Puisi: Perjalanan (Karya S.M. Ardan)

Puisi “Perjalanan” karya S.M. Ardan menghadirkan gambaran sederhana tentang perjalanan dengan kereta api, tetapi di balik itu tersimpan refleksi ...
Perjalanan

Aku salah satu penumpang kereta-api dari dan ke satu jurusan
Seperti juga yang lain: bermata sangsi, belum punya pegangan
Ber-asak-asakan, duduk diikat benda mati, gantungan harap
Melihat ke luar jendela, melupa, kepadatan, perpacuan
Beriri pada manusia-manusia berkeliaran di keluasaan
Kereta-api berlari, penumpangnya bertanya:
Di mana aku mesti turu, hei, kawan?
Disambut teduh atau disongsong panas?!?
- kawan di sebelahku ini tak mengerti kataku -

Sumber: Majalah Pujangga Baru (Februari, 1951)

Analisis Puisi:

Puisi “Perjalanan” karya S.M. Ardan menghadirkan gambaran sederhana tentang perjalanan dengan kereta api, tetapi di balik itu tersimpan refleksi eksistensial yang mendalam. Penyair menggunakan situasi perjalanan fisik sebagai metafora kehidupan manusia yang penuh ketidakpastian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah perjalanan hidup manusia yang sarat ketidakpastian. Selain itu, terdapat tema tentang kegelisahan, pencarian arah, dan keterasingan dalam keramaian.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menjadi salah satu penumpang kereta api. Ia berada di tengah keramaian penumpang lain yang sama-sama tidak memiliki kepastian arah hidup. Dalam perjalanan tersebut, ia merenung, melihat keluar jendela, dan mempertanyakan tujuan akhirnya—di mana ia harus “turun” dan bagaimana ia akan disambut. Namun, pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban, bahkan dari orang di sebelahnya.

Makna Tersirat

Puisi ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia ibarat perjalanan tanpa kepastian yang jelas. Kereta api menjadi simbol alur hidup yang terus bergerak, sementara manusia adalah penumpang yang tidak sepenuhnya memahami tujuan akhirnya. Ketidakmampuan “kawan di sebelah” untuk menjawab menegaskan bahwa setiap individu pada akhirnya harus menghadapi pertanyaan eksistensialnya sendiri.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini cenderung gelisah dan reflektif. Ada rasa sesak (melalui gambaran berdesakan) sekaligus kesepian batin di tengah keramaian.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini mengingatkan bahwa manusia harus menyadari perjalanan hidupnya sebagai sesuatu yang tidak selalu jelas arahnya. Oleh karena itu, penting untuk memiliki pegangan hidup, karena tidak semua pertanyaan akan terjawab oleh orang lain.

Imaji

Puisi ini memanfaatkan imaji yang konkret:
  • Imaji visual: “penumpang kereta-api”, “melihat ke luar jendela”, “manusia-manusia berkeliaran”.
  • Imaji kinestetik: “kereta-api berlari”, “ber-asak-asakan”.
  • Imaji emosional: kegelisahan yang muncul dari pertanyaan tentang tujuan hidup.
Imaji-imaji ini membuat pengalaman perjalanan terasa nyata sekaligus simbolik.

Majas

Beberapa majas yang digunakan antara lain:
  • Metafora: “kereta api” sebagai simbol perjalanan hidup manusia.
  • Personifikasi: “kereta-api berlari” memberi sifat hidup pada benda mati.
  • Retoris: pertanyaan “Di mana aku mesti turu, hei, kawan?” yang tidak benar-benar mengharapkan jawaban.
  • Ironi: berada di tengah keramaian tetapi tetap merasa tidak dipahami.
Puisi “Perjalanan” menunjukkan kemampuan S.M. Ardan dalam mengolah pengalaman sehari-hari menjadi refleksi filosofis. Ia mengajak pembaca untuk merenungkan posisi diri dalam “kereta kehidupan” yang terus bergerak, tanpa jaminan arah yang pasti.

S.M. Ardan
Puisi: Perjalanan
Karya: S.M. Ardan

Biodata S.M. Ardan:
  • S.M. Ardan lahir pada tanggal 2 Februari 1932 di Medan, Sumatra Utara.
  • S.M. Ardan meninggal dunia pada tanggal 26 November 2006.
© Sepenuhnya. All rights reserved.