Pelarian
Jejak terlampau cepat di pelarian
Bintang di hati, angin desember meniup hari-hari lambat
Dan garis-garis punya warna paduan jiwa
– Musim kanak-kanak bukan lagi jadi impian
Di dada ada pagi
Di dada ada senja
Malam-malam bermukim di kota kekasih
Bumi kelahiran tinggal terbakar
Cinta terbelah tiga di satu penjuru
Di hati rindu
Cinta di pulau
Dan tangan harap membelai seni yang punya tangisan
Banjarmasin, akhir Desember 1955
Sumber: Malam Hujan (2012)
Analisis Puisi:
Puisi “Pelarian” karya Hijaz Yamani merupakan puisi yang sarat dengan nuansa kerinduan, kehilangan, dan pergulatan batin. Dengan gaya bahasa simbolik dan padat, penyair menggambarkan seseorang yang sedang berada dalam perjalanan emosional—sebuah “pelarian” dari masa lalu, kenyataan hidup, atau luka batin yang terus membayang.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kerinduan dan pergulatan batin manusia dalam menghadapi kehilangan serta perubahan hidup. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema cinta, keterasingan, dan nostalgia terhadap masa lalu.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia sering membawa luka dan kerinduan ke mana pun ia pergi.
“Pelarian” dalam puisi bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan pelarian emosional dari masa lalu, kehilangan, dan kenyataan hidup yang pahit. Penyair menunjukkan bahwa meskipun seseorang mencoba pergi jauh, kenangan dan rasa cinta tetap tinggal di dalam hati.
Puisi ini juga menyiratkan bahwa seni dan perasaan dapat menjadi tempat pelarian terakhir bagi manusia ketika dunia nyata terasa hancur.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini terasa melankolis, sunyi, dan penuh kerinduan. Ada nuansa kehilangan yang mendalam, terutama pada gambaran bumi kelahiran yang terbakar dan cinta yang terpecah.
Namun, di balik kesedihan itu, tetap ada sedikit harapan dan kelembutan batin.
Amanat / Pesan yang Disampaikan
Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa kehidupan selalu membawa perubahan dan kehilangan yang tidak dapat dihindari.
Puisi ini juga mengajarkan bahwa manusia perlu menerima luka dan kenangan sebagai bagian dari perjalanan hidup. Selain itu, puisi ini menunjukkan bahwa harapan dan rasa cinta tetap dapat bertahan meskipun kehidupan sedang berada dalam kehancuran.
Seni dan perasaan manusia juga digambarkan sebagai kekuatan yang membantu seseorang bertahan menghadapi kenyataan hidup.
Imaji
Puisi ini memiliki beberapa imaji yang kuat, antara lain:
Imaji visual, misalnya:
“Bintang di hati”“Bumi kelahiran tinggal terbakar”
Pembaca dapat membayangkan cahaya harapan sekaligus kehancuran yang menyedihkan.
Imaji gerak, misalnya:
“Jejak terlampau cepat di pelarian”
Larik ini menghadirkan kesan perjalanan dan pelarian yang tergesa-gesa.
Imaji suasana waktu, tampak pada:
“angin desember meniup hari-hari lambat”
Pembaca dapat merasakan suasana dingin, sepi, dan lambat.
Imaji perasaan, tampak pada:
“Di hati rindu”“tangan harap membelai seni”
Ungkapan ini menghadirkan rasa rindu dan harapan yang lembut.
Majas
Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
Majas metafora, pada larik:
“Bintang di hati”
Bintang melambangkan harapan atau cahaya batin manusia.
Majas personifikasi, pada:
“angin desember meniup hari-hari lambat”
Hari-hari digambarkan seolah dapat ditiup oleh angin.
Majas simbolik, pada penggunaan:
“pagi”, “senja”, “malam”, dan “pulau”
Simbol-simbol tersebut menggambarkan perjalanan hidup, harapan, kesedihan, dan keterasingan.
Majas hiperbola, pada:
“Bumi kelahiran tinggal terbakar”
Ungkapan ini memperkuat kesan kehancuran dan kehilangan.
Majas repetisi, pada pengulangan:
“Di dada ada”
Pengulangan ini menegaskan konflik perasaan dalam diri penyair.
Puisi “Pelarian” karya Hijaz Yamani menggambarkan perjalanan batin manusia yang dipenuhi kerinduan, kehilangan, dan harapan. Dengan bahasa simbolik dan suasana melankolis, penyair memperlihatkan bahwa manusia sering membawa luka masa lalu dalam hidupnya. Namun, di tengah kehancuran dan keterasingan, masih ada cinta, seni, dan harapan yang mampu memberi makna bagi kehidupan.
