Pangrango
Dari sini
Tatkala cemara meluruh daun
Pohonan ngungun. Kita melihatnya
Dan angin yang bergegas
Lepas ke arah kita
Kita mendengarnya
Tatkala turun awan murung
Pangrango hanya basah
Dan angin tetap saja, menghampir senja
Kelam dalam kabut di atas bukit itu juga
Tatkala menyusuri hutan kenangan
Tatkala merasa sepi. Kita menghitungnya
Dari sini mengalir rindu
Antara sawah ladang dan batu
Kampung halaman dan tualang biru
1980
Sumber: Jalan Menuju Rumahmu (2004)
Analisis Puisi:
Puisi “Pangrango” menghadirkan lanskap alam pegunungan yang tidak hanya berfungsi sebagai latar, tetapi juga sebagai ruang batin untuk mengenang, merindu, dan merenung. Dengan gaya bahasa yang sederhana namun sarat simbol, penyair menghubungkan alam dengan pengalaman emosional manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan terhadap kampung halaman yang terikat dengan alam dan kenangan. Selain itu, terdapat tema tentang kesunyian dan hubungan antara manusia dengan alam sebagai ruang refleksi.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini meliputi:
- Pangrango melambangkan tempat yang sarat kenangan dan refleksi batin.
- Cemara yang meluruh menyiratkan perubahan dan kefanaan.
- Awan murung dan kabut mencerminkan suasana batin yang sendu dan penuh perenungan.
- Hutan kenangan menjadi simbol ingatan masa lalu yang terus hidup.
- Rindu yang mengalir menunjukkan keterikatan emosional terhadap asal-usul (kampung halaman).
Puisi ini menyiratkan bahwa alam dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan perasaan, sekaligus tempat manusia memahami dirinya sendiri.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini didominasi oleh hening, sendu, dan kontemplatif, dengan nuansa rindu dan kesunyian yang lembut.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat diambil dari puisi ini antara lain:
- Alam dapat menjadi ruang untuk merenung dan mengenang kehidupan.
- Kenangan terhadap kampung halaman adalah bagian penting dari identitas manusia.
- Kesunyian bukan sesuatu yang harus dihindari, melainkan bisa menjadi sarana memahami diri.
- Perubahan adalah bagian alami dari kehidupan, sebagaimana alam yang terus bergerak.
Imaji
Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat dan natural:
- Imaji visual: “cemara meluruh”, “awan murung”, “kabut di bukit”, “sawah dan ladang”.
- Imaji auditif: “angin yang bergegas”.
- Imaji kinestetik: “menyusuri hutan kenangan”.
- Imaji emosional: sepi, rindu, keheningan.
Imaji-imaji ini memperkuat suasana alam yang sekaligus menjadi refleksi batin.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini meliputi:
- Metafora: “hutan kenangan”, “rindu yang mengalir”.
- Personifikasi: “angin bergegas”, “awan murung”.
- Simbolisme: Pangrango, hutan, dan kabut sebagai simbol perasaan dan ingatan.
- Repetisi: pengulangan kata “tatkala” untuk menegaskan momen reflektif.
Puisi “Pangrango” karya Acep Zamzam Noor merupakan refleksi puitis tentang hubungan antara alam, kenangan, dan kerinduan. Dengan suasana yang tenang dan simbol yang kuat, puisi ini mengajak pembaca untuk melihat alam sebagai cermin batin dan sumber makna kehidupan.
Biodata Acep Zamzam Noor:
- Acep Zamzam Noor (Muhammad Zamzam Noor Ilyas) lahir pada tanggal 28 Februari 1960 di Tasikmalaya, Jawa Barat, Indonesia. Ia adalah salah satu sastrawan yang juga aktif melukis dan berpameran.
