Puisi: Pada Kuil (Karya Theoresia Rumthe)

Puisi “Pada Kuil” karya Theoresia Rumthe mengingatkan bahwa perasaan manusia sering kali lebih rumit daripada yang tampak di permukaan.

Pada Kuil

kuil, kau dan aku
kini memasuki pelatarannya.
dingin merambat mengecup bibir,
daun-daun kering berlari ditiup semilir.
hampir malam, bulan tidak kelihatan
pada kejauhan
kudengar orang-orang berdoa
mengatupkan lengan lunglai
merapal mantra
"terbukalah pintu ratapan
bijaklah kekhawatiran
sentausa kepulangan,
tenang, tenang!"
berulang-ulang kudengar
kata-kata meleleh bagai sepasang lilin
bulan pecah, sinarnya mengintai wajah
kulihat jelas sesuatu membara
antara kau, aku,
dan bayang-bayang memanjang.

9 Agustus 2019

Sumber: Percakapan Paling Panjang Perihal Pulang Pergi (Gramedia Pustaka Utama, 2021)

Analisis Puisi:

Puisi “Pada Kuil” karya Theoresia Rumthe merupakan puisi yang menghadirkan suasana spiritual, hening, dan penuh perenungan. Dengan latar sebuah kuil pada waktu menjelang malam, penyair menggambarkan hubungan antara manusia, doa, ketakutan, dan perasaan batin yang tersembunyi.

Puisi ini kaya akan simbol dan nuansa emosional. Kuil tidak hanya menjadi tempat fisik, tetapi juga ruang batin tempat manusia menghadapi kegelisahan, harapan, dan hubungan dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain.

Tema

Tema utama puisi ini adalah spiritualitas dan pergulatan batin manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang doa, ketenangan jiwa, dan hubungan emosional antara manusia dengan sesamanya.

Puisi ini bercerita tentang dua orang yang memasuki pelataran sebuah kuil pada suasana menjelang malam. Di tempat itu, suasana terasa dingin dan sunyi, sementara daun-daun kering beterbangan tertiup angin.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia sering datang ke ruang spiritual untuk mencari ketenangan dari kegelisahan hidup. Kuil menjadi simbol tempat perenungan dan pencarian kedamaian batin.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
  • Hening.
  • Mistis.
  • Reflektif.
  • Melankolis.
  • Spiritual.
Pilihan kata seperti “dingin merambat”, “mantra”, “bulan pecah”, dan “bayang-bayang memanjang” menciptakan nuansa yang tenang namun penuh misteri.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia memerlukan ruang untuk merenung dan menenangkan batin di tengah kegelisahan hidup. Doa dan perenungan dapat menjadi jalan untuk memahami diri sendiri dan menerima kehidupan dengan lebih tenang.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa perasaan manusia sering kali lebih rumit daripada yang tampak di permukaan.

Imaji

Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
  • Imaji visual: Tampak pada gambaran pelataran kuil, daun kering, bulan, lilin, dan bayang-bayang.
  • Imaji pendengaran: Terlihat dalam suara doa dan mantra yang dirapal berulang-ulang.
  • Imaji perabaan: Hadir melalui ungkapan “dingin merambat mengecup bibir”.
  • Imaji perasaan: Puisi menghadirkan rasa tenang, cemas, dan penuh perenungan.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Majas personifikasi: Dingin digambarkan dapat “mengecup bibir”, sementara daun-daun kering seolah “berlari”.
  • Majas simile/perumpamaan: “Kata-kata meleleh bagai sepasang lilin”.
  • Majas metafora: “Pintu ratapan” menjadi metafora penderitaan dan kesedihan manusia.
  • Majas simbolik: Kuil melambangkan ruang spiritual dan pencarian ketenangan batin.
  • Majas visual simbolis: “Bulan pecah” dan “bayang-bayang memanjang” melambangkan kegelisahan dan perasaan tersembunyi.
Puisi “Pada Kuil” karya Theoresia Rumthe merupakan puisi yang menggambarkan suasana spiritual dan pergulatan batin manusia dalam ruang perenungan. Dengan simbol kuil, doa, cahaya bulan, dan bayang-bayang, penyair menghadirkan refleksi tentang ketenangan, kekhawatiran, dan emosi manusia yang tersembunyi. Puisi ini mengajak pembaca memahami pentingnya keheningan dan perenungan dalam menghadapi kehidupan.

Theoresia Rumthe
Puisi: Pada Kuil
Karya: Theoresia Rumthe

Biodata Theoresia Rumthe:
  • Theoresia Rumthe lahir pada tanggal 16 Oktober 1983 di Ambon.
© Sepenuhnya. All rights reserved.