Puisi: Magrib Pun Tiba Terbata-bata (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Magrib Pun Tiba Terbata-bata” karya Gunoto Saparie menghadirkan suasana senja yang tidak biasa—bukan sekadar peralihan waktu, tetapi juga ...
Magrib Pun Tiba Terbata-bata

magrib pun tiba terbata-bata
ketika kau mengeja ayat-ayat suci
di luar jendela gugur dedaunan tua
ada seekor kelelawar terbang sendiri
 
kaukah yang menggemakan azan
menguak sisa cahaya makin sirna 
ketika sepotong angin melintas cuaca
ketika sepotong doa tersendat rawan
 
magrib pun tiba terbata-bata
bayang-bayang siapakah di halaman
menghitung jarak dengan kematian
jam dinding itu pun berkeloneng purba

2021

Analisis Puisi:

Puisi “Magrib Pun Tiba Terbata-bata” karya Gunoto Saparie menghadirkan suasana senja yang tidak biasa—bukan sekadar peralihan waktu, tetapi juga momen reflektif yang sarat kegelisahan spiritual. Dengan bahasa yang sederhana namun simbolik, puisi ini mengajak pembaca merenungi hubungan antara manusia, waktu, dan kematian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perenungan spiritual di ambang waktu (senja) yang berkaitan dengan kefanaan hidup dan kematian. Selain itu, terdapat tema kegelisahan dalam menjalankan nilai-nilai religius.

Puisi ini bercerita tentang momen datangnya waktu magrib, saat seseorang tengah membaca ayat-ayat suci. Di luar, alam menunjukkan tanda-tanda perubahan: dedaunan gugur, cahaya memudar, dan seekor kelelawar terbang sendiri.

Dalam suasana tersebut, muncul pertanyaan dan kegelisahan: apakah azan benar-benar menggema dengan penuh kesadaran, atau justru tersendat? Pada bagian akhir, puisi mengarah pada refleksi tentang kematian—bayang-bayang di halaman seolah mengukur jarak hidup manusia menuju akhir.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini meliputi:
  • “magrib tiba terbata-bata” → waktu yang datang dengan keraguan atau ketidaksiapan manusia.
  • “mengeja ayat-ayat suci” → usaha mendekatkan diri pada Tuhan, tetapi belum sepenuhnya lancar atau khusyuk.
  • “dedaunan tua gugur” → simbol penuaan dan kematian.
  • “kelelawar terbang sendiri” → kesunyian dan keterasingan.
  • “azan” dan “doa tersendat” → spiritualitas yang terganggu atau tidak utuh.
  • “bayang-bayang menghitung jarak dengan kematian” → kesadaran akan keterbatasan hidup.
  • “jam dinding berkeloneng purba” → waktu yang terus berjalan, membawa manusia menuju akhir.
Puisi ini menyiratkan bahwa manusia sering kali menghadapi momen spiritual dengan ketidaksiapan, sementara waktu terus berjalan tanpa menunggu.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa adalah sendu, hening, dan penuh kegelisahan. Ada nuansa sakral, tetapi juga diwarnai ketidaktenangan batin.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan bahwa:
  • Manusia perlu lebih sadar dan sungguh-sungguh dalam menjalani kehidupan spiritualnya.
  • Waktu terus berjalan menuju kematian, sehingga penting untuk memperbaiki diri sebelum terlambat.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat dan simbolik:
  • Imaji visual: dedaunan gugur, bayang-bayang di halaman, kelelawar terbang.
  • Imaji auditif: azan, “jam dinding berkeloneng”.
  • Imaji suasana: cahaya yang memudar saat senja.
  • Imaji perasaan: gelisah, takut, dan reflektif.

Majas

Beberapa majas yang digunakan:
  • Personifikasi: “magrib tiba terbata-bata”, “jam dinding berkeloneng purba”.
  • Metafora: “menghitung jarak dengan kematian”.
  • Simbolisme: magrib, dedaunan, bayangan, dan waktu sebagai simbol kehidupan dan kematian.
  • Repetisi: pengulangan “magrib pun tiba terbata-bata” untuk menegaskan suasana.
Melalui puisi ini, Gunoto Saparie menghadirkan refleksi mendalam tentang pertemuan antara waktu, spiritualitas, dan kematian. “Magrib Pun Tiba Terbata-bata” tidak hanya menggambarkan senja sebagai fenomena alam, tetapi juga sebagai simbol batas—antara terang dan gelap, antara hidup dan mati, antara kesiapan dan keraguan manusia dalam menghadapi akhir.

Gunoto Saparie
Puisi: Magrib Pun Tiba Terbata-bata
Karya: Gunoto Saparie

Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.