Puisi: Melihat Tangan Terkilir (Karya Abinaya Ghina Jamela)

Puisi “Melihat Tangan Terkilir” karya Abinaya Ghina Jamela menggambarkan pengalaman sederhana tentang seseorang yang mengalami cedera pada tangan.

Melihat Tangan Terkilir

– buat Nermi Silaban

Ketika malam, terdengar suara merintih.
Ia merasa kesakitan serupa burung patah
sayap. Ibu memasang perban seputih susu.
Dia tak bisa memasang baju, dia tak bisa
menulis puisi, dia tak bisa makan dengan
benar, dia tak bisa mengupil. Dia berteriak
seperti ingin berperang dengan monster.
Dia mengeluh seakan induk ayam kehilangan
anaknya. Lengannya tak bisa disentuh seakan
cat yang belum kering. Dia tak mudah membalik
halaman buku. Saat mengusir lalat, tanganku dan
ia beradu. Ia kesakitan serupa cicit anak ayam.

2016

Sumber: Resep Membuat Jagat Raya (Kabarita, 2017)

Analisis Puisi:

Puisi “Melihat Tangan Terkilir” karya Abinaya Ghina Jamela menggambarkan pengalaman sederhana tentang seseorang yang mengalami cedera pada tangan. Dengan gaya bahasa khas anak-anak yang jujur dan imajinatif, puisi ini menghadirkan rasa sakit, keluhan, sekaligus perhatian terhadap orang yang sedang terluka.

Meskipun bertema ringan, puisi ini mampu menghadirkan emosi yang kuat melalui perbandingan-perbandingan yang dekat dengan dunia anak.

Tema

Tema utama puisi ini adalah rasa sakit dan kepedulian terhadap orang yang terluka.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengalami tangan terkilir hingga merasa sangat kesakitan. Pada malam hari terdengar suara rintihan karena rasa sakit tersebut.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa hal kecil seperti cedera dapat membuat seseorang sangat kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari.

Puisi ini juga menunjukkan pentingnya perhatian dan kepedulian keluarga, terutama sosok ibu yang membantu merawat orang yang sakit.

Selain itu, puisi ini mengajarkan anak-anak untuk memahami rasa sakit orang lain dan lebih berhati-hati dalam bertindak.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa sedih, lucu, dan penuh empati. Ada rasa kasihan terhadap seseorang yang kesakitan, tetapi juga terdapat sisi ringan dan jenaka dari cara penyair menggambarkan keadaan tersebut.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa kesehatan dan anggota tubuh sangat penting dalam kehidupan sehari-hari.

Puisi ini juga mengajarkan agar kita peduli terhadap orang yang sedang sakit serta berhati-hati agar tidak mengalami cedera.

Selain itu, penyair menunjukkan bahwa rasa sakit dapat membuat seseorang lebih menghargai hal-hal kecil yang biasanya dianggap mudah dilakukan.

Imaji

Puisi ini memiliki beberapa imaji yang kuat, antara lain:
  • Imaji pendengaran, terlihat pada suara merintih dan teriakan kesakitan.
  • Imaji visual, tampak pada perban putih dan lengan yang terkilir.
  • Imaji gerak, terlihat pada kesulitan memakai baju, makan, dan membalik halaman buku.
  • Imaji perasaan, menghadirkan rasa sakit, sedih, dan kasihan.
  • Imaji sentuhan, tampak pada lengan yang tak bisa disentuh seperti cat belum kering.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Perumpamaan (simile), seperti “kesakitan serupa burung patah sayap”, “perban seputih susu”, dan “serupa cicit anak ayam”.
  • Hiperbola, pada gambaran berteriak seperti ingin berperang dengan monster.
  • Personifikasi, terlihat pada rasa sakit yang digambarkan begitu hidup dan aktif mengganggu aktivitas.
  • Metafora, pada lengan yang “seakan cat yang belum kering”.
  • Repetisi, tampak pada pengulangan “dia tak bisa” untuk menegaskan kesulitan yang dialami.
Puisi “Melihat Tangan Terkilir” karya Abinaya Ghina Jamela adalah puisi yang menggambarkan pengalaman sederhana tentang rasa sakit dan keterbatasan akibat cedera. Dengan bahasa yang polos, imajinatif, dan dekat dengan dunia anak-anak, puisi ini menghadirkan empati sekaligus kesadaran akan pentingnya kepedulian dan kesehatan.

Abinaya Ghina Jamela
Puisi: Melihat Tangan Terkilir
Karya: Abinaya Ghina Jamela

Biodata Abinaya Ghina Jamela:
  • Abinaya Ghina Jamela (biasa disapa Naya) lahir pada tanggal 11 Oktober 2009 di Padang, Sumatera Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.