Perhitungan
Ingat baik-baik, sahabatku
ketika kita kehilangan gasing
ketika kita kehilangan layangan
dan kita pun paling kehilangan
tapak-tapak kita di bandar pasir
Sayang kehilangan itu bukan?
Kita kehilangan
kehilangan tidakkah kita
tidak punya waktu untuk main-main?
Kita tidak kehilangan harga
kenangan dan kehilangan itu
Kenangan membuat kita
masih bisa mengenangkan kehilangan itu
dan sisa waktu
kita tidak main-main lagi
di luar kegaiban waktu
1978
Sumber: Malam Hujan (2012)
Analisis Puisi:
Puisi “Perhitungan” karya Hijaz Yamani mengangkat kenangan masa lalu dengan cara yang sederhana namun mendalam. Penyair menghadirkan gambaran kehilangan permainan masa kecil seperti gasing dan layangan untuk menyampaikan perubahan hidup, pertumbuhan usia, serta hubungan manusia dengan waktu.
Melalui bahasa yang reflektif, puisi ini mengajak pembaca merenungkan makna kehilangan dan kenangan yang tetap tinggal di dalam ingatan.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kehilangan, kenangan masa lalu, dan perjalanan waktu dalam kehidupan manusia. Selain itu, puisi ini juga menyentuh tema kedewasaan dan perubahan hidup.
Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mengenang masa kecil bersama sahabatnya. Mereka pernah bermain gasing, layangan, dan meninggalkan jejak kaki di pasir. Namun, semua itu kini telah hilang seiring berjalannya waktu.
Kehilangan tersebut bukan hanya kehilangan benda atau permainan, tetapi juga hilangnya masa kanak-kanak dan kebebasan bermain. Meski demikian, kenangan tentang masa itu tetap tersimpan dan menjadi sesuatu yang berharga.
Pada bagian akhir, penyair menggambarkan bahwa waktu terus berjalan dan manusia tidak bisa terus bermain-main dalam kehidupan. Ada kesadaran tentang kedewasaan dan keterbatasan waktu.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa manusia akan selalu mengalami kehilangan dalam hidup, terutama kehilangan masa-masa indah yang tidak bisa kembali.
Gasing, layangan, dan tapak kaki di pasir menjadi simbol: masa kecil, kebebasan, dan kenangan yang perlahan menghilang.
Namun, penyair menegaskan bahwa kehilangan tidak sepenuhnya buruk, karena kenangan tetap memiliki nilai yang berharga dalam kehidupan manusia.
Frasa “di luar kegaiban waktu” juga memberi kesan bahwa waktu adalah sesuatu yang misterius dan tidak dapat dihentikan.
Suasana dalam Puisi
Suasana dalam puisi ini cenderung: nostalgis, sendu, reflektif, dan penuh perenungan.
Pembaca diajak merasakan kerinduan terhadap masa lalu sekaligus kesadaran bahwa hidup terus berjalan.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia perlu menghargai waktu dan kenangan dalam hidupnya. Kehilangan merupakan bagian alami dari perjalanan hidup, tetapi pengalaman dan kenangan tetap dapat menjadi pelajaran berharga.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa seiring bertambahnya usia, manusia harus belajar menjadi lebih dewasa dan bijak dalam menjalani kehidupan.
Imaji dalam Puisi
Puisi ini memiliki beberapa imaji yang cukup kuat, antara lain:
- Imaji Visual: Pembaca dapat membayangkan “gasing”, “layangan”, dan “tapak-tapak kita di bandar pasir”. Gambaran tersebut menghadirkan suasana masa kecil yang sederhana dan akrab.
- Imaji Gerak: Terlihat dalam aktivitas bermain: bermain gasing, menerbangkan layangan, dan berjalan di pasir. Imaji ini membuat puisi terasa hidup dan dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Majas dalam Puisi
Beberapa majas yang tampak dalam puisi ini antara lain:
- Repetisi: Pengulangan kata “kehilangan”, digunakan untuk memperkuat kesan kehilangan yang mendalam.
- Pertanyaan Retoris: Kalimat “Sayang kehilangan itu bukan?” merupakan pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban langsung, tetapi mengajak pembaca merenung.
- Metafora: “Tapak-tapak kita di bandar pasir” dapat dimaknai sebagai metafora jejak kehidupan dan kenangan yang perlahan hilang oleh waktu.
- Personifikasi: “Kegaiban waktu” memberi kesan bahwa waktu memiliki kekuatan misterius yang memengaruhi kehidupan manusia.
Puisi “Perhitungan” karya Hijaz Yamani merupakan puisi reflektif yang membahas kehilangan, kenangan, dan perjalanan waktu. Dengan bahasa sederhana tetapi penuh makna, penyair berhasil menghadirkan suasana nostalgis tentang masa kecil yang telah berlalu. Puisi ini mengajarkan bahwa kehilangan adalah bagian dari kehidupan, sementara kenangan menjadi sesuatu yang tetap hidup dalam ingatan manusia.
