Puisi: Pergi Mengembara Selagi Usia Masih Muda (Karya Dodong Djiwapradja)

Puisi “Pergi Mengembara Selagi Usia Masih Muda” karya Dodong Djiwapradja menyampaikan bahwa pengalaman hidup adalah bekal penting sebelum manusia ...
Pergi Mengembara Selagi Usia Masih Muda (1)

Pergi mengembara selagi usia masih muda
Sebab nanti bila janggut sudah turun bagai salju, putih
tak’kan punya lagi waktu, selain berbaring dengan muka sedih

Pergi mengembara ke mana saja, misalnya ke desa-desa
melihat segala yang dapat dilihat
Mencatat segala yang dapat dicatat:
Petani yang bagai kerbau dan kerbau bagai petani
Yang selalu punya harapan, betapapun kecilnya hasil yang mereka dapatkan.

Pergi mengembara selagi usia masih muda, sebab
jika pantat sudah kapalan karena terlalu lama
duduk di bangku sekolah, dan sudah kelewat lelah
Buat memahami segalanya. Pergi,
pergi kemana saja menjelajahi kehidupan dunia
Dan jangan sekadar ikut kursus.
buat memerintah dan jadi pengurus.

Pergi mengembara sampai batas kehidupan dunia
Di mana orang tiada lagi tahu apa sebenarnya yang dituju
Linglung kepada hal yang baik, bingung kepada hal yang buruk.

Sebab kehidupan tidak seperti ujar kiyai
Cukup dengan hanya mengaji, lalu mengunci diri
Sedang baris ayat suci jadi beku, lapuk dan basi.
Di mana orang mulai merasa, dengan kehidupan ikut terlibat.
Kebaikan hanyalah sekadar aturan minum obat
Tunggu waktunya, nantikan saat yang tepat, bagai sembahyang, tidak sembarang waktu kau kerjakan.
Karena itu lebih baik pergi, cari apa yang bisa didapat
Selagi badan masih kuat, selagi pikiran masih sehat.

Pergi Mengembara Selagi Usia Masih Muda (2)

Dan di kala matahari berangsur turun masuk ke kampuh pelupuh
Badan akan pelan-pelan membungkuk
Berat oleh dosa, ringkuh oleh usia
dan sejak itu, siapapun mulai rindu
Inginkan ayat-ayat. Haus akan ilmu, dahaga kalimat mukjizat
Hingga suara kliningan penjual es, kau sangka lonceng gereja
Atau suara lantang penjual ikan, kaukira modin adzan.

Nikmat mengenangkan waktu yang lewat, itupun semacam kesibukan
Waktu sekadar relaks, melemaskan urat-urat
Dan sambil membopong cucu, kau sumpahi anak menantu
Karena keterlaluan, pulang dari luar negeri
Cuma membawa televisi.

Dan kau’kan marah garang, melihat kehidupan zaman sekarang
Sebab dengan hanya membaca komik, berani terjun ke dalam politik
Atau sambil memutar film cabul
berapat, lalu membuat usul.

Pergi Mengembara Selagi Usia Masih Muda (3)

...
Itulah semua, jika usia sudah tua
Bahwa selain encok, batuk dan selesma
Kau pun diserang nostalgia.

1972

Sumber: Langit Biru Laut Biru (1977)

Analisis Puisi:

Puisi “Pergi Mengembara Selagi Usia Masih Muda” karya Dodong Djiwapradja merupakan puisi yang sarat nasihat kehidupan. Melalui bahasa yang lugas namun puitis, penyair mengajak pembaca untuk memanfaatkan masa muda dengan cara memperluas pengalaman hidup, melihat dunia secara langsung, dan belajar dari kenyataan kehidupan.

Puisi ini tidak hanya berbicara tentang perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin dan pemahaman terhadap kehidupan manusia.

Puisi ini bercerita tentang ajakan kepada anak muda untuk pergi mengembara selagi masih memiliki tenaga, semangat, dan pikiran yang kuat. Penyair menggambarkan bahwa ketika usia sudah tua, seseorang akan lebih banyak dipenuhi penyesalan, nostalgia, dan keterbatasan fisik.

