Memandangmu
Suaramu yang berderak akhirnya patah ketika
Daun-daun zaitun ditiup angin ke pinggang bukit.
Takdir tidak ditancapkan pada tembok seperti
Bingkai sebuah lukisan yang tua dan berdebu.
Kirmizi yang belum menjadi salju terus tumpah
Dan menujukan belati ke perut maut yang lembut.
Aku mengusap punggungmu yang penuh noda
Dan membiarkan terik mengepung kita. Derit roda
Penggiling tua terdengar di kejauhan. Para pekerja
Yang purna mulai berjalan menyusuri pelahan
Setapak sambil membayangkan kantong dinar dan
Sekerat roti bagi perjamuan malam yang seadanya.
"Sebentar lagi," aku menirukan sabda seorang sahabat
Di atas sebuah perahu yang bergolak, "badai akan
Kuredakan. Berhentilah merengek seperti anak kecil!"
Danau bergelombang melukiskan wajah rahasiamu
Sebelum menjadi begitu bening. Tiga belas ekor ikan
Melintas tenang. Matahari yang muncul dari bawah
Danau mengecup lambungmu ketika gemetarku
Yang malu tak lagi cukup mengarahkan perahu
Ke pantai yang mulai dikepung para serdadu.
Penfui, 2014
Sumber: Lelaki Bukan Malaikat (Gramedia Pustaka Utama, 2015)
Analisis Puisi:
Puisi “Memandangmu” karya Mario F. Lawi merupakan puisi yang memadukan cinta, spiritualitas, dan simbol-simbol religius dalam bahasa yang puitis dan reflektif. Penyair menghadirkan suasana penuh pergulatan batin melalui gambaran danau, perahu, zaitun, badai, hingga serdadu. Puisi ini terasa seperti perjalanan emosional sekaligus spiritual antara penyair dan sosok yang dipandangnya dengan penuh kasih dan kekaguman.
Tema
Tema utama puisi ini adalah cinta dan pergulatan spiritual. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema takdir, keteguhan hati, pengorbanan, dan pencarian ketenangan di tengah ancaman hidup.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang bersama seseorang menghadapi perjalanan hidup yang penuh kegelisahan dan ancaman.
Penyair menggambarkan suara yang patah, daun zaitun yang tertiup angin, dan takdir yang tidak bisa dipasang seperti bingkai lukisan. Gambaran ini menunjukkan bahwa hidup tidak dapat sepenuhnya dikendalikan manusia.
Di tengah suasana panas dan kerasnya kehidupan, penyair tetap berusaha memberi ketenangan kepada sosok yang bersamanya. Ada pula gambaran para pekerja yang berjalan dengan harapan sederhana tentang makanan dan kehidupan yang cukup.
Pada bagian berikutnya, puisi menghadirkan nuansa religius melalui ucapan tentang badai yang akan diredakan di atas perahu bergolak. Adegan ini mengingatkan pada kisah spiritual tentang ketenangan di tengah badai kehidupan.
Bagian akhir puisi menggambarkan danau yang bergelombang, ikan-ikan yang melintas, dan perahu yang sulit diarahkan menuju pantai yang telah dikepung serdadu. Gambaran tersebut memperlihatkan perjalanan hidup yang penuh ancaman, tetapi tetap dijalani dengan harapan dan cinta.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa hidup manusia selalu berada di tengah ketidakpastian dan badai kehidupan.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa cinta dapat menjadi sumber ketenangan dan kekuatan di tengah situasi yang penuh ancaman.
Simbol danau, perahu, dan badai menggambarkan perjalanan hidup manusia, sedangkan serdadu melambangkan tekanan, konflik, atau kenyataan pahit yang mengintai.
Selain itu, banyak simbol religius dalam puisi ini yang menunjukkan hubungan antara cinta manusia dengan keyakinan spiritual.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa tenang namun tegang, reflektif, melankolis, dan spiritual. Ada ketenangan batin yang bercampur dengan rasa cemas terhadap ancaman yang mendekat.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia harus tetap tabah menghadapi badai kehidupan.
Puisi ini juga mengajarkan bahwa cinta, keteguhan hati, dan keyakinan dapat membantu manusia bertahan dalam situasi yang sulit.
Selain itu, penyair mengingatkan bahwa hidup tidak selalu dapat dikendalikan, sehingga manusia perlu belajar menerima takdir dengan bijaksana.
Imaji
Puisi ini memiliki banyak imaji yang kuat, antara lain:
- Imaji visual, terlihat pada daun zaitun, bukit, danau, ikan, perahu, dan serdadu.
- Imaji pendengaran, tampak pada suara yang berderak dan derit roda penggiling tua.
- Imaji gerak, terlihat pada daun yang tertiup angin, pekerja yang berjalan, dan ikan yang melintas.
- Imaji perasaan, menghadirkan rasa cemas, kasih sayang, harapan, dan ketegangan batin.
- Imaji suasana, memperlihatkan perpaduan antara ketenangan dan ancaman.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Metafora, pada “takdir tidak ditancapkan pada tembok” dan “belati ke perut maut yang lembut”.
- Personifikasi, terlihat pada maut yang memiliki “perut lembut” dan danau yang “melukiskan wajah rahasia”.
- Simbolisme, perahu melambangkan perjalanan hidup, badai melambangkan cobaan, dan serdadu melambangkan ancaman atau konflik.
- Alusi religius, tampak pada gambaran badai di perahu, tiga belas ikan, dan suasana spiritual yang mengingatkan pada kisah keagamaan.
- Hiperbola, digunakan untuk memperkuat kesan emosional dan dramatis.
- Paradoks, pada perpaduan kelembutan dan ancaman dalam berbagai citra puisi.
Puisi “Memandangmu” karya Mario F. Lawi adalah puisi reflektif yang memadukan cinta dan spiritualitas dalam simbol-simbol yang kaya makna. Melalui gambaran badai, perahu, dan danau, penyair menghadirkan perjalanan hidup yang penuh ancaman namun tetap disertai harapan dan kasih sayang. Dengan bahasa yang puitis dan simbolik, puisi ini memberikan pengalaman emosional sekaligus kontemplatif bagi pembaca.
Karya: Mario F. Lawi
Biodata Mario F. Lawi:
- Mario F. Lawi lahir pada tanggal 18 Februari 1991 di Kupang, NTT.