Puisi: Pulang Kampung Minggu Ini (Karya Mariati Atkah)

Puisi “Pulang Kampung Minggu Ini” karya Mariati Atkah menggambarkan kehidupan kampung dengan nuansa alam, tradisi, dan kebersamaan masyarakat desa.

Pulang Kampung Minggu Ini

tahun lalu, pada bulan seperti sekarang
telah terdengar katak menyela kerik jangkrik sehabis hujan
titik air jatuh satu-satu dari atap menuju pelimbahan

entah dengan alasan apa matahari sepanjang musim ini
hanya menumbuhkan angin yang menghambur serbuk sari bunga rumput
berdesak merambatkan akar masing-masing

tentang lempung kering mengeras itu, kutanya pada bapak:
dengan apa kita akan membajak?
dengan cangkul? dengan kuda?
atau harus dilembutkan dulu dengan air mata?

senyum ia sambil menunjuk pesta kecil di lingkar pematang:
anak-anak telanjang dada berebut giliran menendang bola
mengucap salam di gawang batang bambu
sore hari sepulang sekolah

meriah, meriuh
selayak alu bertemu padi dalam lesung
saat mappadendang digelar orang-orang kampung

Barru, 2012

Sumber: Selama Laut Masih Bergelombang (Gramedia Pustaka Utama, 2020)

Analisis Puisi:

Puisi “Pulang Kampung Minggu Ini” karya Mariati Atkah menghadirkan suasana pedesaan yang akrab, sederhana, dan penuh kenangan. Melalui gambaran alam, kehidupan kampung, serta percakapan dengan bapak, penyair menyampaikan refleksi tentang kehidupan masyarakat desa yang dekat dengan alam, tradisi, dan kebersamaan.

Puisi ini juga memperlihatkan hubungan emosional antara manusia dengan kampung halaman yang tetap hidup meskipun keadaan alam dan kehidupan mengalami perubahan.

Tema

Tema utama puisi ini adalah kehidupan kampung halaman dan hubungan manusia dengan alam serta tradisi. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kerinduan, kesederhanaan hidup desa, dan ketahanan masyarakat dalam menghadapi kesulitan.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehidupan tidak selalu berjalan mudah, terutama bagi masyarakat yang hidup dekat dengan alam. Kekeringan tanah dapat dimaknai sebagai simbol kesulitan hidup dan tantangan yang dihadapi manusia.

Pertanyaan “atau harus dilembutkan dulu dengan air mata?” menyiratkan bahwa perjuangan hidup sering kali membutuhkan pengorbanan dan kesabaran. Namun, puisi ini juga menunjukkan bahwa kebersamaan, tradisi, dan kegembiraan sederhana mampu menjadi kekuatan dalam menghadapi kesulitan.

Selain itu, puisi ini mengandung kerinduan terhadap kehidupan kampung yang hangat dan penuh nilai kebersamaan.

Suasana dalam Puisi

Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
  • Hangat.
  • Nostalgis.
  • Tenang.
  • Reflektif.
  • Meriah pada bagian akhir.
Perubahan suasana dari kegelisahan menuju keceriaan membuat puisi terasa hidup dan dekat dengan pengalaman masyarakat desa.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa manusia perlu menjaga hubungan dengan alam, keluarga, dan tradisi sebagai bagian penting dalam kehidupan. Puisi ini juga mengajarkan bahwa kesederhanaan dan kebersamaan dapat menjadi sumber kekuatan dalam menghadapi kesulitan hidup.

Selain itu, puisi ini mengingatkan pentingnya menghargai kehidupan kampung dan nilai-nilai sosial yang ada di dalamnya.

Imaji

Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
  • Imaji visual: Tampak pada gambaran hujan, atap rumah, bunga rumput, pematang sawah, anak-anak bermain bola, dan batang bambu.
  • Imaji pendengaran: Terlihat dalam suara katak, jangkrik, dan suasana mappadendang yang meriah.
  • Imaji gerak: Tampak pada kata “jatuh”, “menghambur”, “merambatkan”, dan “menendang bola”.
  • Imaji perasaan: Puisi menghadirkan rasa rindu, hangat, dan kebersamaan.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Majas personifikasi: Angin digambarkan dapat “menghambur serbuk sari bunga rumput”.
  • Majas metafora: “Dilembutkan dulu dengan air mata” menjadi metafora perjuangan dan penderitaan hidup.
  • Majas simile/perumpamaan: “Selayak alu bertemu padi dalam lesung” membandingkan suasana ramai kampung dengan bunyi tradisional saat menumbuk padi.
  • Majas simbolik: Tanah kering menjadi simbol kesulitan hidup masyarakat desa.
Puisi “Pulang Kampung Minggu Ini” karya Mariati Atkah merupakan puisi yang menggambarkan kehidupan kampung dengan nuansa alam, tradisi, dan kebersamaan masyarakat desa. Melalui simbol tanah kering, permainan anak-anak, dan tradisi mappadendang, penyair memperlihatkan bahwa di tengah kesulitan hidup, masyarakat tetap memiliki semangat dan kegembiraan sederhana. Puisi ini mengajak pembaca untuk menghargai kampung halaman, tradisi, dan nilai kebersamaan dalam kehidupan.

Mariati Atkah
Puisi: Pulang Kampung Minggu Ini
Karya: Mariati Atkah

Biodata Mariati Atkah:
  • Mariati Atkah lahir pada tanggal 20 Mei 1987 di Soreang, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
© Sepenuhnya. All rights reserved.