Dalam pengembaraan tersebut, manusia diajak melihat kenyataan hidup secara langsung, mulai dari kehidupan petani, perubahan zaman, hingga kondisi sosial masyarakat. Penyair juga mengkritik orang-orang yang hanya belajar secara teori tanpa benar-benar memahami kehidupan nyata.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup, pencarian pengalaman, dan pemanfaatan masa muda. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kritik sosial, pendidikan kehidupan, serta kesadaran manusia terhadap waktu dan usia.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa pengalaman hidup tidak cukup diperoleh hanya melalui pendidikan formal atau teori semata. Seseorang perlu melihat dunia secara langsung agar lebih memahami kenyataan kehidupan.

Puisi ini juga mengandung sindiran terhadap manusia yang terlalu nyaman dalam rutinitas, terlalu banyak belajar teori tanpa praktik, atau baru menyadari pentingnya ilmu dan pengalaman setelah usia tua.

Selain itu, penyair ingin menunjukkan bahwa masa muda adalah waktu terbaik untuk belajar, mencoba, dan mengenal kehidupan sebelum datang penyesalan di masa tua.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi terasa reflektif, kritis, dan penuh perenungan. Pada beberapa bagian, suasana juga terasa satiris karena penyair menyampaikan kritik sosial dengan gaya yang tajam namun puitis.

Di bagian akhir, suasana berubah menjadi lebih sendu karena menggambarkan masa tua yang dipenuhi nostalgia dan keterbatasan fisik.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Beberapa amanat yang dapat diambil dari puisi ini antara lain:
  • Masa muda harus dimanfaatkan untuk mencari pengalaman dan ilmu kehidupan.
  • Jangan hanya belajar teori tanpa memahami kenyataan hidup secara langsung.
  • Kehidupan perlu dijalani dengan keterlibatan nyata terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.
  • Waktu terus berjalan sehingga manusia jangan menunda untuk belajar dan berkembang.
  • Pengalaman hidup sering kali menjadi pelajaran paling berharga dibandingkan sekadar pengetahuan di atas kertas.

Imaji

Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji yang kuat, di antaranya:
  • Imaji Visual: Pembaca dapat membayangkan berbagai gambaran yang disampaikan penyair, seperti: “janggut sudah turun bagai salju, putih”, “matahari berangsur turun masuk ke kampuh pelupuh”, “petani yang bagai kerbau dan kerbau bagai petani”. Gambaran tersebut membuat suasana puisi terasa hidup dan mudah divisualisasikan.
  • Imaji Auditori: Terdapat pula imaji pendengaran, misalnya pada bagian: “suara kliningan penjual es”, “suara lantang penjual ikan”. Pembaca seolah dapat mendengar suara-suara yang digambarkan dalam puisi.

Majas

Puisi ini menggunakan beberapa majas, antara lain:
  • Majas Perbandingan (Simile): Contohnya: “janggut sudah turun bagai salju, putih”. Kalimat tersebut membandingkan janggut yang memutih dengan salju.
  • Majas Metafora:  Contohnya: “petani yang bagai kerbau dan kerbau bagai petani”. Ungkapan ini menggambarkan kerasnya kehidupan petani yang bekerja tanpa lelah seperti kerbau.
  • Majas Sindiran: Penyair juga menggunakan sindiran terhadap kehidupan sosial dan politik, misalnya pada bagian: “dengan hanya membaca komik, berani terjun ke dalam politik”. Kalimat tersebut menyindir orang yang minim pengetahuan tetapi merasa mampu terlibat dalam urusan besar.
Puisi “Pergi Mengembara Selagi Usia Masih Muda” karya Dodong Djiwapradja merupakan puisi yang kaya akan pesan kehidupan. Penyair mengajak pembaca, terutama generasi muda, untuk berani menjelajahi kehidupan dan belajar dari pengalaman nyata.

Melalui gaya bahasa yang puitis dan kritis, puisi ini menyampaikan bahwa pengalaman hidup adalah bekal penting sebelum manusia memasuki masa tua yang penuh keterbatasan dan kenangan.

Dodong Djiwapradja
Puisi: Pergi Mengembara Selagi Usia Masih Muda
Karya: Dodong Djiwapradja
    Biodata Dodong Djiwapradja:
    • Dodong Djiwapradja lahir di Banyuresmi, Garut, Jawa Barat, pada tanggal 25 September 1928.
    • Dodong Djiwapradja meninggal dunia pada tanggal 23 Juli 2009.
    © Sepenuhnya. All rights reserved.