Malam yang Panjang
(I)
Malam yang panjang dan syahdu mengurungku. Malam yang khali memberiku impian warna beribu warna. Di sini kutemui kau. Di sini kukenangkan engkau.
Malam yang panjang adalah duniaku, malam yang panjang adalah piala dimana air mata dan keluhku jatuh. Di sini kuratapkan kau,
di sini kupanggil engkau, sementara kujangkau tali yang terulur dari syorga. Tuhan telah mengulurkannya padaku!
(Kuucapkan namamu sepanjang malam
sepanjang doa-doa sembahyang)
Engkau adalah mawar mungil di kebun tertimpa fajar.
Engkaulah kembang di kebun larangan berpagar.
Seorang pengembara lewat dan tertegun;
ia adalah pejalan sunyi yang letih;
ia adalah aku.
Seorang gadis kecil menerobos pagar, dan dipetiknya sekuntum mawar.
Lalu ia pun menyanyi kecil. Berlari dan menari. Alangkah indahnya dan mungil ia!
Aku memandang dan tersenyum kepadanya.
Engkau adalah ilham bagi sajakku yang lahir tertunda,
menggelepar di angkasa anganku.
Engkaulah keindahan tak terduga dalam puisi-puisiku,
berpijar dalam bising kehidupan, sunyi dan terlepas kembali.
Seorang penyair menggapai-gapaikan tangan-tangan khayalnya.
Ia kehilangan kata-kata. Ia kehilangan segalanya.
Berbagai bayangan menabiri keindahan sajakku
yang terlena.
Engkau adalah siulan malam lagu-lagu cinta.
Akulah pendengar yang gelisah karna terlupa
bagaimana menyiulkan dan melagukannya kembali.
Lagu itupun kini berlalu, berpusar di tepi hati.
Engkau adalah garis dan warna
dari sebuah lukisan yang hidup dan berbicara,
dimana aku lebur dalam pandang dan kesan;
lukisan paling indah yang pernah aku jumpai.
Engkau adalah gerak dan irama paling halus
dari sebuah tarian. Dari sebuah pernyataan jiwa dan perasaan;
sedang aku adalah symphoni pengiring yang terpesona,
kemudian engkau sendiri lebur dan menjelma
menjadi symphoni itu sendiri.
Engkaulah titik putih di langit tinggi menghitam,
engkaulah bintang gemintang, warna dari hati dan alam. Engkaulah burung undan yang bertengger di ranting pohon di atas puncak dunia paling tinggi,
di atas kabut memutih dan awan pegunungan.
Engkaulah bidadari syorga yang pernah kulihat dengan mata lahiriyahku, seperti aku pernah membacanya, tersirat dalam Kitab Suci.
Seakan Tuhan pernah menjanjikannya dalam syahdu sembahyangku, dalam doa dan sujudku di subuh
dan di segala waktu.
Hari ini kupejamkan mataku dan nampak kau menengok jendelaku.
Hari ini kulihat kau berdiri di tengah segala gadis kotaku, dan mereka pun menari dan menyanyi mengelilingimu. Kemudian kubuka mataku dan hari pun teranglah. Sebuah mimpi beterbangan, pecah di tengah siang.
Kulihat di jalan depan rumahku, perempuan dan gadis-gadis lewat
tapi tak seorang di antara mereka kulihat
engkau berjalan mendekat.
Ibuku yang tua pun menghampiri dan menepuk bahuku
dan aku pun lalu menoleh dengan keluh dan ratapan yang rawan.
Lalu keras-keras kunyanyikan laguku bersama angin siang yang panas:
(Kemana kutambatkan hatiku
kemana kutautkan kasihku
walau bulan cerlang mengembang
dalam dada s'makin hampa
Kemana kuserahkan diriku
kemana kupasrahkan cintaku
walau laut ombaknya biru
dalam dada s'makin sendu
Bawa daku sampanku berlayar
menempuh haru puncak gelora
biar tenggelam di laut mimpi
di sana bulan serahkan diri
Tenanglah, tenang duhai jiwaku
nantilah pasti kan datang waktu
biar bulan di laut biru
kekal sudah dalam lagu)
Akulah orang mabuk yang letih dan terengah-engah, berlarian di jalanan dan bernyanyi sepanjang hari. Aku adalah orang gila yang meneriakkan lagu ke segenap penjuru.
Akulah orangnya,
akulah yang bernyanyi, menangis dan berteriak itu!
Lalu sekali lagi aku bernyanyi dan menangis,
lalu berlari
dan berlari.
