Puisi: Membaca Kartini (Karya Abinaya Ghina Jamela)

Puisi “Membaca Kartini” karya Abinaya Ghina Jamela mengangkat kisah perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan.

Membaca Kartini

Amplop berperangko Jepara
dikirim ke meja kerja seorang
perempuan Belanda, tentang perempuan
yang terkurung di rumah, anak-anak
dipaksa menikah, juga Belanda yang
menjajah kota ukiran. Kotak berukir
dikirim pada ratu negeri penjajah.
Perempuan Belanda menerbitkan
surat-surat. Kartini menjadi cerita
di mulut orang-orang Belanda.
Tapi jauh di kota asalnya, ia dipaksa
menikah. Tak ada sekolah seperti
yang diimpikan, hanya jadi istri
bupati. Ia hampir duduk manis saja
menunggu tamu-tamu, menulis
surat-surat, kadang menuang ilmu
pada anak-anak perempuan
hingga ia mengeluh sakit
dan meninggalkan anak laki-lakinya.
Tapi mengapa hanya Kartini saja
yang dikenang dalam sebuah lagu indah?

2017

Sumber: Harian Media Indonesia (14 Mei 2017)

Analisis Puisi:

Puisi “Membaca Kartini” karya Abinaya Ghina Jamela merupakan puisi yang mengangkat kisah perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan. Puisi ini ditulis dengan gaya sederhana, tetapi memiliki isi yang kritis dan reflektif.

Melalui puisi ini, penyair tidak hanya menceritakan kehidupan Kartini, tetapi juga mengajak pembaca memikirkan kembali sejarah perempuan Indonesia dan bagaimana perjuangan mereka dikenang.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjuangan perempuan dan pendidikan. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema ketidakadilan sosial, penjajahan, dan emansipasi perempuan.

Puisi ini bercerita tentang kehidupan Raden Ajeng Kartini yang dikenal melalui surat-suratnya kepada orang Belanda. Dalam puisi dijelaskan bahwa Kartini hidup dalam keterbatasan sebagai perempuan Jawa pada masa penjajahan.

Ia melihat perempuan dipaksa menikah dan tidak memperoleh pendidikan yang layak. Meskipun pemikirannya dikenal hingga Belanda, Kartini sendiri tetap mengalami tekanan budaya dan akhirnya menjalani kehidupan yang tidak sepenuhnya sesuai dengan cita-citanya.

Pada bagian akhir, penyair mempertanyakan mengapa hanya Kartini yang dikenang, seolah mengajak pembaca mengingat perjuangan perempuan-perempuan lain yang juga berjasa.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa perjuangan perempuan untuk memperoleh pendidikan dan kebebasan bukanlah hal yang mudah. Kartini menjadi simbol perempuan yang berani berpikir maju di tengah tradisi yang membatasi.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa sejarah sering hanya mengingat tokoh tertentu, sementara banyak perjuangan lain terlupakan. Pertanyaan pada akhir puisi menunjukkan sikap kritis terhadap cara masyarakat mengenang sejarah.

Selain itu, puisi ini mengandung pesan bahwa pendidikan merupakan hak penting bagi semua perempuan.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa sedih, reflektif, dan kritis. Beberapa bagian menghadirkan rasa prihatin terhadap kehidupan Kartini, sedangkan bagian akhir menghadirkan nada pertanyaan dan perenungan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa perempuan memiliki hak untuk memperoleh pendidikan dan menentukan masa depannya sendiri.

Puisi ini juga mengajarkan pentingnya menghargai perjuangan tokoh-tokoh perempuan serta memahami sejarah secara lebih luas dan kritis.

Diksi

Diksi atau pilihan kata dalam puisi ini tergolong sederhana, jelas, tetapi penuh makna sejarah. Kata-kata seperti “amplop berperangko Jepara”, “kota ukiran”, “surat-surat”, dan “duduk manis” memperkuat gambaran kehidupan Kartini.

Imaji

Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
  • Imaji penglihatan, tampak pada gambaran amplop, meja kerja, kota ukiran, dan perempuan yang menulis surat.
  • Imaji gerak, terlihat pada kegiatan mengirim surat dan menuang ilmu kepada anak-anak perempuan.
Imaji-imaji tersebut membantu pembaca membayangkan suasana kehidupan Kartini pada masa itu.

Majas

Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora, pada ungkapan “menuang ilmu” yang menggambarkan proses mengajarkan pengetahuan.
  • Personifikasi, pada “Kartini menjadi cerita di mulut orang-orang Belanda” karena cerita digambarkan seperti sesuatu yang hidup dan berpindah.
  • Ironi, terlihat dari kenyataan bahwa Kartini dikenal luas di Belanda, tetapi tetap mengalami keterbatasan di tanah kelahirannya sendiri.
  • Pertanyaan retoris, pada kalimat “Tapi mengapa hanya Kartini saja yang dikenang dalam sebuah lagu indah?” yang tidak membutuhkan jawaban langsung, tetapi mengajak pembaca berpikir.
Puisi “Membaca Kartini” karya Abinaya Ghina Jamela menghadirkan kisah Raden Ajeng Kartini dengan cara yang sederhana namun kritis. Puisi ini tidak hanya mengenalkan perjuangan Kartini, tetapi juga mengajak pembaca memahami pentingnya pendidikan, kesetaraan perempuan, dan penghargaan terhadap sejarah perjuangan perempuan Indonesia.

Abinaya Ghina Jamela
Puisi: Membaca Kartini
Karya: Abinaya Ghina Jamela

Biodata Abinaya Ghina Jamela:
  • Abinaya Ghina Jamela (biasa disapa Naya) lahir pada tanggal 11 Oktober 2009 di Padang, Sumatera Barat, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.