Puisi: Pohon Kesayangan Burung-Burung Terbakar (Karya Frans Nadjira)

Puisi “Pohon Kesayangan Burung-Burung Terbakar” karya Frans Nadjira mengingatkan bahwa tindakan destruktif tidak hanya menghancurkan alam, tetapi ...

Pohon Kesayangan

Burung-Burung Terbakar


        ... bagaimana kau temukan bintik hitam biji
        mata di dalam tumpukan abu? Bagaimana hendak
        kau samakan cairan kuning itu dengan

lingkaran pucat di bawah pelupuk mataku?
Sampai saat terdengar suara gemertak ranting-ranting terbakar
aku tak sadar dari mana datangnya cahaya menyilaukan itu
        Ia tiba-tiba berdentam pecah seperti
        gumpalan api terhempas ke dalam terik.

Pohon kesayangan burung-burung terbakar.
Halilintar siang mengalirkan apinya
        sampai ke akar. Telur-telur!
        Telur-telur meletus
        Gugur jadi cairan mengental
        ke dalam racikan api.

Suara parau seseorang
menyusup ke denyar darahku:
"Robek lambungnya ia yang menyulutkan api!"

Tapi siapa?
Dalam udara panas tak ada yang mau mengacungkan
jarinya
Bahkan tak akan ada yang mau mengaku memiliki tangan. 

Sumber: Horison (September, 1990)

Analisis Puisi:

Puisi “Pohon Kesayangan Burung-Burung Terbakar” karya Frans Nadjira merupakan puisi yang penuh simbol dan nuansa tragis. Melalui gambaran kebakaran pohon tempat burung-burung bersarang, penyair menghadirkan suasana kehancuran, ketakutan, dan misteri tentang pelaku di balik bencana tersebut.

Puisi ini tidak hanya menggambarkan kebakaran secara harfiah, tetapi juga dapat dimaknai sebagai simbol kehancuran kehidupan, lingkungan, harapan, atau bahkan kemanusiaan akibat ulah manusia sendiri.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehancuran dan tragedi akibat tindakan manusia. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema:
  • kekerasan,
  • kerusakan alam,
  • ketidakpedulian,
  • dan hilangnya tanggung jawab sosial.
Puisi ini bercerita tentang sebuah pohon yang menjadi tempat kesayangan burung-burung, tetapi kemudian terbakar hebat. Api membakar hingga ke akar, menghancurkan sarang dan telur-telur burung yang pecah di dalam kobaran api.

Di tengah kehancuran itu, muncul suara seseorang yang menyalahkan pelaku pembakaran. Namun ketika ditanya siapa yang bertanggung jawab, tidak ada seorang pun yang berani menunjuk atau mengaku.

Keadaan tersebut menggambarkan tragedi yang terjadi akibat ulah manusia, tetapi semua orang memilih diam dan menghindari tanggung jawab.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah kritik terhadap manusia yang merusak kehidupan dan lingkungan, tetapi tidak mau bertanggung jawab atas akibat perbuatannya.

Pohon dapat dimaknai sebagai simbol kehidupan, tempat berlindung, atau kedamaian. Burung-burung dan telur-telurnya melambangkan harapan, generasi baru, dan makhluk lemah yang menjadi korban.

Sementara itu, sikap orang-orang yang tidak mau “mengacungkan jari” menunjukkan budaya saling lempar kesalahan dan hilangnya keberanian moral dalam masyarakat.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa:
  • Tegang.
  • Mencekam.
  • Tragis.
  • Panas dan penuh kepanikan.
  • Suram dan menyedihkan.
Nuansa kebakaran dan kehancuran membuat pembaca merasakan kepedihan serta kekacauan yang terjadi dalam puisi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan

Amanat yang ingin disampaikan penyair adalah bahwa manusia harus menjaga kehidupan dan lingkungan, serta berani bertanggung jawab atas perbuatannya.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa tindakan destruktif tidak hanya menghancurkan alam, tetapi juga merenggut kehidupan makhluk lain yang tidak bersalah.

Selain itu, penyair menyindir sikap manusia yang sering diam ketika terjadi kesalahan atau kejahatan, padahal semua mengetahui adanya pelaku.

Imaji

Puisi ini sangat kaya dengan penggunaan imaji.

Imaji Visual

Contohnya:

“Pohon kesayangan burung-burung terbakar”

Pembaca seolah melihat pohon besar yang dilalap api.

“Telur-telur meletus / Gugur jadi cairan mengental”

Menghadirkan gambaran tragis telur yang pecah terbakar.

Imaji Pendengaran

Contohnya:

“terdengar suara gemertak ranting-ranting terbakar”

Memberikan kesan bunyi kayu terbakar yang keras dan menegangkan.

Imaji Gerak

Contohnya:

“Halilintar siang mengalirkan apinya / sampai ke akar”

Menggambarkan api yang menjalar ke seluruh bagian pohon.

Imaji Perasaan

Contohnya:

“Suara parau seseorang / menyusup ke denyar darahku”

Menghadirkan rasa takut dan kegelisahan dalam diri penyair.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:

Personifikasi

“Halilintar siang mengalirkan apinya”

Halilintar digambarkan seperti makhluk hidup yang dapat mengalirkan api.

Metafora

“Pohon kesayangan burung-burung”

Pohon menjadi simbol tempat kehidupan dan perlindungan.

Hiperbola

“Telur-telur meletus”

Memberikan kesan ledakan yang dramatis untuk memperkuat tragedi.

Retorika

“Tapi siapa?”

Pertanyaan ini tidak membutuhkan jawaban langsung, tetapi digunakan untuk menggugah kesadaran pembaca.

Simbolisme

Api dalam puisi ini menjadi simbol:
  • kehancuran,
  • amarah,
  • kekerasan,
  • atau kerusakan akibat ulah manusia.
Puisi “Pohon Kesayangan Burung-Burung Terbakar” karya Frans Nadjira merupakan puisi yang menggambarkan tragedi kehancuran dengan bahasa simbolik dan kuat. Melalui peristiwa kebakaran pohon dan hancurnya telur-telur burung, penyair menyampaikan kritik terhadap manusia yang merusak kehidupan tetapi enggan bertanggung jawab.

Dengan suasana yang mencekam dan penuh emosi, puisi ini mengajak pembaca untuk lebih peduli terhadap kehidupan, lingkungan, dan keberanian moral dalam menghadapi kesalahan.

Frans Nadjira
Puisi: Pohon Kesayangan Burung-Burung Terbakar
Karya: Frans Nadjira

Biodata Frans Nadjira
  • Frans Nadjira lahir pada tanggal 3 September 1942 di Makassar, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.