Puisi: Menara (Karya Rusli Marzuki Saria)

Puisi “Menara” karya Rusli Marzuki Saria menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat tradisional yang berada di persimpangan antara nilai adat dan ...
Menara

Bila bulan tanduk kerbau mengintai di balik pintu surau
Bergegaslah nenek menyandang telekung suaranya parau
Hari-hari diburu kerja, ke sawah dan ke ladang 
Dalam dera kenang dilusuhkan usia dihimpit jenjang.

Anak-cucu berkecambah rumah tinggal berdebu
Karena panggilan rantau yang tak dapat dielakkan
– Kalian tinggal rebut sawah dan ladang
Bergunjing di atas pematang, kapan kalian meneruka?

Kiranya adat diadatkan di sisi adat limbaga
Anak-cucu bermimpi masa depan penuh cahaya

1964

Sumber: Parewa (1998)

Analisis Puisi:

Puisi “Menara” karya Rusli Marzuki Saria menghadirkan gambaran kehidupan masyarakat tradisional yang berada di persimpangan antara nilai adat dan perubahan zaman. Melalui bahasa yang puitis dan simbolik, penyair menyuarakan kegelisahan terhadap pergeseran nilai dalam keluarga dan masyarakat, khususnya akibat arus perantauan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perubahan sosial dalam masyarakat tradisional, terutama dampak perantauan terhadap keberlangsungan nilai adat, keluarga, dan kehidupan desa.

Puisi ini bercerita tentang seorang nenek yang menjalani kehidupan sederhana di kampung, tetap setia pada rutinitas religius dan kerja keras di sawah. Sementara itu, anak-cucu telah pergi merantau, meninggalkan rumah yang mulai terbengkalai. Konflik muncul dari ketegangan antara warisan adat dengan realitas modern, di mana generasi muda lebih memilih meninggalkan kampung demi masa depan yang dianggap lebih cerah.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap lunturnya nilai kekeluargaan dan adat akibat modernisasi dan perantauan. Penyair seolah mengingatkan bahwa kemajuan tidak seharusnya mengorbankan akar budaya dan tanggung jawab terhadap keluarga serta tanah kelahiran.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa dalam puisi ini cenderung melankolis dan reflektif, dengan nuansa kesepian yang menyelimuti kehidupan sang nenek. Ada pula sentuhan kegelisahan dan harapan yang samar terhadap masa depan generasi berikutnya.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan pesan agar generasi muda tidak melupakan asal-usul, adat, dan tanggung jawab terhadap keluarga, meskipun mereka merantau. Kemajuan seharusnya berjalan seiring dengan pelestarian nilai-nilai luhur.

Imaji

Puisi ini memanfaatkan beberapa imaji yang kuat, antara lain:
  • Imaji visual: “bulan tanduk kerbau mengintai di balik pintu surau” menggambarkan suasana malam yang khas dan religius.
  • Imaji auditif: “suaranya parau” menghadirkan kesan suara nenek yang lemah namun penuh makna.
  • Imaji gerak: “bergegaslah nenek menyandang telekung” menunjukkan aktivitas yang rutin dan penuh kesungguhan.

Majas

Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini:
  • Metafora: “bulan tanduk kerbau” sebagai simbol bentuk bulan sabit.
  • Personifikasi: “bulan ... mengintai” seolah-olah bulan memiliki sifat manusia.
  • Simbolisme: sawah, ladang, dan surau melambangkan kehidupan tradisional, kerja keras, dan nilai religius.
Puisi “Menara” bukan sekadar potret kehidupan desa, tetapi juga refleksi mendalam tentang identitas, perubahan, dan harapan. Rusli Marzuki Saria mengajak pembaca untuk merenungkan kembali hubungan antara kemajuan dan akar budaya yang sering kali terabaikan.

Rusli Marzuki Saria
Puisi: Menara
Karya: Rusli Marzuki Saria

Biodata Rusli Marzuki Saria:
  • Rusli Marzuki Saria lahir di Kamang, Bukittinggi, pada tanggal 26 Februari 1936.
© Sepenuhnya. All rights reserved.