Puisi: Ranjang Tumbuh Jamur Liar (Karya Pulo Lasman Simanjuntak)

Puisi “Ranjang Tumbuh Jamur Liar” karya Pulo Lasman Simanjuntak menghadirkan refleksi tentang rapuhnya kehidupan dan perasaan manusia ketika ...
Ranjang Tumbuh Jamur Liar

di hamparan ranjang memanjang
tumbuh jamur liar
ada pentas malam
sudah tiga bulan

disebar adegan
ribuan tulang belulang
kesakitan
menggelepar
seekor rusa jantan
masuk kamar diam-diam

ini persetubuhan kita yang terakhir, pintamu memohon belas kasihan pada rembulan

musim hujan pepohonan
justru makin kering
dalam tubuhmu yang makin mengecil

di taman eden engkau perempuan samaria
tanpa makan daging
tanpa makan ikan
kesedihan pun menjelma jadi kelaparan berkepanjangan

aku hanya hamba tuan
yang merayap-rayap
untuk tempat peristirahatan
sepanjang zaman
tak berkesudahan

Jakarta, Kamis 6 Oktober 2022

Analisis Puisi:

Puisi “Ranjang Tumbuh Jamur Liar” karya Pulo Lasman Simanjuntak menghadirkan suasana gelap, muram, dan penuh simbol penderitaan. Penyair menggunakan gambaran tubuh, ranjang, hujan, serta kematian untuk menggambarkan hubungan manusia dengan kesedihan, kehilangan, dan kehancuran batin.

Bahasa dalam puisi ini bersifat simbolik dan metaforis sehingga menghadirkan banyak lapisan makna yang dapat ditafsirkan secara emosional maupun filosofis.

Tema

Tema utama puisi ini adalah penderitaan dan kematian. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema kesepian, kehancuran hubungan, penderitaan fisik maupun batin, serta kehilangan harapan hidup.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kesedihan dan penderitaan dapat mengikis kehidupan manusia secara perlahan, baik secara emosional maupun spiritual.

“Jamur liar” pada ranjang dapat dimaknai sebagai simbol kehancuran hubungan atau kehidupan yang tidak lagi terawat. Sedangkan “persetubuhan terakhir” menggambarkan perpisahan, akhir hubungan, atau akhir harapan.

Puisi ini juga menyiratkan bahwa manusia sering kali merasa kecil dan tak berdaya di hadapan penderitaan yang terus berlangsung.

Suasana dalam Puisi

Suasana dalam puisi ini terasa muram, suram, dan penuh kesedihan. Gambaran tentang tulang belulang, tubuh yang mengecil, serta pencarian kuburan menghadirkan nuansa kematian dan kehampaan yang sangat kuat.

Di beberapa bagian, suasana juga terasa mencekam dan simbolis seperti mimpi buruk atau halusinasi.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat diambil dari puisi ini adalah bahwa penderitaan yang dipendam terlalu lama dapat menghancurkan kehidupan manusia secara perlahan.

Puisi ini juga mengingatkan bahwa hubungan manusia memerlukan perhatian, kasih sayang, dan harapan agar tidak berubah menjadi kehampaan dan kesedihan berkepanjangan.

Imaji

Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji yang kuat, antara lain:
  • Imaji penglihatan, terlihat pada gambaran “jamur liar”, “ribuan tulang belulang”, “seekor rusa jantan”, dan “mencari kuburan”.
  • Imaji gerak, tampak pada kata “menggelepar” dan “merayap-rayap”.
  • Imaji perasaan, hadir melalui suasana kesakitan, kesedihan, dan keputusasaan.
  • Imaji sentuhan, terasa dalam gambaran tubuh yang makin mengecil dan penderitaan fisik.
Imaji-imaji tersebut membuat puisi terasa hidup sekaligus menimbulkan kesan gelap dan emosional.

