Revivre
Suara apa yang menggelegar di luar itu
Semacam tangis, semacam gerimis
menyiram duka senja kotaku
semacam prahara, gelombang lapar yang bangkit dimana-mana
di jalan-jalan, di sepanjang antrean seluruh negara
di antara sebuah sendat yang menggaris kelabu
menyusup kelam. Dan menguakkan perlahan-lahan
Perlahan-lahan sunyi pun mengembun
atas jiwa, atas bias cahaya yang kian merabun
tapi hikmah hidup adalah tenaga
adalah tangan nasib yang melawan bencana
di mana tangis pun tenggelam, sunyi pun tenggelam
dalam keringat kerja, dalam semangat juang yang menyalam dunia.
1964
Sumber: Horison (Oktober, 1971)
Analisis Puisi:
Puisi “Revivre” (yang dalam bahasa Prancis berarti hidup kembali) menghadirkan gambaran tentang dunia yang dilanda krisis, tetapi sekaligus menyimpan semangat kebangkitan. Penyair memadukan suasana duka kolektif dengan optimisme yang muncul dari daya juang manusia.
Tema
Tema utama puisi ini adalah perjuangan manusia menghadapi krisis dan semangat untuk bangkit kembali dari keterpurukan.
Puisi ini bercerita tentang situasi sosial yang dilanda penderitaan, yang digambarkan melalui suara tangis, gerimis, dan prahara yang melanda kota hingga berbagai penjuru negeri.
Kondisi tersebut tampak dalam gambaran antrean panjang, kelaparan, dan suasana kelabu yang menyelimuti kehidupan masyarakat. Kesedihan dan keputusasaan meresap ke dalam jiwa manusia, menciptakan suasana sunyi yang berat.
Namun, pada bagian akhir, puisi ini berbalik arah. Penyair menegaskan bahwa di tengah duka tersebut, manusia memiliki kekuatan untuk bangkit, melalui kerja keras dan semangat juang yang mampu mengatasi bencana.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
- Suara menggelegar melambangkan krisis besar atau gejolak sosial.
- Tangis dan gerimis menggambarkan penderitaan yang meluas.
- Gelombang lapar menjadi simbol kesulitan ekonomi atau kelaparan massal.
- Sunyi yang mengembun menunjukkan keputusasaan yang mendalam.
- Tenaga dan semangat juang melambangkan harapan dan kekuatan manusia untuk bertahan.
Puisi ini menyiratkan bahwa meskipun manusia menghadapi penderitaan besar, selalu ada potensi untuk bangkit melalui usaha dan keteguhan.
Suasana dalam Puisi
Suasana puisi ini terbagi dalam dua fase:
- Awal: muram, mencekam, dan penuh penderitaan
- Akhir: optimis, penuh harapan, dan semangat
Perubahan suasana ini menjadi kekuatan utama puisi.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Pesan yang dapat diambil dari puisi ini antara lain:
- Dalam kondisi sulit sekalipun, manusia memiliki kemampuan untuk bangkit.
- Kerja keras dan semangat juang adalah kunci menghadapi krisis.
- Penderitaan bukan akhir dari segalanya, melainkan bagian dari proses menuju kebangkitan.
- Harapan harus tetap dijaga meskipun keadaan tampak gelap.
Imaji
Puisi ini kaya dengan imaji yang kuat dan kolektif:
- Imaji auditif: suara menggelegar, tangis.
- Imaji visual: gerimis, antrean panjang, suasana kelabu.
- Imaji suasana: kesunyian yang menekan, duka yang menyelimuti kota.
- Imaji gerak: gelombang lapar yang bangkit, perjuangan manusia.
Imaji-imaji ini memperkuat kesan realitas sosial yang hidup dan dramatis.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Metafora: “gelombang lapar” sebagai simbol krisis.
- Personifikasi: sunyi yang “mengembun”, cahaya yang “merabun”.
- Hiperbola: penggambaran penderitaan yang meluas ke seluruh negara.
- Simbolisme: tangis, gerimis, dan antrean sebagai lambang kondisi sosial.
- Repetisi: pengulangan “perlahan-lahan” untuk menegaskan suasana.
Puisi “Revivre” karya Hoedi Soejanto merupakan refleksi tentang penderitaan kolektif dan kekuatan manusia untuk bangkit. Dengan perpaduan suasana kelam dan harapan, puisi ini menegaskan bahwa di balik setiap krisis, selalu ada peluang untuk hidup kembali melalui semangat dan perjuangan.
Karya: Hoedi Soejanto
Biodata Hoedi Soejanto:
- Hoedi Soejanto (Ejaan yang Disempurnakan Hudi Suyanto) lahir di Salatiga, Jawa Tengah pada bulan Maret 1936.