Negarakertagama
Telah muncul di kota — yang semalam
ditinggalkan pandu-pandu itu — seribu tengkorak;
seribu tambur dan asap, waktu hujan turun
dan gelombang awan berembus dalam gerimis darah;
menyusun batu-batu gedung dan membangun parit-parit
istana di tepi sungai
Tawanan-tawanan perang yang mengungsi ke hutan
telah kembali dengan wajah dendam
tentara sang prabu dan gerobag-gerobag penjual umbi
di mana utusan Kubilai Khan turun dari kapal
"Kau Lihatlah jalan pertempuran itu", ajar mereka
dan perempuan-perempuan yang hamil tujuh bulan
matanya hitam, rambutnya panjang dan tubuhnya coklat
telah mendirikan pondok-pondok di tepi pantai
"Kau lihatlah jalan pertempuran itu", ujar mereka
cacing yang di lubuk tanah menggerit akar pohonan
waduk-waduk dan para petani yang bermimpi
tentang arca dan candi, lalu kilang-kilang minyak
dan pabrik minyak wangi, kereta-kereta perunggu
Dari abad pleistosen, kami telah menempuh
berbagai pemandangan serba merusak mata ini
ulat-ulat musim hujan yang bersembunyi di batang-batang pohonan
lalu kepala naga dan kera, di mana anak turunan Rama
mendirikan jembatan yang rapuh
Lalu kalian lihat sesudah itu
Kami yang berkelakar setelah tidur nyenyak
di perut Tuhan yang lapar
malaikat-malaikat penagih pajak
membungkukkan badannya meminta derma
untuk pembangunan kota yang permai
buat bangsa-bangsa yang punah
di abad kelimabelas
Hujan turun dan seribu tengkorak dalam bunyi tambur
muncul menyanyikan lagu kalah perang dan pembantaian
dan menyuruh kanak-kanak mendirikan parit-parit
gedung pencakar langit dan istana di tepi sungai
yang di mukanya terdapat
patung Kertanagara
1972
Sumber: Horison (Maret, 1974)
Analisis Puisi:
Puisi “Negarakertagama” karya Abdul Hadi WM merupakan puisi yang kaya simbol sejarah, sosial, dan politik. Melalui gambaran peperangan, kehancuran, pembangunan, hingga tokoh sejarah seperti Kertanagara dan Kubilai Khan, penyair menghadirkan refleksi tentang perjalanan peradaban manusia yang terus berulang dalam siklus kekuasaan dan kehancuran.
Tema
Tema utama puisi ini adalah sejarah peradaban, peperangan, kekuasaan, dan kehancuran manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kritik sosial terhadap pembangunan dan ambisi kekuasaan yang sering dibangun di atas penderitaan rakyat.
Puisi ini bercerita tentang perjalanan sejarah manusia yang dipenuhi perang, pembantaian, perebutan kekuasaan, dan pembangunan peradaban. Penyair menghadirkan suasana kota yang dipenuhi “seribu tengkorak”, tambur perang, darah, dan tawanan perang.
Di tengah gambaran sejarah masa lampau, muncul pula simbol pembangunan modern seperti “gedung pencakar langit”, “kilang-kilang minyak”, dan “pabrik minyak wangi”. Hal ini menunjukkan bahwa kekerasan dan ambisi manusia tidak berhenti di masa lalu, tetapi terus berlangsung hingga masa kini.
Tokoh sejarah seperti Invasi Mongol ke Jawa dan sosok Kertanagara digunakan sebagai simbol runtuh dan bangkitnya kekuasaan.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap sejarah manusia yang terus mengulang kekerasan atas nama pembangunan dan kejayaan bangsa. Penyair seolah ingin menunjukkan bahwa kemegahan peradaban sering dibangun di atas penderitaan, darah, dan kematian.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia modern tidak jauh berbeda dari manusia masa lampau. Walaupun zaman berubah, perang, kerakusan, dan perebutan kekuasaan tetap menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Selain itu, penyair menghadirkan ironi bahwa pembangunan kota dan kemajuan justru lahir dari kehancuran serta pengorbanan banyak pihak.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa kelam, mencekam, dan penuh tragedi. Gambaran tengkorak, darah, perang, dan pembantaian menciptakan nuansa suram sekaligus mengerikan.
Namun, di beberapa bagian muncul pula suasana reflektif dan satiris, terutama ketika penyair menyinggung pembangunan kota, malaikat penagih pajak, dan bangsa-bangsa yang punah.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa manusia seharusnya belajar dari sejarah agar tidak terus mengulang kekerasan dan kehancuran yang sama.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa kemajuan dan pembangunan tidak boleh mengorbankan kemanusiaan. Kekuasaan yang dibangun di atas penderitaan pada akhirnya hanya akan meninggalkan tragedi sejarah.
Imaji
Puisi ini memiliki banyak imaji yang kuat, antara lain:
- Imaji visual, seperti pada ungkapan “seribu tengkorak”, “gerimis darah”, “tambur”, “parit-parit istana”, dan “gedung pencakar langit”.
- Imaji pendengaran, terlihat pada bunyi “tambur” dan nyanyian “lagu kalah perang dan pembantaian”.
- Imaji gerak, tampak dalam gambaran gelombang awan berembus, tawanan perang kembali dari hutan, dan pembangunan parit-parit.
- Imaji perasaan, menghadirkan rasa takut, sedih, muram, dan getir terhadap sejarah manusia.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Metafora, misalnya pada ungkapan “gerimis darah” yang melambangkan tragedi dan pembantaian.
- Personifikasi, seperti “seribu tengkorak muncul menyanyikan lagu kalah perang”.
- Hiperbola, tampak pada penggunaan “seribu tengkorak” untuk memperkuat suasana tragedi besar.
- Ironi, terlihat dalam gambaran pembangunan kota yang megah tetapi berdiri di atas kehancuran dan penderitaan.
- Simbolisme, melalui penggunaan tokoh sejarah, tengkorak, tambur, naga, dan patung Kertanagara sebagai lambang kekuasaan dan sejarah peradaban.
Puisi “Negarakertagama” karya Abdul Hadi WM adalah puisi reflektif yang memadukan sejarah, kritik sosial, dan simbol-simbol budaya dalam bahasa yang puitis serta kompleks. Melalui gambaran peperangan dan pembangunan, penyair menunjukkan bahwa sejarah manusia sering dipenuhi kekerasan yang terus berulang dari masa ke masa. Puisi ini menjadi renungan mendalam tentang peradaban, kekuasaan, dan nasib kemanusiaan.
Karya: Abdul Hadi WM
Biodata Abdul Hadi WM:
- Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
- Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
