Puisi: Mencari Harapan (Karya Hasbi Burman)

Puisi “Mencari Harapan” karya Hasbi Burman mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam keserakahan dan tetap menjaga nilai kemanusiaan.
Mencari Harapan

Bagai buih laut terombang
Mengaca pada wajah
Ibu pertiwi yang kaya raya
Tapi harapan selalu sia-sia

Kemana sudah hasil negeri
Bungkusan-bungkusan yang berdatangan
Terkuras dan tak sampai
Masih menggapai

Yatim piatu
Dimana-mana
Siapa yang menyapa

Para janda
Yang menunggu lahir batin
Di mana yang mengulurkan

Kita semakin ganas
Karena bumi yang panas
Ataukah dilanda keserakahan
Yang digurui oleh budaya teve

Dalam kerdipnya 
Terlihat kunang-kunang
Malam semakin larut
Dalam kehidupannya.

Banda Aceh, 17 Agustus 2005

Analisis Puisi:

Puisi “Mencari Harapan” karya Hasbi Burman menggambarkan kegelisahan sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Penyair menyoroti kemiskinan, ketimpangan, penderitaan rakyat kecil, hingga lunturnya kepedulian sosial di tengah kehidupan modern. Melalui larik-larik sederhana namun penuh kritik, puisi ini menghadirkan renungan tentang kondisi manusia dan harapan yang semakin sulit diraih.

Tema

Tema puisi ini adalah kehidupan sosial dan krisis kemanusiaan. Penyair menggambarkan bagaimana harapan masyarakat kecil sering kali kandas di tengah ketidakadilan, keserakahan, dan kerasnya kehidupan.

Puisi ini bercerita tentang keadaan masyarakat yang hidup dalam penderitaan meskipun negeri memiliki kekayaan melimpah. Penyair mempertanyakan ke mana hasil kekayaan negeri mengalir, sementara masih banyak yatim piatu, janda, dan rakyat kecil yang hidup dalam kesulitan.

Selain itu, puisi ini juga menyinggung perubahan perilaku manusia yang semakin keras dan individualis. Penyair mengaitkan kondisi tersebut dengan keserakahan dan pengaruh budaya modern yang ditampilkan melalui media televisi.

Di akhir puisi, muncul gambaran kunang-kunang di tengah malam yang larut. Gambaran tersebut dapat dimaknai sebagai simbol harapan kecil yang masih tersisa di tengah gelapnya kehidupan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap ketimpangan sosial dan hilangnya rasa kepedulian antarmanusia. Penyair ingin menunjukkan bahwa kekayaan negeri tidak selalu membawa kesejahteraan bagi rakyatnya.

Puisi ini juga mengandung pesan bahwa manusia perlahan kehilangan empati karena dikuasai keserakahan dan pengaruh kehidupan modern. Namun demikian, masih ada secercah harapan yang digambarkan melalui cahaya kunang-kunang di akhir puisi.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa muram, prihatin, dan penuh kegelisahan. Pembaca dapat merasakan kesedihan atas kondisi sosial yang dipaparkan penyair. Pada bagian akhir, suasana berubah sedikit lebih tenang karena hadir simbol harapan kecil di tengah kegelapan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang disampaikan dalam puisi ini adalah manusia perlu memiliki kepedulian terhadap sesama, terutama kepada mereka yang hidup dalam kesulitan. Selain itu, puisi ini mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam keserakahan dan tetap menjaga nilai kemanusiaan.

Penyair juga mengajak pembaca untuk tetap mencari harapan meskipun kehidupan dipenuhi berbagai persoalan.

Imaji

Puisi ini mengandung beberapa imaji yang kuat, di antaranya:

Imaji Visual

Pembaca dapat membayangkan kondisi sosial yang digambarkan penyair, seperti yatim piatu, para janda, hingga cahaya kunang-kunang di malam hari.

Contoh:

“Dalam kerdipnya
Terlihat kunang-kunang”

Imaji Gerak

Terdapat gambaran gerakan pada larik:

“Bagai buih laut terombang”

Larik tersebut menghadirkan kesan sesuatu yang terus terombang-ambing tanpa kepastian.

Majas

Puisi ini menggunakan beberapa majas, antara lain:

Majas Perumpamaan

Terdapat pada larik:

“Bagai buih laut terombang”

Penyair membandingkan kehidupan atau harapan manusia dengan buih laut yang mudah terbawa arus.

Majas Retoris

Terlihat dalam pertanyaan:

“Kemana sudah hasil negeri”

Pertanyaan tersebut tidak menuntut jawaban langsung, melainkan menjadi bentuk kritik sosial.

Majas Personifikasi

Terdapat pada larik:

“Malam semakin larut
Dalam kehidupannya.”

Malam digambarkan seolah memiliki kehidupan seperti manusia.

Puisi “Mencari Harapan” karya Hasbi Burman merupakan puisi sosial yang menyuarakan kegelisahan terhadap kondisi masyarakat. Penyair menggambarkan kemiskinan, ketidakpedulian, dan keserakahan yang membuat harapan terasa semakin jauh. Meski demikian, puisi ini tetap menyisakan cahaya kecil tentang harapan dan kemanusiaan yang belum sepenuhnya hilang.

Hasbi Burman
Puisi: Mencari Harapan
Karya: Hasbi Burman

Biodata Hasbi Burman:
  • Hasbi Burman (Presiden Rex) lahir pada tanggal 9 Agustus 1955 di Lhok Buya, Aceh Barat.
© Sepenuhnya. All rights reserved.