Majas

Beberapa majas yang terdapat dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora, pada ungkapan “ranjang tumbuh jamur liar” yang melambangkan hubungan atau kehidupan yang membusuk dan terbengkalai.
  • Personifikasi, pada “kesedihan pun menjelma jadi kelaparan berkepanjangan” karena kesedihan digambarkan dapat berubah bentuk seperti makhluk hidup.
  • Simbolisme, penggunaan “rusa jantan”, “rembulan”, dan “kuburan” sebagai simbol hasrat, harapan, dan kematian.
  • Hiperbola, pada frasa “ribuan tulang belulang” untuk memperkuat kesan penderitaan besar.
  • Alusi, pada penyebutan “taman eden” dan “perempuan samaria” yang merujuk pada simbol-simbol religius dalam tradisi kitab suci.
Puisi “Ranjang Tumbuh Jamur Liar” karya Pulo Lasman Simanjuntak merupakan puisi simbolik yang menggambarkan penderitaan, kehancuran hubungan, dan kesedihan manusia. Dengan penggunaan metafora yang kuat dan suasana yang gelap, penyair berhasil menghadirkan refleksi tentang rapuhnya kehidupan dan perasaan manusia ketika kehilangan harapan.

Pulo Lasman Simanjuntak
Puisi: Ranjang Tumbuh Jamur Liar
Karya: Pulo Lasman Simanjuntak

Biodata Pulo Lasman Simanjuntak:
    Pulo Lasman Simanjuntak lahir di Surabaya, 20 Juni 1961. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Publisistik (STP/IISIP-Jakarta). Lasman Simanjuntak belajar sastra secara otodidak. Hasil karya sajaknya pertama kali dipublikasikan sewaktu masih duduk di bangku SMP, yakni dimuat di ruang sanjak anak-anak Harian Umum Kompas tahun 1977.

    Kemudian pada tahun 1980 sampai tahun 2022 sajak-sajaknya mulai disiarkan di Majalah Keluarga, Dewi, Nova, Monalisa, Majalah Mahkota, Harian Umum Merdeka, Suara Karya, Jayakarta, Berita Yudha, Media Indonesia, Harian Sore Terbit, Harian Umum Seputar Indonesia (Sindo), Koran Media Cakra Bangsa (Jakarta), Majalah Habatak Online, dan banyak lagi lainya.

    Selain di Media Online dan Media Offline, sajaknya juga termuat dalam 17 Buku Antologi Puisi Bersama Penyair di seluruh Indonesia.

    Buku kumpulan sajak tunggalnya yang sudah terbit Traumatik (1997), Kalah atau Menang (1997), Taman Getsemani (2016), Bercumbu dengan Hujan (2021), Tidur di Ranjang Petir (2021), Mata Elang Menabrak Karang (2021), Rumah Terbelah Dua (2021).

    Pada saat ini Pulo Lasman Simanjuntak sedang mempersiapkan penerbitan buku Antologi Puisi Tunggal ke-8 berjudul Bila Sunyiku Ikut Terluka (2022).

    Beberapa karya puisinya juga telah diterjemahkan (dialihaksarakan) kepada penulisan aksara Arab Melayu.

    Pada Minggu 18 September 2022 puisinya berjudul Pohon Itu Kesunyian atau The Tree Was Silent mendapat sertifikat keunggulan dari Global Poetry Forum karena dinilai puisi tersebut luar biasa.

    Namanya juga telah masuk dalam buku Pintar Sastra Indonesia (2001) yang disunting oleh Pamusuk Eneste, serta buku Apa & Siapa Penyair Indonesia (2017) yang disunting oleh Maman S. Mahayana bersama Sutardji Calzoum Bahchri, Abdul Hadi W.M, Rida K.Liamsi, Ahmadun Y. Herfanda, dan Hasan Aspahani.

    Pada tahun 2021 ia mendapat piagam dan medali penghargaan Setya Sastra Nagari (30 tahun Kesetiaan Sastra Indonesia) oleh Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia.

    Pada bulan Juni dan Juli 2022 berturut-turut karya puisinya memperoleh juara III dan juara II Puisi Pilihan Terbaik oleh Komunitas Sastra SNW ( Sastra Nusa Widhita).

    Saat ini Lasman Simanjuntak aktif sebagai anggota Dapur Sastra Jakarta (DSJ), Komunitas dari Negeri PociSastera Sahabat Kita (berpusat di Sabah Malaysia) serta Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP).
    © Sepenuhnya. All rights reserved.