Puisi: Mata Bulat (Karya Gunoto Saparie)

Puisi “Mata Bulat” karya Gunoto Saparie mengajak pembaca untuk merenungkan bahwa tidak semua hal dalam hidup dapat dipahami secara utuh, dan selalu ..
Mata Bulat

mata bulat sebening telaga
polos menatap cermin retak
seusai gelisah dalam tidurnya
ada isyarat di luar kehendak

2021

Analisis Puisi:

Puisi “Mata Bulat” karya Gunoto Saparie merupakan puisi pendek yang padat makna, dengan kekuatan utama terletak pada simbol dan kesederhanaan diksi. Dalam larik-larik yang singkat, penyair menghadirkan refleksi tentang kesadaran diri, kegelisahan batin, dan isyarat tak terduga dalam kehidupan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesadaran diri dan kegelisahan batin. Selain itu, terdapat tema tentang ketidaksadaran manusia terhadap sesuatu yang berada di luar kendalinya.

Puisi ini bercerita tentang sepasang mata yang jernih dan polos, yang sedang menatap cermin retak setelah mengalami kegelisahan dalam tidur.

Situasi ini menggambarkan momen setelah bangun dari kegelisahan—sebuah keadaan di mana seseorang mencoba memahami dirinya sendiri. Namun, cermin yang retak menunjukkan bahwa refleksi tersebut tidak utuh.

Di akhir, muncul “isyarat di luar kehendak”, yang menandakan adanya sesuatu yang terjadi di luar kontrol atau kesadaran manusia.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Manusia sering berusaha memahami dirinya, tetapi refleksi yang didapat tidak selalu utuh atau jelas.
  • Kegelisahan batin dapat muncul bahkan dalam kondisi tidak sadar (tidur).
  • Ada kekuatan atau kejadian di luar kehendak manusia, yang memengaruhi kehidupan.
  • Kepolosan tidak selalu menjamin pemahaman, karena realitas bisa terpecah seperti cermin retak.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini adalah hening, misterius, dan sedikit gelisah. Ada kesan kontemplatif yang kuat, seolah pembaca diajak merenung secara diam-diam.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat ditangkap antara lain:
  • Manusia perlu menyadari keterbatasan dalam memahami diri dan kehidupan.
  • Tidak semua hal dapat dikendalikan atau dipahami secara utuh.
  • Penting untuk menerima kenyataan bahwa hidup mengandung ketidakpastian.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang sederhana namun kuat, seperti:
  • Imaji visual: “mata bulat sebening telaga”, “cermin retak”.
  • Imaji suasana: kegelisahan setelah tidur.
  • Imaji simbolik: refleksi diri yang tidak utuh.
Imaji tersebut memperkuat kesan introspektif.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Simile (perbandingan): “mata bulat sebening telaga”.
  • Metafora: “cermin retak” sebagai simbol identitas yang tidak utuh.
  • Simbolisme: mata (kesadaran), cermin (refleksi diri), retak (ketidaksempurnaan).
  • Personifikasi: kegelisahan yang seolah hadir dalam tidur.
Puisi “Mata Bulat” merupakan refleksi singkat namun mendalam tentang upaya manusia memahami dirinya di tengah kegelisahan dan ketidakpastian. Gunoto Saparie berhasil menghadirkan makna besar melalui bahasa yang minimalis, mengajak pembaca untuk merenungkan bahwa tidak semua hal dalam hidup dapat dipahami secara utuh, dan selalu ada “isyarat” yang datang dari luar kehendak manusia.

Gunoto Saparie
Puisi: Mata Bulat
Karya: Gunoto Saparie


Biodata Gunoto Saparie:

Gunoto Saparie lahir di Kendal, Jawa Tengah, 22 Desember 1955. Pendidikan formal yang ditempuh adalah Sekolah Dasar Kadilangu, Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Pertama Cepiring, Kendal, Sekolah Menengah Ekonomi Atas Kendal, Akademi Uang dan Bank Yogyakarta, dan Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Semarang. Sedangkan pendidikan nonformal Madrasah Ibtidaiyyah Islamiyyah Tlahab, Gemuh, Kendal dan Pondok Pesantren KH Abdul Hamid Tlahab, Gemuh, Kendal.

