Namaku Ladosta
Namaku Ladosta
Yang Surya-suryanya benderang
aku telah bicara dengan gunung
kemudian kulihat matanya
bagai mataku sendiri
Namaku Ladosta
lahir di negeri panas
yang tangan-tangannya terlepas
terjulur lunglai
Namaku Ladosta
haraplah maklum
sekiranya kau tidak sempat mengenangku
catatlah wahai hiruplah wahai semerbak
wewangian dari tangkai kematianku.
1978
Sumber: Hutan Kelam (1978)
Analisis Puisi:
Puisi “Namaku Ladosta” karya N. A. Hadian menghadirkan sosok bernama Ladosta yang seolah menjadi simbol manusia dari sebuah negeri yang keras, panas, dan penuh keterasingan. Pengulangan nama “Namaku Ladosta” memberi penegasan identitas sekaligus tekanan eksistensial: ia ingin dikenali, tetapi juga sadar akan kemungkinan dilupakan.
Tema
Identitas diri, keterasingan, dan kematian simbolik manusia dalam ruang sosial yang keras.
Puisi ini bercerita tentang seseorang bernama Ladosta yang merepresentasikan manusia yang lahir di “negeri panas” (simbol kondisi sosial yang keras dan tidak ramah). Ia mengalami dialog batin dengan alam (gunung), menyadari dirinya sebagai bagian dari dunia yang juga rapuh, dan pada akhirnya menerima kemungkinan dilupakan setelah kematian.
Makna Tersirat
Di balik narasi sederhana tentang “nama” dan “kelahiran”, puisi ini menyiratkan kritik terhadap kondisi manusia yang hidup dalam lingkungan penuh penderitaan dan keterasingan. Ladosta dapat dimaknai sebagai simbol manusia kecil yang berusaha mencari makna hidup, namun pada akhirnya hanya meninggalkan jejak samar seperti “wewangian dari tangkai kematian”.
Puisi ini juga mengandung refleksi eksistensial: bahwa identitas manusia tidak selalu dikenang, dan kehidupan sering berakhir dalam keheningan sejarah.
Imaji
- Imaji visual: “Surya-suryanya benderang”, “negeri panas”, “tangan-tangan terlepas terjulur lunglai”.
- Imaji perasaan: kesepian, kegetiran, dan kelelahan hidup.
- Imaji alam: gunung yang seolah memiliki “mata” yang bisa diajak berkomunikasi.
Majas
- Personifikasi: gunung digambarkan memiliki “mata” dan dapat diajak bicara.
- Repetisi: pengulangan “Namaku Ladosta” untuk menekankan identitas dan eksistensi.
- Simbolisme: “negeri panas” melambangkan kondisi kehidupan yang keras; “wewangian dari tangkai kematianku” melambangkan sisa keberadaan atau jejak setelah kematian.
- Metafora: “tangan-tangannya terlepas terjulur lunglai” menggambarkan kelemahan dan ketidakberdayaan manusia.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan makna keberadaan manusia: bahwa hidup tidak selalu meninggalkan jejak yang dikenang, namun setiap individu tetap memiliki nilai eksistensial. Selain itu, puisi ini juga menekankan pentingnya kesadaran diri dalam menghadapi kerasnya kehidupan serta menerima keterbatasan manusia dalam ingatan sejarah.
Puisi “Namaku Ladosta” pada akhirnya bukan sekadar kisah tentang satu nama, melainkan refleksi tentang manusia secara umum—tentang bagaimana kita hadir, berjuang, dan mungkin menghilang dalam sunyi yang panjang.
Karya: N. A. Hadian
Biodata N. A. Hadian:
- N. A. Hadian lahir pada tanggal 21 September 1932 di Medan.
- N. A. Hadian meninggal dunia pada tanggal 22 Maret 2007.