Dalam letihku aku pun berhenti dan duduk. Lalu kupejamkan mataku.
Sekali lagi engkau pun datang menghampir.
Tapi aku adalah penyanyi yang kehabisan nada
akulah penyair yang kehilangan pena dan tinta
Aku adalah pelukis yang lupa akan cat dan warna
aku adalah penari yang kaku dalam gerak dan gaya
Aku cuma pemabuk dan orang gila yang hilang arah
tapi akulah pula tenaga kata tanpa suara
Dan bahasa cinta adalah bahasa tanpa tulis dan suara;
kata-kata telah hilang harga artinya;
huruf-huruf telah tiada lagi berbunyi bersuara;
terkulai ia bagai seekor burung terbang jatuh dari angkasa, menggelepar dan mengepak-kepakkan sayapnya yang patah.
Bahasa cinta adalah pula serangkai merjan
yang sukar dipisahkan warna dan cahya kilaunya.
Siapakah engkau
dan kelak, pada siapa tali hatimu kau tambatkan? Aku tak tahu.
Siapakah engkau
dan kelak, siapa pula kan mempersuntingkan mawar di pangkal rambutmu yang tergirai? Aku tak tahu.
Tapi kini dan besok selalu kan kupinta perkenan bagiku buat selalu memujamu. Sebab engkaulah ikan mas dalam akuarium yang mungil, berlenggang menari berenang
dalam riak air yang tak cukup kurenangi.
Siapakah engkau
dan dimanakah engkau.
Aku tak tahu.
Tapi meski di luar tahu dan ijinmu sekalipun,
maka sepanjang usia belum sempat mengapur
kan kukenang dan kusanjung engkau. Sebab
engkaulah jiwa puisi dan hidupku sepanjang hari.
Engkau telah pulangkan pengembara yang letih dan yang lupa akan segala milik rohaninya. Ia kini tahu arti keluarga, rumah dan cinta. Telah engkau pulangkan ia pada cinta bundanya, telah engkau tunjukkan ia pada hakikat dan nilai harga dirinya.
Maka bangkitlah ia dalam sulaman sarang sutera cinta.
Cinta dari segala cinta!
Dan pengembara itu adalah
aku!
Sekali pastilah nanti datang
kesempatan dimana aku dan kau bersahabat dengan alam.
Berjalan dan berbicara, bercakap dan bercerita,
tentang masa kanak, tentang masa depan, —
seperti alam itu sendiri mengajarkannya pada kita.
Begitulah, aku bisikkan padamu sesuatu yang agung.
akan kuceritakan padamu sesuatu yang maha bijaksana.
Nanti tiada seorang pun kan membisingkan kita,
tiada seorang pun kan sengaja mengusik dan bertanya.
Tiada lain kitalah yang ada cuma.
Ya, kitalah cuma yang ada!
Engkau adalah lagu dan irama sajak-sajakku,
engkaulah gairah bagi kelahiran puisi-puisiku.
Engkau adalah ilham yang merayap, mengendap dalam khayalku,
engkaulah tinta yang mengalir dalam jari dan penaku,
engkau adalah kata-kata paling mantap dan indah
yang selalu kan kugapai dengan tangan-tangan anganku.
Dan kini kutuliskan untuk jiwa sajak-sajakku.
Engkaulah rahsia yang tak kunjung rampung kureka-reka.
(Maka malam yang panjang kini turunlah
dan selalu kusebut namamu di antara doa-doaku yang rawan
dan kulihat engkau dalam sujud gelisah
syahdu sembahyang tahajudku)
(II)
Seakan akulah kini yang tegak termangu di pantai, memandang laut lepas tenang membiru.
Laut yang hidup dalam golak dan berkata-kata dalam bahasa bisu.
Berdiri aku
berkawan anak-anak angin, pasir putih dan cakrawala
yang angkuh dan gaib.
Aku bersatu dengan suasana,
dalam haru,
dalam kenang,
dalam ketiadaan bentuk alam.
Aku lebur!
Seakan akulah laut, angin, cakrawala dan alam,
seakan akulah suasana semesta.
Aku lebur!
Dari sini kupandang engkau,
dari sini kukenang engkau.
Kekasih yang jauh memanggil
dan jiwaku yang rindu menggigil.
Aku lebur!
Di sini kulihat kotaku. Musim hujan di sana
telah jatuh berderai satu-persatu mencari cintaku dimana ia berlabuh. Kemudian dibasuhnya kenangku dan rinduku pun berkilau
memperkaca engkau.