Selain menulis puisi, ia juga mencipta cerita pendek, kritik sastra, esai, dan kolom, yang dimuat di sejumlah media cetak terbitan Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, dan Prancis. Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Melancholia (Damad, Semarang, 1979), Solitaire (Indragiri, Semarang, 1981),  Malam Pertama (Mimbar, Semarang, 1996),  Penyair Kamar (Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah, Semarang, 2018), dan Mendung, Kabut, dan Lain-lain (Cerah Budaya Indonesia, Jakarta, 2019). Kumpulan esai tunggalnya Islam dalam Kesusastraan Indonesia (Yayasan Arus, Jakarta, 1986). Kumpulan cerita rakyatnya Ki Ageng Pandanaran: Dongeng Terpilih Jawa Tengah (Pusat Bahasa, Jakarta, 2004).  Novelnya Selamat Siang, Kekasih dimuat secara bersambung di Mingguan Bahari, Semarang (1978) dan Bau (Pelataran Sastra Kaliwungu, Kendal, 2019) yang menjadi nomine Penghargaan Prasidatama 2020 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Ia juga pernah menerbitkan antologi puisi bersama Korrie Layun Rampan berjudul Putih! Putih! Putih! (Yogyakarta, 1976) dan Suara Sendawar Kendal (Karawang, 2015). Sejumlah puisi, cerita pendek, dan esainya termuat dalam antologi bersama para penulis lain.  Puisinya juga masuk dalam buku Manuel D'Indonesien Volume I terbitan L'asiatheque, Paris, Prancis, Januari 2012. Ia juga menulis puisi berbahasa Jawa (geguritan) di Panjebar Semangat dan Jaya Baya.

Ia menjabat Pemimpin Redaksi Kampus Indonesia (Jakarta), Tanahku (Semarang), Delik Hukum Jateng (Semarang) setelah sebelumnya menjabat Redaktur Pelaksana dan Staf Ahli Pemimpin Umum Koran Wawasan (Semarang), Pemimpin Redaksi Radio Gaya FM (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Faktual (Semarang), Redaktur Pelaksana Tabloid Otobursa Plus (Semarang), dan Redaktur Legislatif  (Jakarta).

Kini ia masih aktif menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Info Koperasi (Kendal), Majalah Justice News (Semarang), dan Majalah Opini Publik (Blora).

Saat ini ia menjabat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT), Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Wilayah Jawa Tengah, Ketua III Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Jawa Tengah, dan Ketua Forum Komunikasi Wartawan Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Tengah. Sebelumnya ia pernah menjabat Ketua Kelompok Studi Seni Remaja (KSSR) Kendal, Ketua Pelaksana Dewan Teater Kendal, Sekretaris Forum Komunikasi Studi Mahasiswa Kekaryaan (Fokusmaker) Jawa Tengah, Wakil Ketua Ormas MKGR Jawa Tengah, Fungsionaris DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Sekretaris DPD Badan Informasi dan Kehumasan Partai Golkar Jawa Tengah, dan Sekretaris Bidang Kehumasan DPW Partai Nasdem Jawa Tengah. 

Sejumlah penghargaan di bidang sastra, kebudayaan, dan jurnalistik telah diterimanya, antara lain dari Kepala Perwakilan PBB di Jakarta dan Nairobi, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Pusat, Menteri Perumahan Rakyat, Menteri Penerangan, Menteri Luar Negeri, Menteri Lingkungan Hidup, Pangdam IV/ Diponegoro, dan Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah. Selain itu, di tengah kesibukannya menulis, ia kadang diundang untuk membaca puisi, menjadi juri lomba kesenian, pemakalah atau pembicara pada berbagai forum kesastraan dan kebahasaan, dan mengikuti sejumlah pertemuan sastrawan di Indonesia dan luar negeri.
© Sepenuhnya. All rights reserved.