Saat-Saat Terakhir
Seorang Filosof dalam Penjara
Qur'an
malam yang lintas perlahan
pintu besi yang berlumut
bulan pun menutup mulut
teng
teng
teng
tiga kali lonceng
mengucap doa
dan sunyi
lebih sunyi. sunyi
ditiup angin
1967
Sumber: Horison (Juli, 1968)
Analisis Puisi:
Puisi “Saat-Saat Terakhir Seorang Filosof dalam Penjara” karya Abdul Hadi WM merupakan puisi pendek yang sarat dengan nuansa spiritual, kesunyian, dan perenungan tentang kematian. Dengan pilihan kata yang sederhana namun simbolis, penyair menghadirkan suasana hening yang mendalam menjelang sebuah akhir.
Puisi ini memanfaatkan bunyi, citraan malam, dan simbol religius untuk membangun kesan sakral sekaligus sunyi.
Tema
Tema utama puisi ini adalah kematian dan spiritualitas. Selain itu, puisi ini juga mengangkat tema tentang kesunyian, perenungan hidup, dan kedekatan manusia dengan Tuhan pada saat-saat terakhir kehidupannya.
Makna Tersirat
Makna tersirat dalam puisi ini adalah gambaran tentang akhir kehidupan manusia yang pada akhirnya dihadapkan pada keheningan dan hubungan dengan Tuhan.
“Pintu besi yang berlumut” dapat dimaknai sebagai simbol batas antara kehidupan dan kematian, sedangkan bulan yang “menutup mulut” menunjukkan bahwa pada saat tertentu, kata-kata menjadi tidak lagi penting.
Bunyi lonceng dan doa memperlihatkan adanya ritual spiritual atau penghormatan terhadap seseorang yang sedang menghadapi akhir hidupnya.
Kesunyian dalam puisi ini juga menyiratkan bahwa kematian adalah pengalaman yang sunyi dan personal.
Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi
Amanat yang dapat dipetik dari puisi ini adalah bahwa kehidupan manusia pada akhirnya akan menuju akhir yang sunyi dan penuh perenungan. Oleh karena itu, manusia perlu mendekatkan diri kepada Tuhan dan menyadari keterbatasan hidupnya.
Puisi ini juga mengingatkan bahwa dalam kesunyian dan kematian, manusia tidak lagi dapat bergantung pada dunia, melainkan hanya pada makna spiritual dan doa.
Imaji
Puisi ini memiliki beberapa jenis imaji, antara lain:
- Imaji pendengaran: Terlihat jelas melalui bunyi “teng teng teng” dari lonceng.
- Imaji visual: Tampak pada gambaran malam, pintu besi berlumut, dan bulan.
- Imaji gerak: Hadir dalam gambaran malam yang “lintas perlahan” dan angin yang meniup kesunyian.
Majas
Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
- Majas personifikasi: “Bulan pun menutup mulut” memberi sifat manusia pada bulan.
- Majas simbolik: Qur’an, lonceng, malam, dan pintu besi menjadi simbol spiritualitas dan kematian.
- Majas repetisi: Pengulangan kata “sunyi” memperkuat suasana hening dan kesepian.
- Majas onomatope: Bunyi “teng teng teng” menirukan suara lonceng secara langsung.
Puisi “Saat-Saat Terakhir Seorang Filosof dalam Penjara” karya Abdul Hadi WM merupakan puisi pendek yang kuat dalam membangun suasana spiritual dan kesunyian. Dengan simbol malam, doa, lonceng, dan keheningan, penyair menggambarkan momen menjelang akhir kehidupan manusia secara sederhana namun mendalam. Puisi ini mengajak pembaca merenungkan makna hidup, kematian, dan hubungan manusia dengan Tuhan dalam suasana yang khusyuk dan kontemplatif.
Puisi: Saat-Saat Terakhir
Karya: Abdul Hadi WM
Biodata Abdul Hadi WM:
- Abdul Hadi WM (Abdul Hadi Widji Muthari) lahir di kota Sumenep, Madura, pada tanggal 24 Juni 1946.
- Abdul Hadi WM adalah salah satu tokoh Sastrawan Angkatan '66.
