Puisi: Molto Allegro (Karya Cecep Syamsul Hari)

Puisi “Molto Allegro” karya Cecep Syamsul Hari menyiratkan bahwa di balik kehidupan modern dan hiruk-pikuk kota, manusia tetap dapat merasa sangat ...
Molto Allegro

Seperti Neruda lelah menjadi manusia, malam itu
aku pergi dan memanggil taksi.

Ke mana? Ke mana saja, jawabku.

Aku pun lewat di depan rumahmu.
Namun telah lama kau pergi dari rumah itu,
rumah itu, begitu saja, seperti dulu kau lari dari mimpi-mimpiku.

Dari balik jendela, kota sungguh sepi.
Bagai gunting di atas genting.

Ajaib benar jika tiba-tiba bertemu Tuhan dan Tchaikovsky
di sebuah persimpangan jalan.

Tetapi perempuan-perempuan aneh itu terlalu berani
memamerkan tato mereka, di bahu yang terbuka.
Aku takut sepatuku berdebu,
jadi kuberi mereka lambaian tangan saja.

Berhenti di depan Fame Station
seraya mengucapkan terimakasih
pada sopir yang mengerti kesedihanku.

Asia-Afrika, kau tidur seperti bayi.
Bangun dan peluklah Don Quixote malang ini,
pengembara penuh duka, jatuh cinta
berulang kali pada perempuan yang sama.

Perempuan yang sama.

Orang dewasa yang selalu takjub pada kemurungan
tak terduga.

Setiap satu langkah, kulihat makam ibuku,
lembab oleh tangisan masa kecilku.

Seperti Neruda lelah menjadi lelaki,
aku berpikir mengakhiri dengan paksa
hidupku di sini.

Namun kutemukan Mozart di kamar
sebuah hotel dekat Simpang Lima.

Molto Allegro. Molto Allegro.
Adakah juga kekasihku menunggu di situ?

Perjalananku berakhir di atas single-bed yang nyaman.
Aku tertidur seperti buaian dan dalam mimpiku
perempuan bersayap menyelasar tubuhku dengan ciuman-ciuman.

"Sungguhkah kau lelah menjadi lelaki?"
bisiknya, ringan bagai udara kamar.

Pagi, kutemukan jawaban kesedihanku malam itu:

Risau atau murung atau kehilangan
sepasang alismu yang tebal.

1997-2006

Sumber: 21 Love Poems (2006)

Analisis Puisi:

Puisi “Molto Allegro” karya Cecep Syamsul Hari merupakan puisi yang memadukan suasana melankolis, kesepian, dan pencarian makna hidup dengan berbagai referensi budaya dan seni dunia. Judul Molto Allegro sendiri berasal dari istilah musik klasik yang berarti “sangat cepat dan gembira”, tetapi isi puisi justru menghadirkan ironi berupa kesedihan dan kegelisahan batin.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesepian, kehilangan cinta, dan kegelisahan eksistensial manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema pencarian pelarian melalui seni, musik, dan kenangan.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang merasa lelah menjalani hidup dan larut dalam kesedihan akibat kehilangan seseorang yang dicintainya. Pada suatu malam, ia pergi menaiki taksi tanpa tujuan jelas, sekadar mengembara menyusuri kota dan kenangan.

Dalam perjalanan itu, ia melewati rumah sang kekasih yang kini telah kosong. Kota terasa sunyi dan asing. Penyair lalu bertemu berbagai gambaran kehidupan malam, perempuan-perempuan asing, hotel, dan musik klasik yang menjadi pelarian emosionalnya.

Di tengah rasa murung dan keinginan mengakhiri hidup, musik Mozart dan mimpi tentang perempuan bersayap seolah memberinya penghiburan. Pada akhirnya, ia menyadari bahwa sumber kegelisahannya adalah kerinduan sederhana terhadap sosok yang dicintainya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini meliputi:
  • “Seperti Neruda lelah menjadi manusia” → menggambarkan kelelahan emosional dan eksistensial.
  • perjalanan taksi tanpa tujuan → simbol pencarian makna hidup dan pelarian dari kesedihan.
  • rumah kosong kekasih → simbol kehilangan dan kenangan yang tertinggal.
  • Tuhan, Tchaikovsky, dan Mozart → seni dan spiritualitas sebagai tempat pelarian batin.
  • Don Quixote malang → simbol sosok idealis yang terus mengejar cinta dan mimpi meski sering terluka.
  • “Molto Allegro” → ironi antara musik yang ceria dan hati yang murung.
  • “sepasang alismu yang tebal” → simbol sederhana dari kerinduan mendalam terhadap seseorang.
Puisi ini menyiratkan bahwa di balik kehidupan modern dan hiruk-pikuk kota, manusia tetap dapat merasa sangat sepi dan mencari pelipur melalui kenangan, cinta, dan seni.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini terasa: melankolis, murung, sepi, reflektif, sesekali romantis dan surealis.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan bahwa:
  • Kesedihan dan kehilangan merupakan bagian dari pengalaman manusia.
  • Seni, musik, dan kenangan dapat menjadi pelarian sementara dari kegelisahan hidup.
  • Manusia sering mencari makna hidup melalui cinta dan hubungan emosional dengan orang lain.
  • Di balik kemurungan terdalam, selalu ada kemungkinan untuk menemukan kembali alasan bertahan hidup.

Imaji

Puisi ini kaya dengan imaji:
  • Imaji visual: kota sepi, rumah kosong, perempuan bertato, makam ibu, hotel kecil.
  • Imaji auditif: musik Mozart, bisikan perempuan bersayap.
  • Imaji gerak: perjalanan taksi, langkah pengembara malam.
  • Imaji perasaan: kehilangan, rindu, murung, lelah.
  • Imaji surealis: perempuan bersayap yang mencium tubuh penyair.

Majas

Beberapa majas yang digunakan:
  • Metafora: “kota sungguh sepi / bagai gunting di atas genting”, “pengembara penuh duka”.
  • Personifikasi: “Asia-Afrika, kau tidur seperti bayi”.
  • Simbolisme: Mozart dan Tchaikovsky sebagai simbol pelarian melalui seni, Don Quixote sebagai simbol romantisme dan idealisme yang rapuh.
  • Alusi: referensi kepada Pablo Neruda, Wolfgang Amadeus Mozart, Pyotr Ilyich Tchaikovsky, dan Don Quixote.
  • Ironi: judul “Molto Allegro” yang berarti ceria justru berisi kemurungan mendalam.
Melalui puisi “Molto Allegro”, Cecep Syamsul Hari menghadirkan potret manusia modern yang bergulat dengan kesepian, kehilangan, dan kerinduan. Dengan perpaduan referensi sastra, musik klasik, dan suasana urban malam hari, puisi ini menunjukkan bahwa cinta, kenangan, dan seni sering menjadi tempat terakhir manusia mencari penghiburan saat hidup terasa terlalu sunyi untuk dijalani sendirian.

Cecep Syamsul Hari
Puisi: Molto Allegro
Karya: Cecep Syamsul Hari

Biodata Cecep Syamsul Hari:
  • Cecep Syamsul Hari lahir pada tanggal 1 Mei 1967 di Bandung.
© Sepenuhnya. All rights reserved.