Membangun Kota Sunyi
maafkan keputusanku, dik: hengkang dari kota gelisah
menyeret sisa-sisa pertemuan. Barangkali ada yang
berharga untuk kujadikan tiang-tiang kesaksian, bahwa
kita pernah bersama. Langit memang telah lama murung
ingin menumpahkan kekesalannya lewat hujan yang dahsyat
ingin menggiring penghuni bumi ke neraka yang paling
pengap, ke kedalaman samudera di mana ikan-ikan hiu
siap meniadakannya. Tapi aku hengkang bukan karena itu
bukan juga karenamu, dik. Aku ingin membangun kota sunyi
dari bongkahan perasaan yang paling akhir, bukan dari
lempengan baja atau sisa-sisa plastik yang terbakar
di sana akan kusapa kenangan dan tangan penuh embun
akan kupelihara potret, sapu tangan dan bajumu
meski tanpa lemari dan harum parfum. Lantas suatu saat
kukirimkan surat padamu bahwa aku tak bisa melupakanmu
1993
Sumber: Sebelum Senja Selesai (2002)
Analisis Puisi:
Puisi “Membangun Kota Sunyi” karya Moh. Wan Anwar merupakan puisi yang penuh nuansa reflektif dan emosional. Melalui ungkapan perpisahan dan kerinduan, penyair menghadirkan gambaran tentang seseorang yang memilih pergi dari “kota gelisah” untuk membangun ruang sunyi bagi kenangan dan perasaannya sendiri. Puisi ini kaya akan simbol perasaan, kesepian, dan usaha menjaga ingatan terhadap seseorang yang dicintai.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perpisahan, kenangan, dan kesunyian batin. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema cinta yang sulit dilupakan serta pencarian ketenangan di tengah kegelisahan hidup.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang memutuskan meninggalkan “kota gelisah” sambil membawa sisa-sisa kenangan dari sebuah hubungan.
Penyair menjelaskan bahwa kepergiannya bukan karena bencana, kemarahan langit, ataupun karena sosok yang dipanggil “dik”. Ia pergi karena ingin membangun “kota sunyi”, yaitu ruang batin yang dipenuhi kenangan dan perasaan terdalam.
Di tempat sunyi itu, ia ingin menyimpan berbagai kenangan sederhana seperti potret, sapu tangan, dan baju orang yang dicintainya. Pada akhirnya, penyair mengakui bahwa ia tidak mampu melupakan sosok tersebut.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia terkadang memilih menjauh untuk menjaga perasaan dan kenangannya sendiri.
“Kota sunyi” dapat dimaknai sebagai simbol ruang batin tempat seseorang menyimpan luka, rindu, dan cinta yang tidak dapat dihapus. Penyair menunjukkan bahwa kenangan sering tetap hidup meskipun hubungan telah berakhir.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa kesunyian bukan selalu sesuatu yang menyakitkan, tetapi dapat menjadi tempat untuk berdamai dengan masa lalu.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa sendu, hening, melankolis, dan penuh kerinduan. Ada nuansa kesepian, tetapi juga ketenangan dalam menerima kenyataan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa kenangan dan perasaan merupakan bagian dari kehidupan yang tidak selalu mudah dilupakan.
Puisi ini juga mengajarkan bahwa seseorang perlu menemukan ruang untuk memahami dan menerima luka maupun kerinduan dalam dirinya.
Imaji
Puisi ini memiliki banyak imaji yang kuat, antara lain:
- Imaji visual, terlihat pada gambaran “langit murung”, “hujan yang dahsyat”, “kedalaman samudera”, “potret”, dan “sapu tangan”.
- Imaji gerak, tampak pada tindakan “hengkang dari kota”, “menggiring penghuni bumi”, dan “mengirimkan surat”.
- Imaji perasaan, menghadirkan rasa sedih, rindu, kehilangan, dan kesepian.
- Imaji suasana, memperlihatkan kota yang gelisah dan ruang sunyi yang penuh kenangan.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Metafora, pada ungkapan “kota gelisah” dan “kota sunyi” yang melambangkan keadaan batin.
- Personifikasi, terlihat pada “langit telah lama murung” dan “hujan yang ingin menumpahkan kekesalannya”.
- Hiperbola, pada gambaran hujan dahsyat yang menggiring penghuni bumi ke neraka paling pengap.
- Simbolisme, benda-benda seperti potret, sapu tangan, dan baju menjadi simbol kenangan cinta.
- Paradoks, terlihat pada usaha membangun “kota sunyi” justru untuk tetap menjaga kenangan yang hidup.
Puisi “Membangun Kota Sunyi” karya Moh. Wan Anwar adalah puisi yang menggambarkan kesunyian, cinta, dan kenangan dengan bahasa yang puitis serta emosional. Melalui simbol kota, hujan, dan benda-benda kenangan, penyair menghadirkan refleksi tentang seseorang yang mencoba berdamai dengan masa lalu namun tetap tidak mampu melupakan orang yang dicintainya. Puisi ini menghadirkan kesedihan yang lembut sekaligus mendalam bagi pembaca.
Karya: Moh. Wan Anwar
Biodata Moh. Wan Anwar:
- Moh. Wan Anwar lahir pada tanggal 13 Maret 1970 di Cianjur, Jawa Barat.
- Moh. Wan Anwar meninggal dunia pada tanggal 23 November 2009 (pada usia 39 tahun) di Serang, Banten.
