Puisi: Pegunungan Senja (Karya Hendro Siswanggono)

Puisi “Pegunungan Senja” karya Hendro Siswanggono menghadirkan suasana alam pegunungan yang sunyi, dingin, dan perlahan tenggelam dalam kabut senja.
Pegunungan Senja
bagi Retno Sayogyandini

Angin bangkit pelan menekan
Menggigil cemara, lebih seperti hujan yang kerap
Bergetar-getar bayang-bayang pudar
Angin dimanapun enggan menetap

Senja jatuh, caya pecah warna-warna
Cemara, ketapang, rumpun bambu dan semua
Dalam pukau
Senja makin biru dan tambah tua
Diam-sepi jadinya

Tinggal aku termangu
Menatap gunduk-gunduk semak, bukit-bukit yang senyap
Gelepar-gelepar rumput. Sayup dan menggelap
Daun yang jatuhpun tak menemu bumi

Kabut, pelahan amat pelahan, mengendap satu-satu
Kaca jendela kian buram
Dalam pandang penghabisan kabut bersatu kelam

November, 1968

Sumber: Horison (September, 1969)

Analisis Puisi:

Puisi “Pegunungan Senja” karya Hendro Siswanggono menghadirkan suasana alam pegunungan yang sunyi, dingin, dan perlahan tenggelam dalam kabut senja. Penyair menggunakan gambaran alam untuk membangun suasana batin yang penuh renungan dan kesepian. Melalui pilihan kata yang puitis, pembaca diajak menyaksikan perubahan alam menjelang malam sekaligus merasakan kegelisahan yang tersembunyi di dalamnya.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kesunyian, kefanaan, dan perenungan hidup. Alam pegunungan dijadikan media untuk menggambarkan suasana hati yang sepi dan penuh kontemplasi.

Puisi ini bercerita tentang suasana senja di daerah pegunungan yang perlahan berubah menjadi gelap dan berkabut. Angin bertiup pelan, pepohonan bergetar, bayangan memudar, dan alam menjadi semakin sunyi. Di tengah suasana tersebut, penyair termenung memandangi bukit, semak, dan rumput yang tampak diam dalam kesenyapan. Pada akhir puisi, kabut datang perlahan hingga seluruh pandangan berubah kelam.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini menggambarkan perjalanan kehidupan manusia yang perlahan menuju akhir. Senja dapat dimaknai sebagai simbol masa tua atau akhir kehidupan, sedangkan kabut dan gelap melambangkan ketidakjelasan, kehilangan, atau kematian. Kesunyian alam juga mencerminkan kesendirian manusia ketika menghadapi kenyataan hidup.

Selain itu, puisi ini menyiratkan bahwa segala sesuatu di dunia bersifat sementara. Cahaya senja yang awalnya indah akhirnya memudar dan tenggelam dalam gelap.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa dalam puisi ini adalah: sunyi, sendu, dingin, muram, penuh perenungan.

Nuansa tersebut dibangun melalui gambaran angin, kabut, bayangan pudar, dan alam yang perlahan menggelap.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa kehidupan terus berjalan menuju perubahan dan akhir. Manusia perlu merenungi hidup serta menerima bahwa keindahan, waktu, dan kehidupan tidak akan berlangsung selamanya.

Puisi ini juga mengajak pembaca untuk lebih peka terhadap alam dan suasana batin yang sering kali tersembunyi di balik kesunyian.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Personifikasi: “Angin dimanapun enggan menetap”, “Daun yang jatuhpun tak menemu bumi”. Angin dan daun digambarkan memiliki sifat seperti manusia.
  • Metafora: “Senja makin biru dan tambah tua”. Senja diperlakukan seperti makhluk hidup yang menua. Ungkapan ini menjadi simbol perjalanan waktu menuju akhir.
Puisi “Pegunungan Senja” karya Hendro Siswanggono merupakan puisi yang kaya akan suasana dan penggambaran alam. Melalui senja, angin, kabut, dan pegunungan, penyair menyampaikan perasaan sunyi serta perenungan mendalam tentang kehidupan dan kefanaan waktu. Penggunaan imaji dan majas membuat puisi ini terasa hidup sekaligus menyentuh perasaan pembaca.

Hendro Siswanggono
Puisi: Pegunungan Senja
Karya: Hendro Siswanggono

Biodata Hendro Siswanggono:
  • Hendro Siswanggono lahir pada tanggal 19 Oktober 1951 di Sidoarjo.
© Sepenuhnya. All rights reserved.