Puisi: Orang-Orang Percetakan Lewat Tengah Malam (Karya Iman Budhi Santosa)

Puisi “Orang-Orang Percetakan Lewat Tengah Malam” karya Iman Budhi Santosa menggambarkan kehidupan para pekerja percetakan yang bekerja diam-diam ...
Orang-Orang Percetakan
Lewat Tengah Malam

Dengan sabar dan sekaligus pintar
mereka jaga mesin-mesin itu berputar.
Meronda gigi, rol tinta, bunyi suara
takut semuanya berhenti, dan umpatan
menggelegar di telinga. "Ini sarapan pagi
dunia! Mengerti..."

Matanya bahagia. Menyala, biarpun koran
tak mencatat nama mereka.
Hidup dari kencangnya sekrup, bau kertas
berita-berita cerdas, keringatnya memang untuk malam
penanya tangan-tangan cekatan
selebihnya hanya berisik ruangan
hiruk-pikuk tulisan dan iklan
berebut halaman

Menjelang subuh bangunan sepi
koran-koran dibawa pergi
tak terdengar mandor memuji, kecuali dingin
menggamit mereka menambah panjang
hutang di warung kopi

1996

Sumber: Dunia Semata Wayang (2005)

Analisis Puisi:

Puisi “Orang-Orang Percetakan Lewat Tengah Malam” karya Iman Budhi Santosa menggambarkan kehidupan para pekerja percetakan yang bekerja diam-diam di balik terbitnya koran setiap pagi. Melalui bahasa yang sederhana tetapi kuat, penyair memperlihatkan perjuangan, ketekunan, dan ironi hidup para pekerja malam yang jasanya sering tidak terlihat oleh masyarakat.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjuangan dan pengabdian para pekerja kecil yang bekerja di balik layar. Puisi ini juga mengangkat tema ketidakadilan sosial, karena para pekerja tersebut bekerja keras tanpa penghargaan yang layak.

Selain itu, terdapat pula tema tentang kerasnya kehidupan kaum pekerja malam yang harus bertahan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Puisi ini bercerita tentang para pekerja percetakan yang bekerja hingga larut malam untuk memastikan koran dapat terbit tepat waktu pada pagi hari. Mereka menjaga mesin percetakan tetap berjalan, mengawasi rol tinta, suara mesin, dan seluruh proses produksi koran.

Walaupun pekerjaan mereka sangat penting, nama dan jasa mereka tidak pernah dikenal publik. Setelah pekerjaan selesai menjelang subuh, mereka pulang tanpa pujian, bahkan masih dibayangi hutang dan kesulitan ekonomi.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik sosial terhadap kehidupan buruh yang sering kali tidak mendapatkan penghargaan setimpal atas kerja keras mereka.

Penyair ingin menunjukkan bahwa di balik informasi, berita, dan koran yang dinikmati masyarakat setiap pagi, ada orang-orang yang mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kenyamanan hidup mereka. Mereka bekerja dengan penuh tanggung jawab, tetapi kehidupan mereka tetap sulit.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa banyak pekerjaan penting dalam kehidupan justru dilakukan oleh orang-orang yang tidak terlihat dan jarang dihargai.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini cenderung:
  • Sibuk dan penuh aktivitas pada bagian awal dan tengah puisi.
  • Lelah dan sunyi menjelang akhir puisi.
  • Mengandung nuansa prihatin terhadap kehidupan para pekerja percetakan.
Perubahan suasana terasa jelas dari hiruk-pikuk mesin percetakan menuju kesunyian subuh yang dingin.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat diambil dari puisi ini adalah:
  • Menghargai setiap pekerjaan, termasuk pekerjaan yang sering tidak terlihat oleh masyarakat.
  • Kerja keras dan tanggung jawab merupakan hal penting dalam kehidupan.
  • Masyarakat hendaknya lebih peduli terhadap nasib kaum pekerja kecil yang berjasa besar tetapi hidup dalam keterbatasan.

Imaji dalam Puisi

Puisi ini mengandung beberapa jenis imaji, antara lain:
  • Imaji Pendengaran: Terlihat pada larik “Meronda gigi, rol tinta, bunyi suara”. Larik tersebut menghadirkan suara mesin percetakan yang bising dan terus bekerja sepanjang malam.
  • Imaji Penciuman: Terlihat pada larik “bau kertas”. Pembaca seolah dapat mencium aroma khas percetakan dan kertas koran.
  • Imaji Penglihatan: Terlihat pada larik “Matanya bahagia. Menyala”. Pembaca dapat membayangkan sorot mata para pekerja yang tetap bersemangat meskipun bekerja keras.

Majas dalam Puisi

  • Personifikasi: Terlihat pada larik “dingin menggamit mereka”. Kata “dingin” digambarkan seolah-olah dapat menggamit manusia seperti makhluk hidup.
  • Metafora: Terlihat pada larik “Ini sarapan pagi dunia!”. Koran diibaratkan sebagai “sarapan pagi” bagi masyarakat karena menjadi kebutuhan informasi setiap hari.
  • Hiperbola: Terlihat pada larik “umpatan menggelegar di telinga”. Ungkapan tersebut melebih-lebihkan suara umpatan agar terasa lebih kuat dan dramatis.
Puisi “Orang-Orang Percetakan Lewat Tengah Malam” karya Iman Budhi Santosa merupakan puisi yang menggambarkan kehidupan pekerja percetakan dengan sangat manusiawi dan realistis. Penyair menunjukkan bagaimana para pekerja malam berjuang menjaga roda informasi tetap berjalan, meskipun hidup mereka sendiri penuh keterbatasan.

Melalui puisi ini, pembaca diajak untuk lebih menghargai kerja keras orang-orang di balik layar yang sering terlupakan, tetapi memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.

Iman Budhi Santosa
Puisi: Orang-Orang Percetakan Lewat Tengah Malam
Karya: Iman Budhi Santosa

Biodata Iman Budhi Santosa:
  • Iman Budhi Santosa pada tanggal 28 Maret 1948 di Kauman, Magetan, Jawa Timur, Indonesia.
  • Iman Budhi Santosa meninggal dunia pada tanggal 10 Desember 2020 (pada usia 72 tahun) di Dipowinatan, Yogyakarta, Indonesia.
© Sepenuhnya. All rights reserved.