Saat Ditinggal Ibu
Ibu bicara, aku dengarkan.
Kabar sedih memenuhi kepalaku.
Ibu pergi, air mata memenuhi
pipiku, tumpah dari wadahnya.
Terdengar suara kereta bergerak
cepat seperti ular lapar. Ibu pergi,
bukan untuk bermain-main, bukan
untuk berlibur. Ibu pergi belajar.
Jika tidak lulus, ibu harus bayar
uang pada negara. Jika tidak, ibu
bisa dipenjara. Aku ingin ibu cepat
lulus dan ibu pasti lulus. Jika tak
ada ibu, aku sedih tak terhingga.
Anak-anak gembira tak ditinggal orang tua.
Jika yang kuberi ini buat ia gembira
aku akan berterimakasih sebanyaknya
seperti radio yang tak mau diam.
Jangan menangis, kata ibu.
Aku tetap menangis.
Tak tahu mengapa, aku mengkhawatirkannya.
2017
Sumber: Harian Media Indonesia (10 Juni 2018)
Analisis Puisi:
Puisi “Saat Ditinggal Ibu” karya Abinaya Ghina Jamela merupakan puisi yang menggambarkan kesedihan dan kekhawatiran seorang anak ketika harus berpisah dengan ibunya. Dengan bahasa yang sederhana dan jujur, puisi ini memperlihatkan perasaan anak yang sangat dekat dengan sosok ibu.
Meskipun ditulis dari sudut pandang anak-anak, puisi ini memiliki emosi yang kuat karena membahas rasa takut kehilangan, kekhawatiran, dan harapan agar sang ibu baik-baik saja.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kasih sayang anak kepada ibu. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema perpisahan, kekhawatiran, dan hubungan emosional dalam keluarga.
Puisi ini bercerita tentang seorang anak yang sedih karena ibunya harus pergi untuk belajar. Sebelum pergi, ibu menjelaskan alasan keberangkatannya, tetapi kabar itu justru membuat sang anak merasa sedih dan menangis.
Sang anak mendengar suara kereta yang bergerak cepat dan membayangkan keberangkatan ibunya. Ia memahami bahwa ibunya pergi bukan untuk bersenang-senang, melainkan untuk belajar agar tidak mendapat hukuman dari negara.
Anak itu berharap ibunya cepat lulus dan segera kembali. Walaupun sang ibu meminta agar dirinya tidak menangis, sang anak tetap menangis karena rasa khawatir yang sangat besar terhadap ibunya.
Pada bagian akhir, tampak jelas bahwa sang anak sangat mencintai ibunya dan takut terjadi sesuatu pada dirinya.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah bahwa kehadiran ibu sangat penting bagi kehidupan seorang anak.
Puisi ini juga menunjukkan bahwa anak-anak dapat merasakan kecemasan dan kesedihan yang mendalam ketika berpisah dengan orang tua. Selain itu, terdapat pesan tentang perjuangan seorang ibu yang harus menjalani tanggung jawab demi masa depan dan kehidupannya.
Tangisan anak bukan hanya karena perpisahan, tetapi juga karena rasa cinta dan kekhawatiran yang tulus.
Suasana dalam Puisi
Suasana yang terasa dalam puisi ini antara lain:
- Sedih dan haru.
- Penuh kekhawatiran.
- Lembut dan emosional.
- Dipenuhi kasih sayang keluarga.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Beberapa amanat yang dapat diambil dari puisi ini yaitu:
- Kasih sayang antara anak dan ibu sangat berharga.
- Perjuangan orang tua sering dilakukan demi masa depan keluarga.
- Anak perlu belajar memahami pengorbanan orang tua.
- Perpisahan sementara tidak menghilangkan rasa cinta dalam keluarga.
Imaji dalam Puisi
Puisi ini memiliki beberapa imaji yang kuat dan menyentuh.
- Imaji Auditori: Pembaca dapat membayangkan suara kereta yang bergerak cepat. Contoh “Terdengar suara kereta bergerak”
- Imaji Visual: Pembaca dapat membayangkan air mata yang memenuhi pipi dan suasana keberangkatan ibu. Contoh “air mata memenuhi / pipiku”
- Imaji Gerak: Terlihat dari gambaran kereta yang melaju cepat. Contoh “cepat seperti ular lapar.”
- Imaji Perasaan: Puisi ini sangat kuat menghadirkan rasa sedih, takut, dan khawatir. Contoh “Aku tetap menangis.”
Majas dalam Puisi
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Perumpamaan (Simile): Kereta dibandingkan dengan ular lapar untuk menggambarkan gerak yang cepat dan menegangkan. Contoh “cepat seperti ular lapar.” Selain itu “seperti radio yang tak mau diam.”
- Personifikasi: Air mata digambarkan seperti benda yang dapat “tumpah dari wadahnya”. Contoh “tumpah dari wadahnya.”
- Hiperbola: Ungkapan “aku sedih tak terhingga” digunakan untuk memperkuat rasa sedih sang anak.
Puisi “Saat Ditinggal Ibu” karya Abinaya Ghina Jamela menggambarkan kesedihan seorang anak ketika harus berpisah dengan ibunya. Dengan bahasa yang sederhana namun emosional, puisi ini memperlihatkan kuatnya hubungan kasih sayang dalam keluarga serta kekhawatiran seorang anak terhadap orang yang sangat dicintainya.
Karya: Abinaya Ghina Jamela
Biodata Abinaya Ghina Jamela:
- Abinaya Ghina Jamela (biasa disapa Naya) lahir pada tanggal 11 Oktober 2009 di Padang, Sumatera Barat, Indonesia.