Puisi: Pertarungan (Karya N. A. Hadian)

Puisi “Pertarungan” karya N. A. Hadian menyiratkan bahwa manusia sering bertarung dengan sisi terdalam dirinya sendiri, antara rasa takut, ...
Pertarungan

Masih saja kucari engkau, Danvinos
adakah saat yang paling menakutkan
A, diriku — diriku. Danvinos — Danvinosku
barangkali juga engkau

Atau siapa yang datang itu, Danvinos
Jadi laut cahaya! Kelam malam
Mega-mega. Burung-burung mega.
Sendiri.

Ketika melenggok — kota ini tambah gemetar
Kenalkah engkau
Marilah berbisik pelahan
Dengarlah kataku: Kuucapkan selamat berduka-duka
Selamat tersenyum

Ya, selamat berduka-duka
Untuk lain kali saja kita bersua
dan engkau yang telah kurindu
Barangkali juga — barangkali juga
Ada; ah diriku sendiri

Danvinos — Danvinosku
Engkau adalah saat yang paling menakutkan
Diriku — diriku.

Medan, 2 Juni 1972

Sumber: Horison (Desember, 1973)

Analisis Puisi:

Puisi “Pertarungan” karya N. A. Hadian merupakan puisi yang penuh nuansa eksistensial dan psikologis. Dengan gaya yang simbolik dan repetitif, puisi ini menggambarkan pergulatan batin seseorang dengan dirinya sendiri, ketakutan, dan kesendirian.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pertarungan batin dan pencarian diri. Selain itu, puisi ini juga memuat tema ketakutan, kesepian, dan konflik psikologis manusia.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang mencari sosok bernama Danvinos. Sosok tersebut tampak misterius dan seolah memiliki hubungan erat dengan dirinya sendiri.

Dalam pencarian itu, muncul suasana malam yang kelam, kota yang gemetar, serta rasa takut yang terus menghantui. Pada akhirnya, penyair menyadari bahwa Danvinos mungkin bukan orang lain, melainkan bagian dari dirinya sendiri — sisi terdalam yang menakutkan sekaligus selalu dirindukan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini meliputi:
  • “Danvinos” → simbol sisi lain dari diri manusia, bisa berupa ketakutan, kenangan, atau identitas batin
  • “saat yang paling menakutkan” → momen ketika manusia berhadapan dengan dirinya sendiri
  • “laut cahaya” dan “kelam malam” → pertentangan antara harapan dan kegelisahan
  • “kota ini tambah gemetar” → gambaran dunia batin yang tidak stabil
  • “selamat berduka-duka / selamat tersenyum” → ironi kehidupan yang memuat kesedihan dan kebahagiaan sekaligus
  • “ah diriku sendiri” → pengakuan bahwa pertarungan terbesar terjadi di dalam diri manusia
Puisi ini menyiratkan bahwa manusia sering bertarung dengan sisi terdalam dirinya sendiri, antara rasa takut, kesepian, dan keinginan memahami identitasnya.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa adalah gelisah, suram, dan penuh misteri. Puisi ini juga menghadirkan nuansa reflektif dan emosional.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Puisi ini menyampaikan bahwa:
  • Pertarungan terbesar manusia sering terjadi dalam dirinya sendiri.
  • Ketakutan dan kesedihan merupakan bagian dari perjalanan memahami diri.
  • Manusia perlu menghadapi sisi terdalam dirinya, meskipun terasa menakutkan.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat:
  • Imaji visual: laut cahaya, malam kelam, mega-mega, kota yang gemetar.
  • Imaji auditif: bisikan pelan dan ucapan duka.
  • Imaji suasana: kesepian dan kegelisahan malam.
  • Imaji emosional: takut, rindu, dan keterasingan.

Majas

Beberapa majas yang digunakan:
  • Metafora: “laut cahaya” sebagai simbol harapan atau ledakan emosi.
  • Personifikasi: “kota ini tambah gemetar”.
  • Simbolisme: Danvinos sebagai simbol sisi batin manusia, malam sebagai simbol kegelisahan dan ketidakpastian.
  • Repetisi: pengulangan “Danvinos” dan “diriku — diriku” menegaskan konflik batin.
  • Ironi: “selamat berduka-duka / selamat tersenyum” memperlihatkan dua keadaan emosional yang bertolak belakang.
Melalui puisi “Pertarungan”, N. A. Hadian menghadirkan gambaran tentang konflik psikologis manusia dalam menghadapi dirinya sendiri. Dengan bahasa simbolik dan suasana yang kelam, puisi ini menunjukkan bahwa ketakutan, kerinduan, dan kesedihan sering menjadi bagian dari perjalanan manusia untuk mengenali identitas batinnya sendiri.

N. A. Hadian
Puisi: Pertarungan
Karya: N. A. Hadian

Biodata N. A. Hadian:
  • N. A. Hadian lahir pada tanggal 21 September 1932 di Medan.
  • N. A. Hadian meninggal dunia pada tanggal 22 Maret 2007.
© Sepenuhnya. All rights reserved.