Puisi: Sambutan (Karya Hoedi Soejanto)

Puisi “Sambutan” karya Hoedi Soejanto mengajak pembaca untuk memahami bahwa empati dan cinta bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan nyata yang ...
Sambutan

bidikkan segenap nasib ke dadaku
sekiranya nasib dunia
berupa jiwa di ujung senjata

bidikkan segenap nasib ke dadaku
sekiranya nasib bangsa
bagai burung patah sayapnya

bidikkan segenap nasibmu yang kelabu
ke dadaku saja
buih putih-putih sepanjang laut
ada di jantungku
berupa cinta.

Sumber: Tonggak 2 (1987)

Analisis Puisi:

Puisi “Sambutan” karya Hoedi Soejanto merupakan ungkapan puitik yang kuat tentang pengorbanan, empati, dan cinta terhadap sesama maupun bangsa. Dengan bahasa yang singkat namun intens, puisi ini menampilkan sosok yang siap menanggung beban dunia dan penderitaan orang lain.

Tema

Tema utama puisi ini adalah pengorbanan dan cinta kasih terhadap sesama serta bangsa. Selain itu, terdapat tema tentang empati mendalam terhadap penderitaan kolektif.

Puisi ini bercerita tentang seseorang yang menawarkan dirinya sebagai tempat menampung segala penderitaan—baik nasib dunia, bangsa, maupun individu.

Ungkapan “bidikkan segenap nasib ke dadaku” menunjukkan kesiapan penyair untuk menerima segala beban, seolah ia menjadi pelindung atau penampung luka-luka kehidupan. Pada bagian akhir, ia menegaskan bahwa semua itu berakar dari cinta yang ada dalam dirinya.

Makna Tersirat

Makna tersirat dalam puisi ini antara lain:
  • Pengorbanan sebagai bentuk cinta tertinggi, di mana seseorang rela menanggung penderitaan orang lain.
  • Kritik terhadap kondisi bangsa atau dunia yang sedang mengalami kesulitan.
  • Kekuatan cinta sebagai penyembuh, yang mampu menampung dan meredakan penderitaan.
  • Peran individu dalam menghadapi masalah kolektif, bahwa satu orang pun bisa memiliki kepedulian besar.

Suasana dalam Puisi

Suasana puisi ini bersifat tegang namun penuh ketulusan. Ada kesan heroik sekaligus emosional, terutama karena keberanian penyair dalam menghadapi penderitaan.

Amanat / Pesan yang Disampaikan Puisi

Pesan yang dapat ditangkap antara lain:
  • Manusia perlu memiliki empati dan kepedulian terhadap sesama.
  • Cinta adalah kekuatan utama dalam menghadapi penderitaan hidup.
  • Penting untuk berani mengambil tanggung jawab, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain dan bangsa.

Imaji

Puisi ini menghadirkan imaji yang kuat dan simbolik, seperti:
  • Imaji visual: “ujung senjata”, “burung patah sayapnya”, “buih putih sepanjang laut”.
  • Imaji suasana: ketegangan, penderitaan, dan ketulusan cinta.
Imaji tersebut memperkuat kesan dramatis dan emosional dalam puisi.

Majas

Beberapa majas yang digunakan dalam puisi ini antara lain:
  • Metafora: “nasib berupa jiwa di ujung senjata”.
  • Simile (perbandingan): “bagai burung patah sayapnya”.
  • Hiperbola: kesiapan menerima “segenap nasib” dunia dan bangsa.
  • Simbolisme: “dada” sebagai tempat menampung penderitaan, “laut” sebagai keluasan cinta.
  • Repetisi: pengulangan frasa “bidikkan segenap nasib ke dadaku”.
Puisi “Sambutan” merupakan pernyataan puitik tentang cinta yang berani dan total. Hoedi Soejanto menghadirkan sosok yang tidak hanya merasakan penderitaan dunia, tetapi juga siap menanggungnya. Puisi ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa empati dan cinta bukan sekadar perasaan, melainkan tindakan nyata yang membutuhkan keberanian.

Puisi: Sambutan
Puisi: Sambutan
Karya: Hoedi Soejanto

Biodata Hoedi Soejanto
  • Hoedi Soejanto (Ejaan yang Disempurnakan Hudi Suyanto) lahir di Salatiga, Jawa Tengah pada bulan Maret 1936.
© Sepenuhnya. All rights reserved.