Dulu pernah sekali aku pulang seperti anak ayam hilang induk dan sarang.
Kukayuh sepeda dalam hujan,
di atas becek jalanan berlumpur hitam,
di atas aspal berkilap
dalam kelam.
Sekarang baru kurasakan di rumah ini. Ya, betapa indahnya ketenteraman. Alangkah nikmat dan hangatnya
kehidupan. Pastilah kelak kita akan bisa membina
kehidupan keluarga idaman
yang lebur
dalam cinta.
Dulu pernah aku tiada semalam pun pulang. Keluar selalu dari rumah dalam suasana pengembaraan. Dan setelah kutemukan engkau, ya, setelah kutemukan engkau, betapa kini bisa kurasakan
betapa indah dan nikmatnya
pulang ke rumah dalam kehangatan
berkeluarga.
Dulu pernah
kuabaikan suasana cinta kasih bapa bunda,
sanak-saudara dan keakraban rumah kita.
Tapi kini kulihat engkau
dan kulihat pula semuanya:
cinta bunda dan bapak, kakak dan adik-adik
serta semuanya yang bersikap baik-baik.
Engkau telah pulangkan daku,
engkau telah pulihkan hati dan pandang jiwaku,
dengan pribadi manusia:
lelaki sejati.
Betapa rinduku, betapa inginku,
pulang berkeluarga dalam suasana segar dan ramah.
Hidup bersama, berkelakar dengan anak-anak yang segar tiada payah.
Aku pun kini lebur
hilang dalam bayangan kebesaran pribadi cintamu.
Sekarang mari
kuantarkan engkau dalam impian.
Duduklah di sampingku,
berlayar di lautan mimpi, menengok segala laut dan pantai,
berlabuh di setiap kota sambil bercerita juga
tentang anak-anak kita
tentang penghuni tanah air yang bakal tiba.
Sementara itu istirahatlah engkau
dan dengarkan ceritaku sebentar saja.
Tentang kematangan kehidupan bercinta.
Ya, karna kita bukanlah lagi kanak
yang terlela oleh bayang-bayang cinta yang pandak,
yang selalu terdesak
oleh pikiran-pikiran belum masak.
(Ah, tidak!
Mari kita bangunkan cinta yang agung,
kekal bagai gurun dan gunung,
abadi bagai samudera dan angkasa yang anggun.
Mari!
Lihatlah aku
aku hilang dalam agung cintamu!)
Darah belia yang kita miliki
seperti pucuk-pucuk cahya mentari menebah bumi.
Hati dan jiwa muda yang panas bergetar
seperti getar cinta kita yang hidup berakar.
Namun lupakan masa kanak yang singkat
dan yang subur dalam angan.
Lupakan cinta yang terpampat oleh landa impian
dalam genggaman kulit telapak tangan.
Diamlah. Jangan lagi tangiskan
sajak sedih yang getir, cucuran darah penyair.
Bijaksanalah dan jangan lagi risaukan
suara langkahku yang membanjir
karna semuanya belum berakhir.
Pandanglah aku! Pandanglah laut depanmu!
Bayang pribadiku menyata di kaca cintamu
dan hasratku menghambur
dalam tangan Tuhan dan waktu.
Kini kubawa engkau pulang dari segala impian,
berjalan berdua menyusuri setiap lorong dan jalan.
Pulang menabikkan salam selamat malam pada tiap orang.
Mereka pada berbisik memperhatikan kita:
— Seperti hidup dalam cerita pendek saja
mereka lupa segalanya.
Ah, aku ingat sebuah syair cinta,
waktu masih sekolah di kota! — kata seorang perempuan tua.
Engkau pun lalu tersenyum:
Alangkah bahagia kita! Rahmat cinta! —
Lalu engkau bertanya apakah aku sudah lupa,
akan kenikmatan cinta remaja.
Aha, tidak. Tentu saja tidak.
Ah, seperti lautan di sana itu, kita pun berjalan terus
Dan seperti anak-anak angin, kita bersiulan bertembangan
seperti alam, bunga-bunga dan dedaunan di pagar tanaman
seperti dua ekor angsa di kolam renang.
Dan kita pun bercakap, bercerita dan berkata-kata juga,
seperti banjir yang pantang surut
cintaku hadir pantang berkawan maut.
Malam yang panjang
cintaku berkelana diam
Malam yang sumbang
sajak pun lahir di tengah alam.
Sumber: Horison (Juni, 1972)
Catatan:
— Semiklasik Indonesia: "Bulan Biru" / D. Muharso — Suhadi.
