Pada Gelombang
biarkan kukabarkan kepada burung-burung yang melintas
di warna kelam langit tanpa batas
lepaskanlah segera gelombang di tanganmu
yang kau genggam erat-erat sewaktu kita bertemu
wajahmu telah lama terdampar di pulau karang
kutahu ketika tangis air matamu mengerang
tapi masih tetap kaudengar gemuruh gelombang
memercikkan buih di alis matamu yang bimbang
malam tak juga melepaskan dingin yang kaukirim
perahumu mengapung di punggung musim
sebab pelayaran telah menjelma menjadi benua tua
memainkan buih dengan senandung berair mata
Juni, 2004
Analisis Puisi:
Puisi “Pada Gelombang” karya Tri Astoto Kodarie merupakan puisi liris yang sarat dengan simbol alam, terutama laut dan gelombang. Puisi ini menghadirkan nuansa emosional yang dalam, sekaligus refleksi tentang hubungan, perpisahan, dan beban perasaan yang belum selesai.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perpisahan dan beban emosional dalam sebuah hubungan. Selain itu, terdapat tema tentang keterikatan yang sulit dilepaskan.
Puisi ini bercerita tentang dua individu yang terhubung oleh kenangan dan perasaan yang belum tuntas, yang diibaratkan melalui simbol gelombang dan laut.
Penyair seolah berbicara kepada seseorang yang masih menggenggam “gelombang”—yakni kenangan, emosi, atau keterikatan masa lalu. Ia mengajak untuk melepaskan hal tersebut, karena telah menjadi beban yang menyakitkan.
Gambaran tentang wajah yang “terdampar di pulau karang” dan perahu yang “mengapung di punggung musim” menunjukkan kondisi terombang-ambing, tidak memiliki arah pasti, dan terjebak dalam perasaan yang terus berulang.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
- Gelombang sebagai simbol emosi yang terus bergerak dan sulit dikendalikan.
- Keterikatan pada masa lalu dapat menghambat perjalanan hidup.
- Tangis dan kenangan yang terus berulang menjadi beban psikologis.
- Perpisahan tidak selalu berarti selesai, karena emosi masih tertinggal.
- Manusia perlu belajar melepaskan untuk dapat melanjutkan perjalanan hidup.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini adalah melankolis, sendu, dan kontemplatif. Terdapat nuansa kesedihan yang lembut namun mendalam.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat ditangkap antara lain:
- Penting untuk melepaskan kenangan yang menyakitkan agar dapat melangkah maju.
- Jangan terjebak dalam emosi masa lalu, karena hidup terus berjalan.
- Keseimbangan batin diperlukan agar tidak hanyut dalam perasaan yang berulang-ulang.
Imaji
Puisi ini kaya akan imaji alam yang simbolik, seperti:
- Imaji visual: “langit kelam”, “pulau karang”, “gelombang”, “buih”, “perahu”.
- Imaji suasana: malam dingin, laut yang bergemuruh.
- Imaji gerak: gelombang yang memercik, perahu yang mengapung.
Imaji tersebut memperkuat kesan keterombang-ambingan emosi.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Metafora: gelombang sebagai simbol emosi atau kenangan.
- Personifikasi: gelombang yang “dipercikkan”, malam yang “tidak melepaskan dingin”.
- Simbolisme: perahu (perjalanan hidup), laut (perasaan), pulau karang (keterhentian).
- Asosiasi (perbandingan implisit): pelayaran yang menjelma menjadi “benua tua”.
puisi “Pada Gelombang” merupakan refleksi mendalam tentang emosi yang belum selesai dan pentingnya melepaskan keterikatan masa lalu. Tri Astoto Kodarie berhasil menghadirkan puisi yang puitis sekaligus emosional, dengan memanfaatkan simbol laut sebagai representasi kehidupan batin manusia. Puisi ini mengajak pembaca untuk berani melepaskan, agar tidak terus terombang-ambing dalam gelombang perasaan.
Puisi: Pada Gelombang
Karya: Tri Astoto Kodarie
Biodata Tri Astoto Kodarie:
- Tri Astoto Kodarie lahir di Jakarta, pada tanggal 29 Maret 1961.
