Mariati Atkah merupakan puisi yang menghadirkan suasana gelap, sunyi, dan penuh ketidakpastian. Melalui simbol perahu, badai, dan lautan, penyair menggambarkan perjalanan hidup manusia yang sering kali dipenuhi rasa takut, kecemasan, dan ketidakjelasan nasib.

Pilihan kata dalam puisi ini terasa padat dan simbolis sehingga pembaca diajak menafsirkan makna kehidupan di balik gambaran perjalanan sebuah perahu di tengah malam dan badai.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang berada di atas perahu dalam suasana malam yang dingin, penuh ancaman badai, dan diliputi rasa cemas terhadap nasib dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

Mereka berada dalam keadaan tidak pasti, mempertanyakan siapa yang akan selamat dan siapa yang akan terjebak ketika nasib buruk datang. Pada akhirnya, perahu dan awaknya terbawa menuju tempat yang tidak diinginkan akibat “tafsiran zaman”.

Tema

Tema utama puisi ini adalah ketidakpastian hidup dan kecemasan manusia terhadap nasib. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang perjalanan hidup, perubahan zaman, dan keterasingan manusia.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan manusia sering diibaratkan seperti perjalanan perahu di tengah lautan yang penuh ancaman. Manusia tidak selalu mampu menentukan arah hidupnya karena keadaan, zaman, dan nasib dapat membawa seseorang ke tempat yang tidak diharapkan.

Puisi ini juga dapat dimaknai sebagai kritik terhadap perubahan zaman yang memengaruhi kehidupan manusia hingga kehilangan arah dan kepastian.

Selain itu, suasana dingin, badai, dan keheningan menggambarkan rasa takut dan kesepian manusia dalam menghadapi masa depan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Beberapa amanat yang dapat diambil dari puisi ini antara lain:
  • Kehidupan penuh dengan ketidakpastian sehingga manusia perlu bersiap menghadapi berbagai kemungkinan.
  • Manusia tidak selalu dapat mengendalikan arah hidupnya.
  • Perubahan zaman dapat membawa dampak besar terhadap kehidupan manusia.
  • Dalam menghadapi kesulitan, manusia perlu tetap tenang dan saling mendukung.

Majas

Puisi ini menggunakan beberapa majas, antara lain:
  • Majas Personifikasi: Contohnya “langit hitam dikulum badai”. Badai digambarkan seolah memiliki mulut yang dapat “mengulum” langit. Contoh lainnya “malam melipat cahaya”. Malam digambarkan mampu melipat cahaya seperti manusia melipat benda.
  • Majas Metafora: Perahu dalam puisi dapat dimaknai sebagai simbol kehidupan manusia, sedangkan lautan melambangkan perjalanan hidup yang penuh tantangan.
  • Majas Retoris: Contohnya “siapa yang selamat, siapa akan terjebak”. Kalimat tersebut berupa pertanyaan yang menegaskan kecemasan.
Puisi “Lukisan Perahu” karya Mariati Atkah merupakan puisi yang kaya akan simbol dan suasana emosional. Melalui gambaran perjalanan perahu di tengah malam dan badai, penyair menyampaikan refleksi tentang kehidupan manusia yang penuh ketidakpastian dan perubahan zaman.

Puisi ini mengajak pembaca merenungkan bagaimana manusia menghadapi rasa takut, nasib, dan perjalanan hidup yang terkadang membawa seseorang menuju arah yang tidak pernah diinginkan.

Mariati Atkah
Puisi: Lukisan Perahu
Karya: Mariati Atkah

Biodata Mariati Atkah:
  • Mariati Atkah lahir pada tanggal 20 Mei 1987 di Soreang, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.