Analisis Puisi:
Puisi “Malam yang Panjang” merupakan karya liris yang panjang dan reflektif, memadukan tema cinta, spiritualitas, pencarian jati diri, serta perjalanan batin seorang individu. Struktur puisinya yang naratif dan imajinatif memperlihatkan transformasi emosional dari kegelisahan menuju pemahaman dan ketenangan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta sebagai kekuatan transformasi batin dan pencarian makna hidup. Selain itu, terdapat tema tentang kerinduan, spiritualitas, dan perjalanan menuju kedewasaan jiwa.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengalami pergulatan batin dalam malam panjang, dipenuhi kerinduan terhadap sosok yang dicintainya.
Pada bagian awal, malam digambarkan sebagai ruang kontemplasi—tempat penyair mengenang, meratap, dan berdoa. Sosok “engkau” hadir sebagai figur ideal: kekasih, inspirasi, sekaligus simbol keindahan dan harapan.
Seiring perjalanan puisi, penyair mengalami kegelisahan yang intens—ia merasa kehilangan arah, bahkan mengibaratkan dirinya sebagai penyair yang kehilangan kata, pelukis tanpa warna, dan penari tanpa gerak. Namun, sosok “engkau” perlahan menjadi titik balik yang mengembalikannya pada kesadaran akan cinta, keluarga, dan makna kehidupan.
Pada bagian kedua, terjadi transformasi: penyair menemukan ketenangan, menyadari pentingnya rumah, keluarga, dan cinta yang lebih matang. Puisi berakhir dengan harapan akan kehidupan bersama yang lebih dewasa dan bermakna.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini meliputi:
- Malam panjang melambangkan fase kegelisahan, pencarian, dan kontemplasi batin.
- Sosok “engkau” bukan sekadar kekasih, tetapi simbol harapan, inspirasi, bahkan petunjuk menuju kedewasaan.
- Kehilangan kemampuan berkarya (penyair tanpa kata, pelukis tanpa warna) mencerminkan krisis identitas.
- Kembali ke rumah dan keluarga melambangkan pemulihan diri dan penemuan makna hidup.
- Laut dan perjalanan menjadi simbol perjalanan hidup yang luas dan penuh dinamika.
Puisi ini menyiratkan bahwa cinta yang tulus mampu mengubah manusia dari kegelisahan menuju pemahaman dan kedewasaan hidup.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini mengalami perkembangan:
- Awal: sendu, gelisah, dan melankolis
- Tengah: intens, penuh gejolak emosional
- Akhir: tenang, hangat, dan penuh harapan
Perubahan suasana ini mencerminkan perjalanan batin penyair.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat diambil dari puisi ini antara lain:
- Cinta sejati bukan hanya perasaan, tetapi juga proses pendewasaan diri.
- Kegelisahan dan kehilangan arah adalah bagian dari perjalanan hidup.
- Manusia perlu kembali pada nilai-nilai dasar seperti keluarga, rumah, dan kasih sayang.
- Inspirasi dan harapan dapat datang dari orang yang kita cintai.
- Kedewasaan cinta menuntut kesadaran, tanggung jawab, dan ketulusan.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji yang kuat dan beragam:
- Imaji visual: malam panjang, laut biru, bintang, gadis, rumah, pantai.
- Imaji auditori: nyanyian, siulan, suara doa, lagu cinta.
- Imaji kinestetik: berlari, berlayar, menari, menggapai.
- Imaji emosional: rindu, gelisah, haru, kebahagiaan.
- Imaji simbolik: laut (kehidupan), malam (kontemplasi), rumah (ketenangan).
Imaji-imaji ini membangun suasana yang hidup dan mendalam.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini meliputi:
- Metafora: “malam sebagai dunia”, “engkau sebagai ilham”.
- Personifikasi: malam, laut, dan alam seolah hidup dan berbicara.
- Hiperbola: ungkapan berlebihan untuk menegaskan emosi (misalnya kehilangan segalanya).
- Simbolisme: laut, bintang, rumah, dan perjalanan sebagai lambang kehidupan.
- Perbandingan (simile): penggunaan kata “seperti” untuk memperjelas gambaran.
Puisi “Malam yang Panjang” karya Budiman S. Hartoyo merupakan karya yang menggambarkan perjalanan batin manusia dari kegelisahan menuju kedewasaan melalui cinta. Dengan bahasa yang puitis dan imajinatif, puisi ini menegaskan bahwa cinta yang tulus mampu menjadi sumber kekuatan, inspirasi, dan pemahaman hidup yang lebih dalam.
